Ada sesuatu yang menarik tiba-tiba menguak angan, ketika mengingat tempat ini. Tempat berbaurnya beragam karater manusia yang hilir mudik dan lalu lalang mendatangi dan meninggalkannya.
Tak saling kenal tapi selalu ada sapa, entah itu sekedar basa basi atau untuk kepentingan komersil para kenek menawarkan jasa, atau karena kepentingan lainnya. Tempat
yang nyaris tak pernah sepi oleh arus manusia yang datang dan pergi,
berjualan aneka rupa, tempat bercanda para sopir dan kenek saat
mengambil nafas istirahat sambil sesekali bersiul nakal jika melihat
gadis bening berlalu di hadapan mereka. Ada yang bercengkrama menanti bus tiba. Bahkan tak jarang berseliweran peminta-minta.
Tidak sedikit wajah berbau preman ingin unjuk kuasa. Ada
suara sumringah, tawa renyah, ada juga wajah pias seperti putus asa
memikirkan setoran yang semakin tinggi dan belum terkumpul, untuk
setoran hari ini.
Terminal, satu sisi dunia yang nyaris selalu ada di semua sudut kota. Tak
ada protes untuk semua tarif harga, dari harga trayek kendaraan hingga
warung makan dan warung telpon yang bertarif selangit. Selalu saja tempat ini ramai dan riuh. Ada
wajah sumringah dan ramah, ada juga wajah yang keruh menyeramkan,
seolah ingin menerkam, berbaur suara mesin yang tak pernah diam.
Terminal, apapun adanya, adalah tempat beribu manusia mengadu nasib untuk hidupnya. Banyak aturan, tapi lebih banyak pelanggaran. Terminal, bagaimanapun dari sana pernah ada yang tercipta sebuah keindahan yang tak direkayasa. Terminal, tak disangka akhirnya aku jatuh cinta..(hiks)