Kamis, 24 Maret 2016

PILIHAN TERAKHIR



Jantung Lia serasa hampir lepas mendengar pengakuan Alan di telepon yang tak pernah diduganya sama sekali.
“Please Lia,  aku serius,”  suara Alan kembali mengejutkan Lia yang sesaat teringat akan sahabatnya,  Reza.
“Mana mungkin Alan,  Aku….”
“Jangan keliru Lia.  Aku tau yang kau pikirkan.  Percayalah,  semua itu sudah berlalu.  Aku sendiri bahkan tidak mengerti  mengapa dia menginginkannya,”  Lia cuma diam tak menjawab.  Hatinya bingung karena tiba-tiba harus memberikan jawaban yang ia sendiri tak tahu.
Kenapa Alan menyatakan semua setelah sekian lama dia jalan dengan Reza.  Padahal dulu dialah yang selalu menjadi penyambung keduanya bila terjadi perselisihan.  Lia tak mau melihat sahabatnya Reza sampai memutuskan hubungannya dengan Alan.
Bahkan ketika terang-terangan Reza ingin mengakhiri hubungan mereka,  Lia dengan berbagai cara berusaha membujuk agar dia membatalkan niatnya.  Rasanya itu tidak adil,  hanya karena Reza sedang menyukai salah seorang anak dari SMA tiga,  tentu saja tanpa sepengetahuan Alan.  Lia bahkan tahu hal itu,  meski Reza tak pernah menceritakannya,  tapi ia juga tak mungkin menyampaikan semua kepada Alan.
“Jangan Rez,  tidak mungkin kamu dapat orang sebaik Alan.”
“Aku bosan Lia,  dia terlalu pecemburu,”  Lia tersenyum kecut,  alasan Reza terlalu mengada-ada.  Dia kenal betul Alan,  kalaupun dia cemburu pada Reza karena Alan sangat menyayanginya,  itu saja.
Sayangnya Reza telah dibutakan perasaannya oleh orang yang sebenarnya baru saja dikenalnya di tempat bimbingan belajar.  Memang dari segi materi,  orang itu nampak lebih dibanding Alan.
“Terserah Rez,  aku nggak bisa bilang apa-apa.  Cuma aku minta kamu pikirkan dulu sebelum terlambat,”  Lia meninggalkan Reza dengan sedikit kecewa,  usahanya terasa sia-sia.
Dua minggu kemudian dia mendapat telepon dari Alan dan memberitahu kalau mereka sedang perang dingin.  Berita itu membuatnya sedikit lega,  setidaknya mereka belum sampai bubar seperti keinginan Reza tempohari.
“Kamu harus maklum Alan,  dia mungkin ada masalah keluarga,  sehingga perasaannya sedang sumpek dan emosional,  aku tahu kok.”  Alan akhirnya mau memahami penjelasan Lia yang menurutnya cukup bijaksana.
“Oke,  nanti sore kamu harus ke  rumah Reza untuk mengiburnya,  gimana?”  sesaat Alan hanya diam.
“Aduh sori ya,  aku lagi goreng tempe,  lain waktu ngobrol lagi ya,  bye?”  meski lagi kesal akhirnya Alan tertawa juga mendengar perkataan Lia yang terdengar lucu.
“Oke,  bye.”
Sejak itu Lia tak pernah bertemu lagi karena sibuk dengan pelajarannya,  hingga kurang lebih enam bulan berikutnya.  Sampai akhirnya dua minggu yang lalu tiba-tiba Alan muncul di rumah Lia menceritakan tentang hubungan mereka yang kurang harmonis.  Seperti biasa Lia mencoba menjadi pendengar setia,  tapi kini.
“Halo!  Lia…Halo!”
“I…iya,  Alan…aku,  tidak tahu harus bilang apa,  Aku…Aku bingung.”
“Aku sudah menduga Lia,  pasti kamu akan mengatakan hal itu padaku,”  ujarnya pasrah.
“Tapi aku jujur Lia,  sungguh.  Sebenarnya aku sudah suka padamu saat pertama kali kita bertemu dirumah Reza waktu itu.  Tolong jangan potong ucapanku,”  dia nampaknya mengerti jalan fikiran Lia yang hendak menyela ucapannya.
“Tapi aku juga tak mengira itu adalah rasa yang kemudian akan menyiksaku.  Sejujurnya juga Lia,  aku lebih senang bila bersamamu,  kamu tulus dan tidak basa-basi.  Namun aku tak mau seenaknya mengikuti perasaanku,  selain itu kaupun masih bersama Andy,”  Lia hanya tersenyum getir saat Alan menyebut nama itu yang sepintas mengingatkannya akan masa lalunya.
“Terima kasih Lan,  tapi semua itu tak mungkin….”  suara Lia manggantung.
“Percayalah,  aku sudah tak memiliki hubungan dengannya Lia,  bahkan hal itu sebenarnya sudah sejak lima bulan yang lalu,”  kali ini giliran Lia yang terkejut.  Benarkah?
“Aku sengaja merahasiakannya padamu,  karena aku sudah tahu reaksimu bila mendengar semua itu.”  Lia mearik nafas dalam.
“Alan,  kamu sekarang labil,  emosional dan bingung.  Semua itu bukan karena keinginanmu,  tapi karena rasa kecewa,  percayalah.  Kuharap kamu bisa menenangkan pikiranmu,  setelah itu kita bicara lagi,  maafkan aku.”  Ia sungguh ingin segera menutup telepon agar pembicaraan tak semakin panjang.
“Apakah salah bila sekarang aku mengatakan suka padamu Lia?”  niat Lia untuk mentup telepon jadi urung karena ucapan Alan yang terakhir.  Oh Tuhan ada apa denganku,  kenapa tiba-tiba aku pun  suka mendengar ucapan itu,  Lia mengeluh dalam hati.  Tidak,  ini tak boleh terjadi.
“Kau harus percaya Lia,  aku sudah tidak memiliki hubungan dengannya.  Aku pun sudah mencoba untuk memperbaiki semuanya dengannya,  tapi gagal.  Semua sudah jelas,  dia tak peduli kepadaku dan tak menginginkannya lagi.  Lagipula,  kamu sudah putus dengan Andi,  iya kan Lia?”  dada Lia seketika terasa nyeri.  Alan seolah benar-benar ingin mengingatkannya pada kenangannya yang gagal bersama Andi.
“Please,  jangan ulangi lagi Alan,”  nada suara Lia sedikit nelangsa.
“Maafkan aku Lia,  aku cuma ingin kamu tahu bahwa tidak ada yang berdiri di antara kita berdua,”  buru-buru Alan meralat ucapannya.
“Kamu yakin?”  dia mulai kembali melunak dan mencoba memahami ucapan Alan.
“Tapi,  Alan kamu harus tahu bahwa semua ini hanya sebuah pelarian.”
“Lia,  kita sudah lama kenal,  kita saling tahu.  Bahkan sejak dulu kita selalu jalan bersama dengan mereka.  Sekarang segalanya sudah menjadi masa lalu,  apakah itu masih kamu anggap salah?”  Lia tak segera menjawab.
“Tidak Lia.  Kamu salah!  Sekarang sama sekali tak ada hubungannya dengan siapaun.  Lagipula semua tak akan menyakiti siapa-siapa.  Ini antara kita,  percayalah,”  Lia masih diam.
“Bicaralah,  aku mau dengar.  Atau mungkin dia sahabatmu, lalu kau tak mau menerima kehadiranku?”  Lia memejamkan mata sambil kembali menarik nafas,  mencoba mencari kekuatan dan kepercayaan dalam dirinya.  Memang harus diakuinya kalau dia merasakan perhatian Alan sejak pertama.  Kebersamaan mereka kemudian menghasilkan rasa yang tak dimengerti dan tak perlu dijelaskan.  Tapi ia selalu mengusir rasa yang seharusnya ada dalam dirinya,  apalagi saat ia sedang jalan dengan Andi,  walau akhirnya tanpa sebab kemudian Andi memutuskannya.
Tapi sedikitpun ia tak ada niat mengail di air keruh pada hubungan Reza dan Alan yang kadang goyang,  apalagi pada sahabatnya sendiri.
“Baiklah Alan,”  masih dengan perasaan ragu ia mencoba bersuara.
“Sebenarnya…aku memiliki perasaan yang sama….”  pengakuan Lia terdengar spontan.
“Terima kasih Lia,  kau sudah jujur padaku.  Akhirnya aku memiliki harapan itu,”  belum sempat Lia melanjutkan kalimatnya Alan sudah memotong penuh harap.
“Lia aku ingin ke rumahmu boleh kan?”  gadis itu cuma bisa tersenyum.  Kali ini ia mencoba untuk sedikit menikmati perasaannya,  meski ia memiliki rasa suka pada Alan,  karena bagaimanapun itu akan mempengaruhi hubungannya dengan Reza kelak.
“Malam ini aku akan datang pukul tujuh tepat,”  Alan melanjutkan ucapannya tanpa menunggu persetujuan dari Lia.
“Aku memiliki harapan itu kan Lia?”  tegasnya lagi.
“Kenapa kamu bertanya begitu ?”
“Aku butuh kepastian Lia.”
“Kurasa belum perlu.  Semua terlalu cepat Alan.  Ada baiknya kita jalani segalanya bersama seperti biasa.”
“Oke.  Aku beri waktu berfikir dari sekarang sampai nanti malam,”  Alan benar-benar tak memberi kesempatan Lia berfikir.  Suaranya terdengar optimis dan penuh harapan.
“Oke Lia,  sampai nanti,  bye!”
Hati Lia kembali bingung dengan apa yang baru saja dihadapinya.  Nanti malam,  apa yang harus aku katakan?  Bagaimana dengan perasaan Reza dan apa yang akan dikatakan orang-orang padanya?  Posisi dihatinya bimbang.  Satu sisi ragu dan kuatir sedangkan di sisi lain ia tak bisa mendustai perasaannya yang memang menyukai orang itu.
Pukul setengah delapan,  apa yang meski aku lakukan untuk bertemu dengannya?  Ah…  mestinya tadi aku tak perlu mengatakan kalau menyukainya.  Ada sedikit penyesalan dalam hatinya,  karena hal itu kan menjadi masalah.  Bukankah masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Reza bila memang Alan benar-benar mau melakukannya.
Yang pasti,  sekarang dia harus menunggu Alan dalam hitungan jam sesuai janjinya tadi,  dan ia harus menyiapkan sebuah jawaban : ya atau tidak!
Tiba-tiba perasaan Lia gelisah karena sepuluh menit lagi mereka akan bertemu,  padahal ia masih bingung dan tak tahu apa yang harus dikatannya kepada Alan.  Ini sebuah keputusan yang dilematis.
Kriiing.!  Kriiing.!  Telepon berbunyi,  Lia merasakan bahwa itu dari Alan karena memang ia sedang menunggunya.
“Halo….”
“Halo,  Lia,” suara itu sangat jelas milik Alan yang terdengar gelisah.
“Kamu dimana Lan?”
“Masih di rumah,  maaf Lia,  malam mini aku tak bisa datang.  Aku harus ke rumah sakit karena keluargaku ada yang mengalami kecelakaan.  Tapi besok aku akan tetap datang.”
“Oh,  nggak pa-pa,”  suara Lia gugup,  entah kenapa hatinya sedikit gelisah dengan ucapan Alan.
***
Berulangkali Lia melihat jam.  Hampir tiba waktu yang diucapkan Alan kemarin malam.  Dan kini tepat jam yang dijanjikan,  kemudian lewat sepuluh….duapuluh…tigapuluh….,  dan akhirnya pukul dua belas nol-nol,  tapi tak ada tanda-tanda Alan akan datang atau menelpon.
Lia merasakan tiba-tiba dirinya salah tingkah sendiri karena tetap menunggu hingga larut.  Semestinya itu tak perlu terjadi kalau saja ia benar-benar tak berharap akan kehadiran orang itu.
Satu minggu berlalu,  Lia hampir lupa kalau saja tak melihat kartu nama Alan terjatuh saat membersihkan rak  buku.  Alan tak pernah menepati janjinya untuk datang sejak malam itu.  Anehnya,  sikap Alan ternyata justru mengusik perasaan Lia.  Dan ia semakin menyadari kalau dihatinya ada yang istimewa  terhadap orang itu.  Ingin sekali ia menelpon untuk mengetahui keadaan Alan,  tapi rasa malu itu lebih kuat.
“Kak Lia,  ada telepon!”  suara adiknya tiba-tiba mengejutkan dirinya yang sedang memandangi kartu nama itu.
“Dari siapa?”
“Enggak tau,”  adiknya langsung berlalu.
“Halo….”
 “Halo,  Lia ?”
“Iya saya sendiri.” Balas Lia
“Ini Rio,  teman Alan,  masih ingat?”  suara itu sedikit tidak asing.  Rio,  Rio,  ia mencoba mengingatnya.
“O,  iya,  yang waktu itu datang bersama Alan kan?”
“Benar sekali,”  Lia masih bisa mengingat orang yang dua minggu lalu datang bersama dengan Alan.
“Ada apa Rio,  tumben telepon.”
“Mm,  begini Lia”  suaranya berhenti sejenak.
“Soal Alan…kamu benar-benar tidak tahu ?”  lanjutnya terdengar ragu.
“Kenapa?”  perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak ketika Rio menyebut nama itu.
“Apakah hari Senin ia ke rumah kamu?”
“Hari Senin?  Tidak,  memang dia janji,  tapi belum pernah datang.  Dia bohong!”  serunya terdengar getir karena tak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
“Dia tidak bohong Lia.  Hari itu sepulang mengambil tugas gambar dari rumahku,  dia bilang akan menemuimu,  tapi….dia mengalami kecelakaan di depan kampus.”  Deg!  Jantungnya seperti dihantam godam,  bahkan serasa berhenti.
“Bagaimana sekarang keadaannya?”  suara Lia tergagap dan wajahnya pucat,  jelas sekali ia cemas.
“Dia…sudah pergi Lia,  dia meninggal ditempat.  Semuanya terjadi begitu cepat dan…”  Lia tak mampu mendengar ucapan Rio,  ia jatuh lemas di kursi,  kepalanya jadi pusing dan pandangannya berubah gelap.
Gundukan tanah itu masih basah,  dipandanginya dengan tatapan hampa.  Kakinya bahkan hampir tak bertenaga.  Rio dengan sabar menemani disambingnya.  Air matanya kering setelah menangis semalaman.
Kenapa kau tak menunggu aku,  padahal aku ingin menjelaskan semuanya padamu Alan.  Meskipun kita tak harus jalan bersama,  semua tak akan merubah perasaan kita.  Tapi kini kamu malah meninggalkanku….Ia benar merasakan sebuah kehilangan.

***

“Ini yang bernama Lia ?”  dia Cuma tersenyum mengangguk saat pertama kali disambut wanita setengah baya dengan penuh keramahan.  Di wajahnya masih jelas terlihat kesedihan.  Rio sengaja mengajak Lia mengunjungi ibu Alan.
“Sebelumnya,  tante tidak tahu bahwa Alan punya teman bernama Lia,”  gadis itu tersenyum,  ia mengerti maksudnya,  karena selama ini cuma kenal dengan Reza.  Memang begitulah Alan,  ia selalu memperkenalkan siapapun kepada ibunya.
“Nak Lia,  ini mungkin sebaiknya kamu bawa,”  Ibu Alan menyerahkan sebuah buku harian milik anaknya.   Meski ragu akhirnya Lia menerima benda itu.
Selanjutnya dia diperkenankan ke kamar Alan.  Sungguh ini untuk yang pertama kali.  Dia diperbolehkan untuk mengambil apapun mulik Alan bila suka.  Namun baru melihat kamar itu,  Lia sudah tak mampu menahan air matanya.  Sekuat tenaga ia berusaha menahan air mata yang terus saja mengalir.
Tak satupun yang mampu untuk di bawanya,  kecuali buku harian Alan yang diberikan oleh ibunya,  lalu ia segera pamit.  Sebuah pelukan hangat dari ibu Alan mengakhiri pertemuannya dengan orang tuan Alan yang mengharukan.
“Seringlah datang ke sini Nak,”  suara ibu Alan terdengar parau,  sedang Lia hanya bisa mengangguk lemah sebelum pergi.
“Terima kasih Bu.”  Perempuan setengah baya itu pun tersenyum menyaksikan kepergian Lia.
***
“Lia,”
“Reza?”  dia kenal sekali suara dalam telepon itu,  meski lama tak  pernah bertemu.
“Benar.  Ternyata kamu belum lupa aku,”  nada suaranya begitu dingin.
“Bagaimana kabar kamu Rez?  Aku kangen sekali!”  sambutnya bahagia.
“Kamu pengkhianat Lia!”  tawa Lia hilang seketika.  Suara itu kini menghukumnya.
“Tak aku sangka sama sekali,  kamulah yang menginginkan semua ini,”  suaranya datar namun penuh kemarahan.
“Reza,  aku…”
“Aku mengerti,  kau tak pernah bermaksud begitu,  begitu kan yang akan kamu katakan?  Benar, cuma aku tak menyangka….”  Dia cepat memotong ucapan Lia dengan sinis.
“Apa maksudmu Reza?”
“Yah,  kamu,  sahabatku sendiri yang akhirnya merebut milikku.”  Lia hanya menggeleng lemah dan semakin tak bisa bicara atau menjelaskan apapun kepada Reza.  Suara itu bahkan kini penuh nada ejekan.
“Reza,  aku tak bermaksud apa-apa,  sungguh!...tapi kalau menurutmu aku tetap salah,  maafkanlah aku,”  hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.  Posisinya terlalu sulit untuk menjelaskan segalanya kini,  Reza pasti tak akan mau mengerti.
“Tak  ada gunanya lagi!”  Plak!!  Suara telepon dibanting keras dan terdengar sangat jelas di telinganya.  Lia Cuma bisa menarik nafas dalam.  Ada rasa sesal yang menyusup di hatinya,  karena telah mengecewakan perasaan sahabat terbaiknya,  walau hal itu bukan sebuah kesengajaan.  Ia hanya bisa memejamkan mata mengingat semuanya.
Kriiiiing!!!   Tiba-tiba telepon berbunyi,  belum berselang dua menit setelah telepon Reza.
“Lia,  maafkan aku,”  sepatah katapun Lia belum bersuara,  ketika suara Reza telah mendahuluinya.
“Re – za?”  ia hampir tak percaya.
“Lia.  Aku minta maaf atas apa yang baru saja aku ucapkan.  Aku cemburu padamu,  karena dia ternyata memilihmu.  Aku sadar sikapku padanya sangat buruk Lia.  Tapi,  kenapa ia harus secepat itu pergi?  Aku bahkan belum minta maaf padanya…”  tangisnya pecah.  Gadis itu kini nampak benar-benar rapuh.
“Reza,  kamu salah.  Dia masih tetap menyayangimu,”  Lia mencoba mengiburnya.
“Itulah kamu Lia.  Kau selalu menghiburku,  meskipun kau yang sedang berduka.  Sekarang aku mengerti kenapa dia melakukan semua itu,  sebab kau memang pantas menerimanya,”  ujar Reza tulus.
“Sekarang semua telah berlalu,  Reza.  Yang harus kita lakukan adalah mendoakannya.  Semoga dia lebih tenang dan bahagia di sisiNya,”  Ada yang hangat mengalir di pipi Lia.
“Biarkan dia damai Reza.  Kita semua memang sayang padanya,  tapi masih ada yang lebih menyayanginya.”
Mereka sama-sama terdiam,  hanya isak tangis yang terdengar dari keduanya yang tak mampu ditahan lagi.
“Lia,  aku kangen sama kamu.  Apakah aku boleh bertemu denganmu?”  suara itu terdengar parau.
“Aku juga Rez,”  beban berat yang dirasakan Lia akhirnya terlepas dari dadanya setelah mendengar kalimat Reza.
Sebelum Reza datang,  sekali lagi dibukanya catatan Alan untuk yang terakhir.  Cukup banyak yang ditulis Alan mengenai dirinya,  tanpa ia pernah tahu sama sekali.  Dan yang paling tak dapat dilupakan adalah catatan tangannya yang terakhir sebelum ia mengalami peristiwa itu.
Lia….cukup lama aku mengenalnya.  Dan hari ini aku coba untuk mengatakannya.  Dia yang mengerti aku dan masa laluku,  bahkan kuingin dia jadi pilihan terakhir untukku…semoga.
Kembali air mengalir dari sudut matanya.  Selamat jalan Alan,  kami semua menyayangimu.  Biarlah buku ini hanya jadi saksi kita berdua.  Ijinkan aku menguburnya,  dan biarlah semua menjadi rahasia kita berdua.  Lalu ia memejamkan mata dan memanjatkan sebuah doa.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar