Dea hampir saja menabrak tubuh tinggi
besar di depannya karena terlalu asyik mengamati pajangan boneka yang ada di
salah satu etalase.
“Ups,
maaf,” buru-buru ia minta
maaf, tapi kemudian matanya terbelalak.
“Ivan?!” mulutnya hampir tepekik.
“Dea…?” orang itu tak kalah kagetnya, tapi wajahnya tiba-tiba berbinar. Sungguh tak di sangkah, setelah hampir dua tahun tak pernah saling
jumpa, kini keduanya bertemu di tempat
mereka pernah selalu bersama. Memory
lama terkuak lagi.
Segalanya bermula sejak kejadian di
rumah Pamannya. Bahkan ia sempat
mengalami masa-masa yang sangat menyenangkan,
meski semua harus ia simpan di lubuk hatinya yang terdalam.
Ivan adalah salah seorang manager
muda yang baru dari Jakarta dan ditugaskan perusahannya untuk membantu
pertambakan di daerah yang kini sedang
di pegang oleh Paman Dea.
Memiliki wajah yang lumayan tampan
dengan postur tubuh yang tegap, selain
itu ia sangat ramah dan supel kepada siapa saja. Ivan selalu mengajak Dea untuk bertukar
fikiran bila mereka sedang duduk di teras rumah.
Walau Dea baru saja menjadi mahasiswi
tingkat pertama, tapi dia memiliki
wawasan luas dan bias diajak berdiskusi tentang banyak hal, apalagi Ivan adalah Sarjana Ekonomi.
Diam-diam Dea ternyata mulai menyukai
kehadiran orang itu, sejak ia merasakan
Ivan memiliki perhatian kepadanya. Dan
saat-saat yang paling menyenangkan adalah bila Ivan memintanya untuk menemani
berbelanja atau sekedar jalan-jalan di Mall.
Sejujurnya ia sangat bahagia dengan
semua itu. Ada sesuatu yang mulai hadir
di dalam hatinya, walau ia sendiri tak
berani memastikan apakah hal itu juga dirasakan oleh Ivan. Meskipun dari sikapnya, Ivan sangat perhatian padanya.
Sampai akhirnya ia menyadari, bahwa selain dirinya, ada orang lain yang diam-diam mengharapkan
Ivan. Dia adalah Neni, anak Pamannya yang sedang berlibur kuliah
dari Jakarta dan sekaligus juga sepupunya.
Neni bahkan terang-terangan
menunjukkan rasa sukanya terhadap Ivan,
tak jarang ia menceritakan hal itu kepada Dea. Sejak itu ia memilih untuk mengalah dan
berusaha untuk meninggalkan kebersamaan mereka untuk menjaga perasaan
Neni.
Ia mulai mencoba menjaga jarak
terhadap Ivan. Atau ia sering menolak
bila Ivan mengajaknya seperti dulu. Ia
hanya takut bila semua perasaannya terlanjur jauh, karena ia yakin pasti akan ada yang kecewa.
Dea benar-benar membuat jarak, menjauhi Ivan. Tak jarang ia mencari bahan pembicaraan yang
tidak menarik di depan Ivan, semua itu
dilakukan dengan sengaja dan tentu saja membuatnya merasa tak nyaman, tetapi tetap dilakukannya.
Tak ada teman bercerita, sakit rasanya, namun ia mencoba untuk tetap kuat dan bisa
senyum menghadapi semuanya. Ia tak menginginkan
adanya sengketa perasaan antara dia dan sepupunya. Ia bahkan tahu kalau Ivan nampak bingung
dengan perubahan yang dilakukannya,
namun ia pura-pura tak peduli.
Setidaknya usaha yang dilakukannya
tak sia-sia. Neni berhasil menjadi dekat
dengan Ivan. Bahkan Neni dengan
bersemangat menceritakan apa yang dilakukan dengan Ivan kepada Dea. Dea hanya bis atersenyum getir
mendengarnya, dan ia lalu berusaha
mencari kesibukan lain agar ia bisa melupakan semuanya. Bahkan saat takdir membuat Ivan harus pergi
ke daerah dimana ia harus pergi untuk bertugas,
semua terjadi tanpa salam perpisahan dari mereka.
***
Lima bulan kemudian Ivan muncul
kembali. Entah kenapa tiba-tiba hatinya
hanya bisa cemburu saat ia mendengar dia pergi bersama Neni ke Mall, tempat dimana mereka dulu selalu
bersama. Padahal dulu ia telah berhasil
melupakannya. Apakah itu artinya ia
telah gagal untuk melupakan Ivan? Ia
sendiri tak mengerti bahkan sampai Ivan pergi lagi..
“Kapan kamu datang?” Dea mencoba menutupi kegugupannya yang
tiba-tiba.
“Aku sering datang. Cuma aku jarang mampir, karena aku terlalu sibuk. Bagaimana kalau kita cerita banyak di
cafe?” tawar Ivan kemudian yang di
sambut anggukan setuju Dea. Ivan keliahatan
semakin dewasa dan menarik, meski itu
semua tak mungkin untuk di katakannya secara langsung. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk
mengadakan perubahan. Mata Dea menangkap
cincin rotan yang dikenakannya. Hatinya
merasa terlilit tiba-tiba. Ternyata
setelah sekian lama, ia masih gagal
untuk menekan rasa cemburu di hatinya,
padahal semua itu tak ada gunanya.
“Mau pesen apa?” pertanyaan Ivan membuat lamunannya seketika
bubar.
“Jus jeruk saja.” Lalu Ivan memesan dua gelas jus jeruk.
“Kamu kurusan sekarang Dea,” dara manis itu hanya melongo, ucapan Ivan barusan terdengar sedikit aneh.
“Terima kasih,” sambil ia menyeruput jus kesukaannya itu.
“Kok terima kasih ?” alis Ivan
terangkat.
“Atau kamu mau selera makanku sama
seperti waktu di lesehan tempo hari?”
tantang Dea bercanda.
“Boleh, siapa takut?
Tapi apa masih boleh?” goda Ivan
kemudian. Suasana ceria yang dulu perna
ada seakan kembali lagi.
“Boleh? Maksud kamu?”
Dea tak mengerti.
“Kalau dulu mungkin kita bisa bebas
kemana saja, sekarang tentu saja aku
harus tahu diri kan? Paling tidak kamu
harus ijin sama suami kamu, iya kan?” Dea tersedak tiba-tiba.
“Kenapa Dea?”
“Ah,
enggak, mungkin ada yang ngerasani aku, makanya kesedak,” ia pura-pura mangalihkan pembicaraan. Ucapan Ivan barusan benar-benar
mengejutkannya. Suami? Siapa yang menikah? Kapan?
“Kamu ingat, aku hampir tak percaya waktu kita ketemu
sepuluh bulan lalu kamu gemuk bener.
Mungkin waktu itu kamu lagi bulan madu,”
ujar Ivan kemudian.
Sekarang Dea ingat kalau ia pernah
bertemu dengan Ivan saat dia memang memiliki bobot yang mengerikan, tak lama setelah kepergian Ivan. Dan tiba-tiba beberapa bulan kemudian Ivan
muncul. Mungkin ia Cuma iseng bertanya
tentang pernikahannya, tapi Dea dengan
enteng menjawab telah menikah. Meski tak
menyangka kalau Ivan akan mempercayainya,
padahal ia cuma bercanda.
“Mungkin kamu benar,” jawabnya datar seolah membenarkan ucapan Ivan.
“Kamu sendiri?” Dea balas bertanya. Ivan hanya diam dan tersenyum sambil
mengangkat telapak tangannya yang sebelah kiri.
“Aku sudah tau,” Dea menyelanya.
“Kenapa nggak langsung nikah? Pertunangan itu hanya membuang-buang waktu
saja.”
“Sebenarnya cuman….” Kalimatnya menggantung. Matanya menatap lurus kearah Dea, dan tentu saja hal itu membuat ia salah
tingkah, apalagi Ivan terus menatap
dirinya.
“Seandainya aku bisa cepat memutuskan
seperti kamu, mungkin aku sudah punya
teman, apalagi tempat tugasku sekarang
sepi banget,” Ivan mencoba
bercanda. Kali ini Dea tak bisa menahan
tawanya.
“Tapi sayang,” lanjutnya kemudian, “Aku terlanjur memutuskan sesuatu.”
“Maksud kamu?” Dea melihat ada yang tersembunyi dalam
senyumnya.
“Apakah dia menghianatimu?” Ivan menggeleng.
“Cincin ini, hanya symbol saja. Aku sengaja mengenakannya karena capek
dikomentari orang sebab belum menikah sampai sekarang.”
Jadi,
Ivan benar-benar belum menikah ataupun bertunangan? Dea tak tahu,
apakah ini kabar buruk atau baik untuknya. Yang pasti penjelasan itu membuat ia
merasakan sesuatu yang lain di hatinya.
“Kamu tau, semua orang heran aku belum punya pasangan
padahal aku sudah cukup mapan. Nah, pake aja ini supaya mereka tak banyak Tanya
, beres kan?” gayanya nampak lucu membuat Dea kembali
terbahak.
“Memang semestinya ini sudah ada yang
make, tapi batal. Dia sudah menikah.” Ivan nampak terkenang sesuatu sambil
memutar-mutar cincin di jarinya.
“Kamu dikhianati?”
“Tak ada yang menghianatiku. Mungkin aku salah mengerti saja dengan
dia,” Ivan tersenyum sumbang.
Memang sakit Ivan bila kita harus
merelakan orang yang kita sayangi bersama orang lain, bisik hati Dea.
“Dia pacar kamu yang lama?” Tanya Dea hati-hati. Ia masih bisa mengingat kisah Ivan yang
pernah diceritakannya saat dia baru beberapa hari kenal dengan Dea.
“Dia orang kota ini,” lanjutnya kemudian namun cukup mengejutkan
Dea. Neni? Betulkah yang dimaksud itu adalah Neni, sepupunya?
“Maksud kamu Neni?” Dea mencoba menebak, tapi Ivan tak bereaksi.
“Kamu salah Van, dia masih sendiri sampai sekarang,” wajah Dea berbinar memberi kabar baik
itu. Ini adalah saat tepat untuk
menyampaikan semua yang sebenarnya.
Meskipun dirinya tak tahu pasti apa yang terjadi terakhir di antara mereka.
Mungkin berita pertunangan Neni waktu
itu penyebab segalanya, walau akhirnya
semua batal karena Neni tak menginginkannya.
“Aku punya alamatnya, dia sekarang masih di Jakarta bersama
kakaknya.” Tangan Dea sibuk mencari-cari
sesuatu di dalam tasnya. Saat ia
menyerahkan kartu nama milik Neni kepada Ivan,
ia sedikit kikuk karena baru disadarinya kalau Ivan sedari tadi menatap
dirinya sedemikian rupa. Sungguh mata
itu terlalu sulit untuk dilupakannya,
tapi ia mencoba untuk tenang.
“Kamu pikir aku bohong? Nani belum menikah dan sekarang sudah bekerja
di salah satu bank swasta di sana setelah kelar kuliahnya,” Dea tetap mencoba untuk meyakinkannya.
“Nggak ada gunanya lagi Dea,” ujar Ivan tanpa ekspresi.
“Maksud kamu?” Dea tak mengerti, padahal ia sungguh-sungguhh ingin
membantunya.
“Aku menyesal dengan keputusanmu
Van. Mungkin kamu sempat berfikir, kalau dia punya niat untuk
mengecewakanmu, itu tidak benar. Neni tak pernah menerima pertunangan seperti
yang pernah kau dengar.”
“Jadi kau pikir semua itu karena
dia?” Ivan menatap tepat ke manik
matanya. Tiba-tiba Dea merasa ada
tekanan pada suara Ivan, membuat ia malu
karena menyadari dirinya yang sok tahu segalanya.
“Kamu benar Van. Yang lebih banyak tahu Neni adalah kamu, tapi paling tidak aku juga tahu kalau dia tak
akan meninggalkanmu.”
“Kamulah sebenarnya yang tidak
mengerti Dea. Meski ada hubungannya
dengan Neni, bukan berarti dialah yang
menjadi penyebab aku begini. Antara aku
dan dia sebenarnya tak pernah ada apa-apa,”
tegasnya lagi. Kini, alis Dea yang terangkat, bingung.
“Jadi?”
“Sudahlah, tak ada gunanya. Eh ngomong-ngmong kamu banyak belanjaan
ya?” Ivan mencoba mengalihkan
pembicaraan.
“He-eh.” Dea mengerti kalau Ivan tak mau lagi
meneruskan obrolan tadi.
“Boleh kan aku beli sesuatu buat
kenang-kenangan?”
“Buat siapa?”
“Tentu saja buat makhluk mungil yang
nanti bakal memakai baju itu,” tangannya
menunjuk sebuah pakaian kecil di dalam tas belanjaan. Dea hanya tersenyum mengangguk.
“Terserah kamu deh.”
“Yuk kita cari di bawah.”
Mall ini semakin ramai dengan
pengunjung, apalagi bila sore hari
seperti itu.
“Mama Dea!” tiba-tiba dari salah satu sudut terdengar ada
suara anak kecil memanggil nama Dea.
Ivan langsung salah tingkah.
“Ivan, ini mas Budi,
dan ini Teja. Mas, ini teman lama aku,” Dea lalu memperkenalkan keduanya.
“Maaf, saya…”
“Ah nggak pa-pa,” ucapan Ivan langsung terpotong oleh perkataan
mas Budi yang melihat kegelisahan yang jelas sekali pada wajah Ivan.
“Ada apa ini, kok rame?”
tak lama berselang, muncul pula
seorang perempuan muda diantara mereka.
“Dea,
sudah dapat yang Mbak cari?”
“Sudah Mbak. O iya,
ini Kakak saya, mbak Yani. Mbak,
ini Ivan teman lama aku,” mba
Yani lalu menyalami ramah Ivan.
“Papa gimana sih, Mama ditinggal sendiri. Di sana tadi ada baju yang kita cari buat Teja, eh kalian malah hilang,” semua tersenyum mendengar omelan mbak Yani
yang terdengar agak lucu. Ivan
terkesiap, jadi bukan suami Dea ? Dan
anak itu….
“Ayo buruan, nanti keduluan orang lagi.”
“Maaf dik Ivan, mas dan mbak ke sana sebentar ya?”
“Iya mbak. Silahkan,”
Ivan betul-betul terpana menyaksikan semua itu dan sekarang ia mengerti
semuanya.
“Kok bengong? Katanya mau cari baju.”
“Eh,
iya,” Ivan seperti tersadar.
“Jadi yang tadi bukan suami kamu
Dea?” Ivan melanjutkan lagi, disambut dengan Dea yang hanya tersenyum
tipis.
“Bukan. Itu suami Mbakku yang pertama, dan Teja adalah anak pertama mereka sekaligus
cucu pertama dalam keluargaku. Lucu
memang, semua dipanggil Mama dan Papa
oleh dia.”
“Suami kamu?” Kini giliran tawa Dea pecah seketika.
“Ternyata dari tadi kamu masih
memikirkannya. Oke aku akan jujur sama
kamu. Aku sebenarnya belum pernah
menikah, waktu itu aku cuma
bercanda. Lagipula aku kan masih kuliah
masa kamu percaya.”
“Dea?!” Ivan tiba-tiba memegang pergelangannya, membuat langakh mereka terhenti. Tentu saja Dea merasa terkejut karenanya.
“Jadi kamu…?”
“Kenapa, ada yang aneh?” Ivan terus menatap mata Dea sampai gadis itu
jadi keki.
“Kamu kenapa sih Van, kok jadi aneh banget,” Dea menatap balik mata Ivan yang masih
melototinya, tapi cuma sebentar karena
masih tak mampu menatap mata Ivan begitu lama.
Ia takut terpesona kembali dengan mata itu kemudian menghempaskannya
pada kekecewaan lagi.
“Ayok ah, nanti Mbakku nyari,” ia menarik tangannya sehingga terlepas dari
pegangan Ivan.
“Tunggu Dea!” tangan Ivan kembali menahannya.
“Sekarang aku mengerti, kalau aku tak salah,” Ivan terhenti sebelum melanjutkan ucapannya.
“Dea mengertilah, sebenarnya gadis yang aku maksud itu adalah
kamu sendiri.” Deg! Jantungnya berdetak cepat. Brakk!!
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara kaca yang pecah. Ternyata tas belanjaan yang dipegang Dea
terjatuh tanpa sengaja dari tangannya.
“Aduh, ini pasti punya mba Yani.” Dea gugup.
Ia tahu suara itu berasal dari vas bunga yang baru saja dibeli Mbaknya. Ia segera memeriksa tas belanjaan, tapi gerakan Ivan lebih cepat menahannya.
“Dea,
dengarkan aku dulu. Kamu tidak
main-main kan? Aku tidak salah kan
menunggu?” Dea semakin gugup dan matanya
berkaca. Sehingga tak berani menatapnya.
“Dea jangan lakukan lagi. Aku tahu,
kaulah yang mengatur semua ini,
sejak dulu. Aku dekat dengan Neni
pun karena kau yang melakukannya,
padahal sedikitpun aku tak memiliki perasaan padanya.” Dea hanya terdiam.
“Kamu tahu, dugaanmu salah Dea. Saat aku datang setelah kepergianku yang
pertama, aku mendengar kau telah
menikah. Kenapa kau membohongi aku
Dea?” gadis itu tetap tak bersuara, ia tak mungkin menjelaskannya.
“Dea,
kamu mau kan belajar untuk menerimaku?”
ujarnya pelan penuh pengharapan.
Tidak, aku tak perlu belajar
untuk menerimamu Ivan, karena aku telah
lama menerima kehadiranmu, hanya saja……
“Atau, semua ini memang keinginanmu ?” Dea tak tahu harus berkata apa. Jauh di lubuk hatinya ia masih menyimpan
suatu perasaan terhadap Ivan, dan
pengakuannya barusan itu sangat membahagiakannya, tapi ia masih belum mampu untuk menjawabnya, ia masih ragu.
“Aku hanya masih belum yakin,” suaranya sedikit bergetar, seluruh tubuhnya tiba-tiba berkeringat.
“Justru akulah yang seharusnya merasa
tak yakin, karena itu please Dea,” mata Ivan tak berkedip mamandang tepat pada
manik mata Dea. Sesaat kemudian Dea
mulai bisa menguasai perasaannya dan di bibirnya mengembang sebuah senyuman.
“Terima kasih Dea, aku sudah tahu jawabnya,” Ivan meraih jemari tangan Dea lembut.
“Mama Dea! Tasnya kok di bawah?” suara Teja yang tiba-tiba sudah berada sangat
dekat mengejutkan mereka. Wajahnya yang
tak mengerti itu semakin nampak lugu dan lucu.
Belum lagi ia membereskan barang yang dibawanya, mbak Yani sudah diantara mereka.
“Dea?!” sebelum mbaknya ngomel, ia buru-buru mendekatinya. “Mbak, aku….”
“Kamu harus menjelaskan semuanya pada
mbak,” Mbak Yani berbisik kepada Dea.
“Iya Mbak, nanti aku ganti, tapi jangan keras-keras,” Dea mengucapkannya sambil berbisik pula. Matanya melirik ke arah Ivan yang nampak
asyik ngobrol dengan Papa Teja.
“Bukan, bukan itu maksud Mbak. Jangan bilang bahwa kalian hanya teman
biasa. Kamu juga harus menjelaskan, kenapa selama ini tak pernah bilang kalau
orang yang kamu sembunyikan ternyata sebagus itu.” Dea terpana,
ternyata mbak Yani tidak marah. Dari
tadi dia hanya fikir Mbaknya marah soal vas bunga itu. Tiba-tiba Ia merasa
wajahnya memerah mendengarkan ucapan Mbaknya.
Semoga hari ini bukanlah sekedar
mimpi, doanya dalam hati. Hatinya terasa riang dan ringan mengikuti
langkah mbak Yani yang mulai sibuk memilih vas bunga. Sepenggal kisah lalu yang dulu penuh duka sekarang
telah terjawab. Dan Mall Ratu selalu
saja menjadi saksi semua yang dialamainya,
seperti kini saat ia bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar