Kamis, 24 Maret 2016

DARI SEPENGGAL KISAH LALU



Dea hampir saja menabrak tubuh tinggi besar di depannya karena terlalu asyik mengamati pajangan boneka yang ada di salah satu etalase.
“Ups,  maaf,”  buru-buru ia minta maaf,  tapi kemudian matanya terbelalak.
“Ivan?!”  mulutnya hampir tepekik.
“Dea…?”  orang itu tak kalah kagetnya,  tapi wajahnya tiba-tiba berbinar.  Sungguh tak di sangkah,  setelah hampir dua tahun tak pernah saling jumpa,  kini keduanya bertemu di tempat mereka pernah selalu bersama.  Memory lama terkuak lagi.
Segalanya bermula sejak kejadian di rumah Pamannya.  Bahkan ia sempat mengalami masa-masa yang sangat menyenangkan,  meski semua harus ia simpan di lubuk hatinya yang terdalam.
Ivan adalah salah seorang manager muda yang baru dari Jakarta dan ditugaskan perusahannya untuk membantu pertambakan di daerah  yang kini sedang di pegang oleh Paman Dea.
Memiliki wajah yang lumayan tampan dengan postur tubuh yang tegap,  selain itu ia sangat ramah dan supel kepada siapa saja.  Ivan selalu mengajak Dea untuk bertukar fikiran bila mereka sedang duduk di teras rumah.
Walau Dea baru saja menjadi mahasiswi tingkat pertama,  tapi dia memiliki wawasan luas dan bias diajak berdiskusi tentang banyak hal,  apalagi Ivan adalah Sarjana Ekonomi.
Diam-diam Dea ternyata mulai menyukai kehadiran orang itu,  sejak ia merasakan Ivan memiliki perhatian kepadanya.  Dan saat-saat yang paling menyenangkan adalah bila Ivan memintanya untuk menemani berbelanja atau sekedar jalan-jalan di Mall.
Sejujurnya ia sangat bahagia dengan semua itu.  Ada sesuatu yang mulai hadir di dalam hatinya,  walau ia sendiri tak berani memastikan apakah hal itu juga dirasakan oleh Ivan.  Meskipun dari sikapnya,  Ivan sangat perhatian padanya.
Sampai akhirnya ia menyadari,  bahwa selain dirinya,  ada orang lain yang diam-diam mengharapkan Ivan.  Dia adalah Neni,  anak Pamannya yang sedang berlibur kuliah dari Jakarta dan sekaligus juga sepupunya.
Neni bahkan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya terhadap Ivan,  tak jarang ia menceritakan hal itu kepada Dea.  Sejak itu ia memilih untuk mengalah dan berusaha untuk meninggalkan kebersamaan mereka untuk menjaga perasaan Neni. 
Ia mulai mencoba menjaga jarak terhadap Ivan.  Atau ia sering menolak bila Ivan mengajaknya seperti dulu.  Ia hanya takut bila semua perasaannya terlanjur jauh,  karena ia yakin pasti akan ada yang kecewa.
Dea benar-benar membuat jarak,  menjauhi Ivan.  Tak jarang ia mencari bahan pembicaraan yang tidak menarik di depan Ivan,  semua itu dilakukan dengan sengaja dan tentu saja membuatnya merasa tak nyaman,  tetapi tetap dilakukannya.
Tak ada teman bercerita,  sakit rasanya,  namun ia mencoba untuk tetap kuat dan bisa senyum menghadapi semuanya.  Ia tak menginginkan adanya sengketa perasaan antara dia dan sepupunya.  Ia bahkan tahu kalau Ivan nampak bingung dengan perubahan yang dilakukannya,  namun ia pura-pura tak peduli.
Setidaknya usaha yang dilakukannya tak sia-sia.  Neni berhasil menjadi dekat dengan Ivan.  Bahkan Neni dengan bersemangat menceritakan apa yang dilakukan dengan Ivan kepada Dea.  Dea hanya bis atersenyum getir mendengarnya,  dan ia lalu berusaha mencari kesibukan lain agar ia bisa melupakan semuanya.  Bahkan saat takdir membuat Ivan harus pergi ke daerah dimana ia harus pergi untuk bertugas,  semua terjadi tanpa salam perpisahan dari mereka.
***
Lima bulan kemudian Ivan muncul kembali.  Entah kenapa tiba-tiba hatinya hanya bisa cemburu saat ia mendengar dia pergi bersama Neni ke Mall,  tempat dimana mereka dulu selalu bersama.  Padahal dulu ia telah berhasil melupakannya.  Apakah itu artinya ia telah gagal untuk melupakan Ivan?  Ia sendiri tak mengerti bahkan sampai Ivan pergi lagi..
“Kapan kamu datang?”  Dea mencoba menutupi kegugupannya yang tiba-tiba.
“Aku sering datang.  Cuma aku jarang mampir,  karena aku terlalu sibuk.  Bagaimana kalau kita cerita banyak di cafe?”  tawar Ivan kemudian yang di sambut anggukan setuju Dea.  Ivan keliahatan semakin dewasa dan menarik,  meski itu semua tak mungkin untuk di katakannya secara langsung.  Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengadakan perubahan.  Mata Dea menangkap cincin rotan yang dikenakannya.  Hatinya merasa terlilit tiba-tiba.  Ternyata setelah sekian lama,  ia masih gagal untuk menekan rasa cemburu di hatinya,  padahal semua itu tak ada gunanya.
“Mau pesen apa?”  pertanyaan Ivan membuat lamunannya seketika bubar.
“Jus jeruk saja.”  Lalu Ivan memesan dua gelas jus jeruk.
“Kamu kurusan sekarang Dea,”  dara manis itu hanya melongo,  ucapan Ivan barusan terdengar sedikit aneh.
“Terima kasih,”  sambil ia menyeruput jus kesukaannya itu.
“Kok terima kasih ?” alis Ivan terangkat.
“Atau kamu mau selera makanku sama seperti waktu di lesehan tempo hari?”  tantang Dea bercanda.
“Boleh,  siapa takut?  Tapi apa masih boleh?”  goda Ivan kemudian.  Suasana ceria yang dulu perna ada seakan kembali lagi.
“Boleh?  Maksud kamu?”  Dea tak mengerti.
“Kalau dulu mungkin kita bisa bebas kemana saja,  sekarang tentu saja aku harus tahu diri kan?  Paling tidak kamu harus ijin sama suami kamu,  iya kan?”  Dea tersedak tiba-tiba.
“Kenapa Dea?”
“Ah,  enggak,  mungkin ada yang ngerasani aku,  makanya kesedak,”  ia pura-pura mangalihkan pembicaraan.  Ucapan Ivan barusan benar-benar mengejutkannya.  Suami?  Siapa yang menikah?  Kapan?
“Kamu ingat,  aku hampir tak percaya waktu kita ketemu sepuluh bulan lalu kamu gemuk bener.  Mungkin waktu itu kamu lagi bulan madu,”  ujar Ivan kemudian.
Sekarang Dea ingat kalau ia pernah bertemu dengan Ivan saat dia memang memiliki bobot yang mengerikan,  tak lama setelah kepergian Ivan.  Dan tiba-tiba beberapa bulan kemudian Ivan muncul.  Mungkin ia Cuma iseng bertanya tentang pernikahannya,  tapi Dea dengan enteng menjawab telah menikah.  Meski tak menyangka kalau Ivan akan mempercayainya,  padahal ia cuma bercanda.
“Mungkin kamu benar,”  jawabnya datar  seolah membenarkan ucapan Ivan.
“Kamu sendiri?”  Dea balas bertanya.  Ivan hanya diam dan tersenyum sambil mengangkat telapak tangannya yang sebelah kiri.
“Aku sudah tau,”  Dea menyelanya.
“Kenapa nggak langsung nikah?  Pertunangan itu hanya membuang-buang waktu saja.”
“Sebenarnya cuman….”  Kalimatnya menggantung.  Matanya menatap lurus kearah Dea,  dan tentu saja hal itu membuat ia salah tingkah,  apalagi Ivan terus menatap dirinya.
“Seandainya aku bisa cepat memutuskan seperti kamu,  mungkin aku sudah punya teman,  apalagi tempat tugasku sekarang sepi banget,”  Ivan mencoba bercanda.  Kali ini Dea tak bisa menahan tawanya.
“Tapi sayang,”  lanjutnya kemudian,  “Aku terlanjur memutuskan sesuatu.”
“Maksud kamu?”  Dea melihat ada yang tersembunyi dalam senyumnya.
“Apakah dia menghianatimu?”  Ivan menggeleng.
“Cincin ini,  hanya symbol saja.  Aku sengaja mengenakannya karena capek dikomentari orang sebab belum menikah sampai sekarang.”
Jadi,  Ivan benar-benar belum menikah ataupun bertunangan?  Dea tak tahu,  apakah ini kabar buruk atau baik untuknya.  Yang pasti penjelasan itu membuat ia merasakan sesuatu yang lain di hatinya.
“Kamu tau,  semua orang heran aku belum punya pasangan padahal aku sudah cukup mapan.  Nah,  pake aja ini supaya mereka tak banyak Tanya ,  beres kan?”  gayanya nampak lucu membuat Dea kembali terbahak.
“Memang semestinya ini sudah ada yang make,  tapi batal.  Dia sudah menikah.”  Ivan nampak terkenang sesuatu sambil memutar-mutar cincin di jarinya.
“Kamu dikhianati?”
“Tak ada yang menghianatiku.  Mungkin aku salah mengerti saja dengan dia,”  Ivan tersenyum sumbang. 
Memang sakit Ivan bila kita harus merelakan orang yang kita sayangi bersama orang lain,  bisik hati Dea.
“Dia pacar kamu yang lama?”  Tanya Dea hati-hati.  Ia masih bisa mengingat kisah Ivan yang pernah diceritakannya saat dia baru beberapa hari kenal dengan Dea.
“Dia orang kota ini,”  lanjutnya kemudian namun cukup mengejutkan Dea.  Neni?  Betulkah yang dimaksud itu adalah Neni,  sepupunya?
“Maksud kamu Neni?”  Dea mencoba menebak,  tapi Ivan tak bereaksi.
“Kamu salah Van,  dia masih sendiri sampai sekarang,”  wajah Dea berbinar memberi kabar baik itu.  Ini adalah saat tepat untuk menyampaikan semua yang sebenarnya.  Meskipun dirinya tak tahu pasti apa yang terjadi terakhir di antara mereka.
Mungkin berita pertunangan Neni waktu itu penyebab segalanya,  walau akhirnya semua batal karena Neni tak menginginkannya.
“Aku punya alamatnya,  dia sekarang masih di Jakarta bersama kakaknya.”  Tangan Dea sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.  Saat ia menyerahkan kartu nama milik Neni kepada Ivan,  ia sedikit kikuk karena baru disadarinya kalau Ivan sedari tadi menatap dirinya sedemikian rupa.  Sungguh mata itu terlalu sulit untuk dilupakannya,  tapi ia mencoba untuk tenang.
“Kamu pikir aku bohong?  Nani belum menikah dan sekarang sudah bekerja di salah satu bank swasta di sana setelah kelar kuliahnya,”  Dea tetap mencoba untuk meyakinkannya.
“Nggak ada gunanya lagi Dea,”  ujar Ivan tanpa ekspresi.
“Maksud kamu?”  Dea tak mengerti,  padahal ia sungguh-sungguhh ingin membantunya.
“Aku menyesal dengan keputusanmu Van.  Mungkin kamu sempat berfikir,  kalau dia punya niat untuk mengecewakanmu,  itu tidak benar.  Neni tak pernah menerima pertunangan seperti yang pernah kau dengar.”
“Jadi kau pikir semua itu karena dia?”  Ivan menatap tepat ke manik matanya.  Tiba-tiba Dea merasa ada tekanan pada suara Ivan,  membuat ia malu karena menyadari dirinya yang sok tahu segalanya.
“Kamu benar Van.  Yang lebih banyak tahu Neni adalah kamu,  tapi paling tidak aku juga tahu kalau dia tak akan meninggalkanmu.”
“Kamulah sebenarnya yang tidak mengerti Dea.  Meski ada hubungannya dengan Neni,  bukan berarti dialah yang menjadi penyebab aku begini.  Antara aku dan dia sebenarnya tak pernah ada apa-apa,”  tegasnya lagi. Kini, alis Dea yang terangkat, bingung.
“Jadi?”
“Sudahlah,  tak ada gunanya.  Eh ngomong-ngmong kamu banyak belanjaan ya?”  Ivan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“He-eh.”  Dea mengerti kalau Ivan tak mau lagi meneruskan obrolan tadi.
“Boleh kan aku beli sesuatu buat kenang-kenangan?”
“Buat siapa?”
“Tentu saja buat makhluk mungil yang nanti bakal memakai baju itu,”  tangannya menunjuk sebuah pakaian kecil di dalam tas belanjaan.  Dea hanya tersenyum mengangguk.
“Terserah kamu deh.”
“Yuk kita cari di bawah.”
Mall ini semakin ramai dengan pengunjung,  apalagi bila sore hari seperti itu.
“Mama Dea!”  tiba-tiba dari salah satu sudut terdengar ada suara anak kecil memanggil nama Dea.  Ivan langsung salah tingkah.
“Ivan,  ini mas Budi,  dan ini Teja.  Mas,  ini teman lama aku,”  Dea lalu memperkenalkan keduanya.
“Maaf,  saya…”
“Ah nggak pa-pa,”  ucapan Ivan langsung terpotong oleh perkataan mas Budi yang melihat kegelisahan yang jelas sekali pada wajah Ivan.
“Ada apa ini,  kok rame?”  tak lama berselang,  muncul pula seorang perempuan muda diantara mereka.
“Dea,  sudah dapat yang Mbak cari?”
“Sudah Mbak.  O iya,  ini Kakak saya,  mbak Yani.  Mbak,  ini Ivan teman lama aku,”  mba Yani lalu menyalami ramah Ivan.
“Papa gimana sih,  Mama ditinggal sendiri.  Di sana tadi ada baju yang kita cari buat Teja,  eh kalian malah hilang,”  semua tersenyum mendengar omelan mbak Yani yang terdengar agak lucu.  Ivan terkesiap,  jadi bukan suami Dea ? Dan anak itu….
“Ayo buruan,  nanti keduluan orang lagi.”
“Maaf dik Ivan,  mas dan mbak ke sana sebentar ya?”
“Iya mbak.  Silahkan,”  Ivan betul-betul terpana menyaksikan semua itu dan sekarang ia mengerti semuanya.
“Kok bengong? Katanya mau cari baju.”
“Eh,  iya,”  Ivan seperti tersadar.
“Jadi yang tadi bukan suami kamu Dea?”  Ivan melanjutkan lagi,  disambut dengan Dea yang hanya tersenyum tipis.
“Bukan.   Itu suami Mbakku yang pertama,  dan Teja adalah anak pertama mereka sekaligus cucu pertama dalam keluargaku.  Lucu memang,  semua dipanggil Mama dan Papa oleh dia.”
“Suami kamu?”  Kini giliran  tawa Dea pecah seketika.
“Ternyata dari tadi kamu masih memikirkannya.  Oke aku akan jujur sama kamu.  Aku sebenarnya belum pernah menikah,  waktu itu aku cuma bercanda.  Lagipula aku kan masih kuliah masa kamu percaya.”
“Dea?!”  Ivan tiba-tiba memegang pergelangannya,  membuat langakh mereka terhenti.  Tentu saja Dea merasa terkejut karenanya.
“Jadi kamu…?”
“Kenapa, ada yang aneh?”  Ivan terus menatap mata Dea sampai gadis itu jadi keki.
“Kamu kenapa sih Van,  kok jadi aneh banget,”  Dea menatap balik mata Ivan yang masih melototinya,  tapi cuma sebentar karena masih tak mampu menatap mata Ivan begitu lama.  Ia takut terpesona kembali dengan mata itu kemudian menghempaskannya pada kekecewaan lagi.
“Ayok ah,  nanti Mbakku nyari,”  ia menarik tangannya sehingga terlepas dari pegangan Ivan.
“Tunggu Dea!”  tangan Ivan kembali menahannya.
“Sekarang aku mengerti,  kalau aku tak salah,”  Ivan terhenti sebelum melanjutkan ucapannya.
“Dea mengertilah,  sebenarnya gadis yang aku maksud itu adalah kamu sendiri.”  Deg!  Jantungnya berdetak cepat.  Brakk!!  Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara kaca yang pecah.  Ternyata tas belanjaan yang dipegang Dea terjatuh tanpa sengaja dari tangannya.
“Aduh,  ini pasti punya mba Yani.”  Dea gugup.  Ia tahu suara itu berasal dari vas bunga yang baru saja dibeli Mbaknya.  Ia segera memeriksa tas belanjaan,  tapi gerakan Ivan lebih cepat menahannya.
“Dea,  dengarkan aku dulu.  Kamu tidak main-main kan?  Aku tidak salah kan menunggu?”  Dea semakin gugup dan matanya berkaca.  Sehingga tak berani menatapnya.
“Dea jangan lakukan lagi.  Aku tahu,  kaulah yang mengatur semua ini,  sejak dulu.  Aku dekat dengan Neni pun karena kau yang melakukannya,  padahal sedikitpun aku tak memiliki perasaan padanya.”  Dea hanya terdiam.
“Kamu tahu,  dugaanmu salah Dea.  Saat aku datang setelah kepergianku yang pertama,  aku mendengar kau telah menikah.  Kenapa kau membohongi aku Dea?”  gadis itu tetap tak bersuara,  ia tak mungkin menjelaskannya.
“Dea,  kamu mau kan belajar untuk menerimaku?”  ujarnya pelan penuh pengharapan.  Tidak,  aku tak perlu belajar untuk menerimamu Ivan,  karena aku telah lama menerima kehadiranmu,  hanya saja……
“Atau,  semua ini memang keinginanmu ?”  Dea tak tahu harus berkata apa.  Jauh di lubuk hatinya ia masih menyimpan suatu perasaan terhadap Ivan,  dan pengakuannya barusan itu sangat membahagiakannya,  tapi ia masih belum mampu untuk menjawabnya,  ia masih ragu.
“Aku hanya masih belum yakin,”  suaranya sedikit bergetar,  seluruh tubuhnya tiba-tiba berkeringat.
“Justru akulah yang seharusnya merasa tak yakin,  karena itu please Dea,”  mata Ivan tak berkedip mamandang tepat pada manik mata Dea.  Sesaat kemudian Dea mulai bisa menguasai perasaannya dan di bibirnya mengembang sebuah senyuman.
“Terima kasih Dea,  aku sudah tahu jawabnya,”   Ivan meraih jemari tangan Dea lembut.
“Mama Dea!  Tasnya kok di bawah?”  suara Teja yang tiba-tiba sudah berada sangat dekat mengejutkan mereka.  Wajahnya yang tak mengerti itu semakin nampak lugu dan lucu.  Belum lagi ia membereskan barang yang dibawanya,  mbak Yani sudah diantara mereka.
“Dea?!”  sebelum mbaknya ngomel,  ia buru-buru mendekatinya.  “Mbak, aku….”
“Kamu harus menjelaskan semuanya pada mbak,”  Mbak Yani  berbisik kepada Dea.
“Iya Mbak,  nanti aku ganti,  tapi jangan keras-keras,”  Dea mengucapkannya sambil berbisik pula.  Matanya melirik ke arah Ivan yang nampak asyik ngobrol dengan Papa Teja.
“Bukan,  bukan itu maksud Mbak.  Jangan bilang bahwa kalian hanya teman biasa.  Kamu juga harus menjelaskan,  kenapa selama ini tak pernah bilang kalau orang yang kamu sembunyikan ternyata sebagus itu.”  Dea terpana,  ternyata mbak Yani tidak marah.  Dari tadi dia hanya fikir Mbaknya marah soal vas bunga itu. Tiba-tiba Ia merasa wajahnya memerah mendengarkan ucapan Mbaknya.
Semoga hari ini bukanlah sekedar mimpi,  doanya dalam hati.  Hatinya terasa riang dan ringan mengikuti langkah mbak Yani yang mulai sibuk memilih vas bunga.  Sepenggal kisah lalu yang dulu penuh duka sekarang telah terjawab.  Dan Mall Ratu selalu saja menjadi saksi semua yang dialamainya,  seperti kini saat ia bahagia.
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar