Selasa, 29 Maret 2016

TERMINAL

Ada sesuatu yang menarik tiba-tiba menguak angan, ketika mengingat tempat ini.  Tempat berbaurnya beragam karater manusia yang hilir mudik dan lalu lalang mendatangi dan meninggalkannya.
Tak saling kenal tapi selalu ada sapa, entah itu sekedar basa basi atau untuk kepentingan komersil para kenek menawarkan jasa, atau karena kepentingan lainnya.  Tempat yang nyaris tak pernah sepi oleh arus manusia yang datang dan pergi, berjualan aneka rupa, tempat bercanda para sopir dan kenek saat mengambil nafas istirahat sambil sesekali bersiul nakal jika melihat gadis bening berlalu di hadapan mereka.  Ada yang bercengkrama menanti bus tiba.  Bahkan tak jarang berseliweran peminta-minta. 
Tidak sedikit wajah berbau preman ingin unjuk kuasa.  Ada suara sumringah, tawa renyah, ada juga wajah pias seperti putus asa memikirkan setoran yang semakin tinggi dan belum terkumpul, untuk setoran hari ini.
Terminal, satu sisi dunia yang nyaris selalu ada di semua sudut kota.  Tak ada protes untuk semua tarif harga, dari harga trayek kendaraan hingga warung makan dan warung telpon yang bertarif selangit.  Selalu saja tempat ini ramai dan riuh.  Ada wajah sumringah dan ramah, ada juga wajah yang keruh menyeramkan, seolah ingin menerkam, berbaur suara mesin yang tak pernah diam.
Terminal, apapun adanya, adalah tempat beribu manusia mengadu nasib untuk hidupnya.  Banyak aturan, tapi lebih banyak pelanggaran.  Terminal, bagaimanapun dari sana pernah ada yang tercipta sebuah keindahan yang tak direkayasa.  Terminal, tak disangka akhirnya aku jatuh cinta..(hiks)

TENTANG RASA

Suatu hari, aku sudah lupa kapan waktunya...tiba-tiba dia menelpon dan mengirimiku sms. Gleg! mataku yang sipit seketika terbelalak ketika melihat nama yang tertera di pengirim sms.  Ternyata dia, orang yang pernah diam-diam kukagumi.
Lalu hari-haripun berjalan sempurna dan indah, menemani dan ditemani, tertawa dan bercanda di sela waktu yang tersisa dari kelelahan bekerja.. Cerita mengalir seperti air...
indah dan menenangkan..
Tapi...seiring waktu ternyata segalanya jadi kerontang dan gersang...ah ....kemarau telah datang...
Mungkin kita harus menerima kenyataan, ada yang berbeda dan tak dapat disatukan...
meski kita pernah berkomitmen dengan jemari sambil berucap 'untuk selamanya' dan kulegalkan dengan anggukan kepala, ahhh..
...sudah saatnya untuk merayu kembali hati ini kembali seperti saat belum bersama..
kuharap kita masih bisa mencari senyum yang renyah dan tawa riang diantara hati yang garing dan tak hangat lagi seperti dulu...