Jantung Lia serasa hampir lepas
mendengar pengakuan Alan di telepon yang tak pernah diduganya sama sekali.
“Please Lia, aku serius,”
suara Alan kembali mengejutkan Lia yang sesaat teringat akan
sahabatnya, Reza.
“Mana mungkin Alan, Aku….”
“Jangan keliru Lia. Aku tau yang kau pikirkan. Percayalah,
semua itu sudah berlalu. Aku
sendiri bahkan tidak mengerti mengapa
dia menginginkannya,” Lia cuma diam tak
menjawab. Hatinya bingung karena
tiba-tiba harus memberikan jawaban yang ia sendiri tak tahu.
Kenapa Alan menyatakan semua setelah
sekian lama dia jalan dengan Reza.
Padahal dulu dialah yang selalu menjadi penyambung keduanya bila terjadi
perselisihan. Lia tak mau melihat
sahabatnya Reza sampai memutuskan hubungannya dengan Alan.
Bahkan ketika terang-terangan Reza
ingin mengakhiri hubungan mereka, Lia
dengan berbagai cara berusaha membujuk agar dia membatalkan niatnya. Rasanya itu tidak adil, hanya karena Reza sedang menyukai salah
seorang anak dari SMA tiga, tentu saja
tanpa sepengetahuan Alan. Lia bahkan
tahu hal itu, meski Reza tak pernah
menceritakannya, tapi ia juga tak
mungkin menyampaikan semua kepada Alan.
“Jangan Rez, tidak mungkin kamu dapat orang sebaik Alan.”
“Aku bosan Lia, dia terlalu pecemburu,” Lia tersenyum kecut, alasan Reza terlalu mengada-ada. Dia kenal betul Alan, kalaupun dia cemburu pada Reza karena Alan
sangat menyayanginya, itu saja.
Sayangnya Reza telah dibutakan
perasaannya oleh orang yang sebenarnya baru saja dikenalnya di tempat bimbingan
belajar. Memang dari segi materi, orang itu nampak lebih dibanding Alan.
“Terserah Rez, aku nggak bisa bilang apa-apa. Cuma aku minta kamu pikirkan dulu sebelum
terlambat,” Lia meninggalkan Reza dengan
sedikit kecewa, usahanya terasa sia-sia.
Dua minggu kemudian dia mendapat
telepon dari Alan dan memberitahu kalau mereka sedang perang dingin. Berita itu membuatnya sedikit lega, setidaknya mereka belum sampai bubar seperti
keinginan Reza tempohari.
“Kamu harus maklum Alan, dia mungkin ada masalah keluarga, sehingga perasaannya sedang sumpek dan
emosional, aku tahu kok.” Alan akhirnya mau memahami penjelasan Lia
yang menurutnya cukup bijaksana.
“Oke,
nanti sore kamu harus ke rumah
Reza untuk mengiburnya, gimana?” sesaat Alan hanya diam.
“Aduh sori ya, aku lagi goreng tempe, lain waktu ngobrol lagi ya, bye?”
meski lagi kesal akhirnya Alan tertawa juga mendengar perkataan Lia yang
terdengar lucu.
“Oke,
bye.”
Sejak itu Lia tak pernah bertemu lagi
karena sibuk dengan pelajarannya, hingga
kurang lebih enam bulan berikutnya.
Sampai akhirnya dua minggu yang lalu tiba-tiba Alan muncul di rumah Lia
menceritakan tentang hubungan mereka yang kurang harmonis. Seperti biasa Lia mencoba menjadi pendengar
setia, tapi kini.
“Halo! Lia…Halo!”
“I…iya, Alan…aku,
tidak tahu harus bilang apa, Aku…Aku
bingung.”
“Aku sudah menduga Lia, pasti kamu akan mengatakan hal itu
padaku,” ujarnya pasrah.
“Tapi aku jujur Lia, sungguh.
Sebenarnya aku sudah suka padamu saat pertama kali kita bertemu dirumah
Reza waktu itu. Tolong jangan potong
ucapanku,” dia nampaknya mengerti jalan
fikiran Lia yang hendak menyela ucapannya.
“Tapi aku juga tak mengira itu adalah
rasa yang kemudian akan menyiksaku.
Sejujurnya juga Lia, aku lebih
senang bila bersamamu, kamu tulus dan
tidak basa-basi. Namun aku tak mau
seenaknya mengikuti perasaanku, selain
itu kaupun masih bersama Andy,” Lia
hanya tersenyum getir saat Alan menyebut nama itu yang sepintas mengingatkannya
akan masa lalunya.
“Terima kasih Lan, tapi semua itu tak mungkin….” suara Lia manggantung.
“Percayalah, aku sudah tak memiliki hubungan dengannya
Lia, bahkan hal itu sebenarnya sudah
sejak lima bulan yang lalu,” kali ini
giliran Lia yang terkejut. Benarkah?
“Aku sengaja merahasiakannya
padamu, karena aku sudah tahu reaksimu
bila mendengar semua itu.” Lia mearik
nafas dalam.
“Alan, kamu sekarang labil, emosional dan bingung. Semua itu bukan karena keinginanmu, tapi karena rasa kecewa, percayalah.
Kuharap kamu bisa menenangkan pikiranmu,
setelah itu kita bicara lagi,
maafkan aku.” Ia sungguh ingin
segera menutup telepon agar pembicaraan tak semakin panjang.
“Apakah salah bila sekarang aku
mengatakan suka padamu Lia?” niat Lia
untuk mentup telepon jadi urung karena ucapan Alan yang terakhir. Oh Tuhan ada apa denganku, kenapa tiba-tiba aku pun suka mendengar ucapan itu, Lia mengeluh dalam hati. Tidak,
ini tak boleh terjadi.
“Kau harus percaya Lia, aku sudah tidak memiliki hubungan
dengannya. Aku pun sudah mencoba untuk
memperbaiki semuanya dengannya, tapi
gagal. Semua sudah jelas, dia tak peduli kepadaku dan tak
menginginkannya lagi. Lagipula, kamu sudah putus dengan Andi, iya kan Lia?”
dada Lia seketika terasa nyeri.
Alan seolah benar-benar ingin mengingatkannya pada kenangannya yang
gagal bersama Andi.
“Please, jangan ulangi lagi Alan,” nada suara Lia sedikit nelangsa.
“Maafkan aku Lia, aku cuma ingin kamu tahu bahwa tidak ada yang
berdiri di antara kita berdua,”
buru-buru Alan meralat ucapannya.
“Kamu yakin?” dia mulai kembali melunak dan mencoba
memahami ucapan Alan.
“Tapi, Alan kamu harus tahu bahwa semua ini hanya
sebuah pelarian.”
“Lia,
kita sudah lama kenal, kita
saling tahu. Bahkan sejak dulu kita
selalu jalan bersama dengan mereka.
Sekarang segalanya sudah menjadi masa lalu, apakah itu masih kamu anggap salah?” Lia tak segera menjawab.
“Tidak Lia. Kamu salah!
Sekarang sama sekali tak ada hubungannya dengan siapaun. Lagipula semua tak akan menyakiti
siapa-siapa. Ini antara kita, percayalah,”
Lia masih diam.
“Bicaralah, aku mau dengar. Atau mungkin dia sahabatmu, lalu kau tak mau
menerima kehadiranku?” Lia memejamkan mata
sambil kembali menarik nafas, mencoba
mencari kekuatan dan kepercayaan dalam dirinya.
Memang harus diakuinya kalau dia merasakan perhatian Alan sejak
pertama. Kebersamaan mereka kemudian
menghasilkan rasa yang tak dimengerti dan tak perlu dijelaskan. Tapi ia selalu mengusir rasa yang seharusnya
ada dalam dirinya, apalagi saat ia
sedang jalan dengan Andi, walau akhirnya
tanpa sebab kemudian Andi memutuskannya.
Tapi sedikitpun ia tak ada niat
mengail di air keruh pada hubungan Reza dan Alan yang kadang goyang, apalagi pada sahabatnya sendiri.
“Baiklah Alan,” masih dengan perasaan ragu ia mencoba
bersuara.
“Sebenarnya…aku memiliki perasaan yang
sama….” pengakuan Lia terdengar spontan.
“Terima kasih Lia, kau sudah jujur padaku. Akhirnya aku memiliki harapan itu,” belum sempat Lia melanjutkan kalimatnya Alan
sudah memotong penuh harap.
“Lia aku ingin ke rumahmu boleh
kan?” gadis itu cuma bisa tersenyum. Kali ini ia mencoba untuk sedikit menikmati
perasaannya, meski ia memiliki rasa suka
pada Alan, karena bagaimanapun itu akan
mempengaruhi hubungannya dengan Reza kelak.
“Malam ini aku akan datang pukul
tujuh tepat,” Alan melanjutkan ucapannya
tanpa menunggu persetujuan dari Lia.
“Aku memiliki harapan itu kan
Lia?” tegasnya lagi.
“Kenapa kamu bertanya begitu ?”
“Aku butuh kepastian Lia.”
“Kurasa belum perlu. Semua terlalu cepat Alan. Ada baiknya kita jalani segalanya bersama
seperti biasa.”
“Oke.
Aku beri waktu berfikir dari sekarang sampai nanti malam,” Alan benar-benar tak memberi kesempatan Lia
berfikir. Suaranya terdengar optimis dan
penuh harapan.
“Oke Lia, sampai nanti,
bye!”
Hati Lia kembali bingung dengan apa
yang baru saja dihadapinya. Nanti malam, apa yang harus aku katakan? Bagaimana dengan perasaan Reza dan apa yang
akan dikatakan orang-orang padanya?
Posisi dihatinya bimbang. Satu
sisi ragu dan kuatir sedangkan di sisi lain ia tak bisa mendustai perasaannya
yang memang menyukai orang itu.
Pukul setengah delapan, apa yang meski aku lakukan untuk bertemu
dengannya? Ah… mestinya tadi aku tak perlu mengatakan kalau
menyukainya. Ada sedikit penyesalan
dalam hatinya, karena hal itu kan
menjadi masalah. Bukankah masih ada
kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Reza bila memang Alan
benar-benar mau melakukannya.
Yang pasti, sekarang dia harus menunggu Alan dalam
hitungan jam sesuai janjinya tadi, dan
ia harus menyiapkan sebuah jawaban : ya atau tidak!
Tiba-tiba perasaan Lia gelisah karena
sepuluh menit lagi mereka akan bertemu,
padahal ia masih bingung dan tak tahu apa yang harus dikatannya kepada
Alan. Ini sebuah keputusan yang
dilematis.
Kriiing.! Kriiing.!
Telepon berbunyi, Lia merasakan bahwa
itu dari Alan karena memang ia sedang menunggunya.
“Halo….”
“Halo, Lia,” suara itu sangat jelas milik Alan yang
terdengar gelisah.
“Kamu dimana Lan?”
“Masih di rumah, maaf Lia,
malam mini aku tak bisa datang.
Aku harus ke rumah sakit karena keluargaku ada yang mengalami
kecelakaan. Tapi besok aku akan tetap
datang.”
“Oh,
nggak pa-pa,” suara Lia
gugup, entah kenapa hatinya sedikit
gelisah dengan ucapan Alan.
***
Berulangkali Lia melihat jam. Hampir tiba waktu yang diucapkan Alan kemarin
malam. Dan kini tepat jam yang
dijanjikan, kemudian lewat
sepuluh….duapuluh…tigapuluh…., dan akhirnya
pukul dua belas nol-nol, tapi tak ada
tanda-tanda Alan akan datang atau menelpon.
Lia merasakan tiba-tiba dirinya salah
tingkah sendiri karena tetap menunggu hingga larut. Semestinya itu tak perlu terjadi kalau saja
ia benar-benar tak berharap akan kehadiran orang itu.
Satu minggu berlalu, Lia hampir lupa kalau saja tak melihat kartu
nama Alan terjatuh saat membersihkan rak
buku. Alan tak pernah menepati
janjinya untuk datang sejak malam itu.
Anehnya, sikap Alan ternyata
justru mengusik perasaan Lia. Dan ia
semakin menyadari kalau dihatinya ada yang istimewa terhadap orang itu. Ingin sekali ia menelpon untuk mengetahui
keadaan Alan, tapi rasa malu itu lebih
kuat.
“Kak Lia, ada telepon!”
suara adiknya tiba-tiba mengejutkan dirinya yang sedang memandangi kartu
nama itu.
“Dari siapa?”
“Enggak tau,” adiknya langsung berlalu.
“Halo….”
“Halo,
Lia ?”
“Iya saya sendiri.” Balas Lia
“Ini Rio, teman Alan,
masih ingat?” suara itu sedikit tidak
asing. Rio, Rio,
ia mencoba mengingatnya.
“O,
iya, yang waktu itu datang
bersama Alan kan?”
“Benar sekali,” Lia masih bisa mengingat orang yang dua
minggu lalu datang bersama dengan Alan.
“Ada apa Rio, tumben telepon.”
“Mm,
begini Lia” suaranya berhenti
sejenak.
“Soal Alan…kamu benar-benar tidak
tahu ?” lanjutnya terdengar ragu.
“Kenapa?” perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak ketika
Rio menyebut nama itu.
“Apakah hari Senin ia ke rumah kamu?”
“Hari Senin? Tidak,
memang dia janji, tapi belum
pernah datang. Dia bohong!” serunya terdengar getir karena tak dapat
menyembunyikan kekecewaannya.
“Dia tidak bohong Lia. Hari itu sepulang mengambil tugas gambar dari
rumahku, dia bilang akan menemuimu, tapi….dia mengalami kecelakaan di depan
kampus.” Deg! Jantungnya seperti dihantam godam, bahkan serasa berhenti.
“Bagaimana sekarang keadaannya?” suara Lia tergagap dan wajahnya pucat, jelas sekali ia cemas.
“Dia…sudah pergi Lia, dia meninggal ditempat. Semuanya terjadi begitu cepat dan…” Lia tak mampu mendengar ucapan Rio, ia jatuh lemas di kursi, kepalanya jadi pusing dan pandangannya
berubah gelap.
Gundukan tanah itu masih basah, dipandanginya dengan tatapan hampa. Kakinya bahkan hampir tak bertenaga. Rio dengan sabar menemani disambingnya. Air matanya kering setelah menangis
semalaman.
Kenapa kau tak menunggu aku, padahal aku ingin menjelaskan semuanya padamu
Alan. Meskipun kita tak harus jalan
bersama, semua tak akan merubah perasaan
kita. Tapi kini kamu malah
meninggalkanku….Ia benar merasakan sebuah kehilangan.
***
“Ini yang bernama Lia ?” dia Cuma tersenyum mengangguk saat pertama
kali disambut wanita setengah baya dengan penuh keramahan. Di wajahnya masih jelas terlihat kesedihan. Rio sengaja mengajak Lia mengunjungi ibu
Alan.
“Sebelumnya, tante tidak tahu bahwa Alan punya teman
bernama Lia,” gadis itu tersenyum, ia mengerti maksudnya, karena selama ini cuma kenal dengan
Reza. Memang begitulah Alan, ia selalu memperkenalkan siapapun kepada
ibunya.
“Nak Lia, ini mungkin sebaiknya kamu bawa,” Ibu Alan menyerahkan sebuah buku harian milik
anaknya. Meski ragu akhirnya Lia
menerima benda itu.
Selanjutnya dia diperkenankan ke
kamar Alan. Sungguh ini untuk yang
pertama kali. Dia diperbolehkan untuk
mengambil apapun mulik Alan bila suka.
Namun baru melihat kamar itu, Lia
sudah tak mampu menahan air matanya.
Sekuat tenaga ia berusaha menahan air mata yang terus saja mengalir.
Tak satupun yang mampu untuk di
bawanya, kecuali buku harian Alan yang diberikan
oleh ibunya, lalu ia segera pamit. Sebuah pelukan hangat dari ibu Alan
mengakhiri pertemuannya dengan orang tuan Alan yang mengharukan.
“Seringlah datang ke sini Nak,” suara ibu Alan terdengar parau, sedang Lia hanya bisa mengangguk lemah sebelum
pergi.
“Terima kasih Bu.” Perempuan setengah baya itu pun tersenyum
menyaksikan kepergian Lia.
***
“Lia,”
“Reza?” dia kenal sekali suara dalam telepon
itu, meski lama tak pernah bertemu.
“Benar. Ternyata kamu belum lupa aku,” nada suaranya begitu dingin.
“Bagaimana kabar kamu Rez? Aku kangen sekali!” sambutnya bahagia.
“Kamu pengkhianat Lia!” tawa Lia hilang seketika. Suara itu kini menghukumnya.
“Tak aku sangka sama sekali, kamulah yang menginginkan semua ini,” suaranya datar namun penuh kemarahan.
“Reza, aku…”
“Aku mengerti, kau tak pernah bermaksud begitu, begitu kan yang akan kamu katakan? Benar, cuma aku tak menyangka….” Dia cepat memotong ucapan Lia dengan sinis.
“Apa maksudmu Reza?”
“Yah,
kamu, sahabatku sendiri yang
akhirnya merebut milikku.” Lia hanya
menggeleng lemah dan semakin tak bisa bicara atau menjelaskan apapun kepada
Reza. Suara itu bahkan kini penuh nada
ejekan.
“Reza, aku tak bermaksud apa-apa, sungguh!...tapi kalau menurutmu aku tetap
salah, maafkanlah aku,” hanya itu yang mampu keluar dari
bibirnya. Posisinya terlalu sulit untuk
menjelaskan segalanya kini, Reza pasti
tak akan mau mengerti.
“Tak ada gunanya lagi!” Plak!!
Suara telepon dibanting keras dan terdengar sangat jelas di
telinganya. Lia Cuma bisa menarik nafas
dalam. Ada rasa sesal yang menyusup di
hatinya, karena telah mengecewakan
perasaan sahabat terbaiknya, walau hal
itu bukan sebuah kesengajaan. Ia hanya
bisa memejamkan mata mengingat semuanya.
Kriiiiing!!! Tiba-tiba telepon berbunyi, belum berselang dua menit setelah telepon
Reza.
“Lia,
maafkan aku,” sepatah katapun Lia
belum bersuara, ketika suara Reza telah
mendahuluinya.
“Re – za?” ia hampir tak percaya.
“Lia.
Aku minta maaf atas apa yang baru saja aku ucapkan. Aku cemburu padamu, karena dia ternyata memilihmu. Aku sadar sikapku padanya sangat buruk
Lia. Tapi, kenapa ia harus secepat itu pergi? Aku bahkan belum minta maaf padanya…” tangisnya pecah. Gadis itu kini nampak benar-benar rapuh.
“Reza, kamu salah.
Dia masih tetap menyayangimu,”
Lia mencoba mengiburnya.
“Itulah kamu Lia. Kau selalu menghiburku, meskipun kau yang sedang berduka. Sekarang aku mengerti kenapa dia melakukan
semua itu, sebab kau memang pantas
menerimanya,” ujar Reza tulus.
“Sekarang semua telah berlalu, Reza.
Yang harus kita lakukan adalah mendoakannya. Semoga dia lebih tenang dan bahagia di
sisiNya,” Ada yang hangat mengalir di
pipi Lia.
“Biarkan dia damai Reza. Kita semua memang sayang padanya, tapi masih ada yang lebih menyayanginya.”
Mereka sama-sama terdiam, hanya isak tangis yang terdengar dari
keduanya yang tak mampu ditahan lagi.
“Lia,
aku kangen sama kamu. Apakah aku
boleh bertemu denganmu?” suara itu
terdengar parau.
“Aku juga Rez,” beban berat yang dirasakan Lia akhirnya terlepas
dari dadanya setelah mendengar kalimat Reza.
Sebelum Reza datang, sekali lagi dibukanya catatan Alan untuk yang
terakhir. Cukup banyak yang ditulis Alan
mengenai dirinya, tanpa ia pernah tahu
sama sekali. Dan yang paling tak dapat
dilupakan adalah catatan tangannya yang terakhir sebelum ia mengalami peristiwa
itu.
Lia….cukup lama aku mengenalnya.
Dan hari ini aku coba untuk mengatakannya. Dia yang mengerti aku dan masa laluku, bahkan kuingin dia jadi pilihan terakhir
untukku…semoga.
Kembali air mengalir dari sudut
matanya. Selamat jalan Alan, kami semua menyayangimu. Biarlah buku ini hanya jadi saksi kita
berdua. Ijinkan aku menguburnya, dan biarlah semua menjadi rahasia kita
berdua. Lalu ia memejamkan mata dan
memanjatkan sebuah doa.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar