Kamis, 24 Maret 2016

BELUM TERLAMBAT



Ika baru saja hendak merebahkan tubuhnya untuk istirahat, ketika tiba-tiba suara gaduh itu muncul.  Dari sebuah cela kamar Ia melihat gerombolan anak muda yang sama dengan kemarin.  Ia yang merasa lelah setelah mengerjakan tugas fisika. Hampir semalaman Ia merasa terganggu.  Diantara mereka ada seseorang yang berambut gondrong yang kelihatan bertindak sebagai dalangnya.
Tapi ia sudah capek untuk menugur,  tak mau lagi.  Kemarin bahkan ada salah satu yang mengejeknya saat ia mencoba meminta semuanya untuk berhenti mengambil mangga di pekarangan samping.  Pohon mangga milik Pamanya itu selalu menjadi bumerang jika  musim berbuah.
Sebenarnya ia sendiri sangat malas untuk menjaganya,  apalagi anak-anak muda di daerah ini terkenal sangat nakal.  Tapi sudah terlanjur,  karena sekarang ia sudah berada di sini.  Ia harus tinggal di rumah pamannya selama mereka sedang mendapat tugas dinas di Makassar,  Akh!  Kasian banget aku ini,  keluhnya dalam hati.
Suara mereka mulai sahut-menyahut bersamaan dengan suara-suara mangga yang berjatuhan.  Ia menahan geram dalam hati.  Sejenak ia hanya bisa tercenung,  tak bias berbuat apa-apa.  Tapi sesaat kemudian ia mendapat ide untuk bergabung dengan ‘pesta’ itu.  Mungkin  memang sudah waktunya sebagian buah pohon mangga itu harus disedekahkan.
Ia mencoba menenangkan hatinya.  Perlahan ia membuka jendela yang tadi sengaja ditutupnya,  sehingga taka da yang menyangka ada orang di dalamnya.  Karena sebenarnya mereka tidak akan senekat itu bila mengetahui ada orang di dalam rumah.
Saat daun jendela terbuka lebar,  tiba-tiba saja anak muda yang sibuk berpesta itu terpaku.  Jumlahnya ada tujuh orang dan Ika memandanginya satu persatu tanpa ekspresi.  Suasana sejenak mendadak kaku.
“Dia Kak yang ambil!”  teriak salah seorang anak yang menjadi penadah memecah suasana beku.  Ia tahu kata ‘Kak’ itu adalah sebuah nada penghormatan sekaligus dirasakannya sebagai ejekan.  Karena ia tahu mereka seumuran dengannya.
“Bukan, tapi dia Kak!”  sahut yang di tunjuk membela diri.  Mereka lalu saling tunjuk menyalahkan.  Kecuali seseorang yang saat ini berada di atas pohon,  orang yang berambut gondrong itu,  dia hanya diam.  Tangannya yang baru saja hendak meraih buah mangga yang ranum jadi urung dan nampak salah tingkah.  Aktifitas mendadak berhenti,  semua diam.
Sesaat kemudian Ika mengembangkan senyumnya dan sedikit bersikap ramah.
“Boleh ambil,  tapi tolong jangan terlalu ribut!”  semua semakin terpana dan tak percaya.  Ika sudah menduganya,  tapi ia pura-pura tak menyadarinya.  Ia bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
“Dan tolong juga,  sampahnya diangkat kalo sudah selesai ya,”  lanjutnya lagi masih tetap berdiri di balik daun jendela.  Jelas sekali mereka jadi salah tingkah,  bahkan kelihatan ragu untuk melanjutkannya.
“Boleh aku minta satu?”  Ika lalu mencoba untuk mencairkan kekakuan yang belum hilang.  Selanjutnya ia berbalik pura-pura mengerjakan tugas kimia di meja belajarnya sambil sesekali matanya masih melirik ke luar,  ia batal untuk tidur siang.
Ika sempat melihat perubahan ekspresi di wajah-wajah yang ada di tempat itu.  Sikap Ika yang bersahabat justru melunakkan mereka.  Padahal Ika sadar bahwa yang sedang di hadapinya ini adalah termasuk biang onar.
Masih dengan ragu,  anak yang berambut gondrong itu memetik sejumlah mangga.  Ia nampak buru-buru menyembunyikan sesuatu di saku celananya,  yang ternyata adalah kantong plastik yang tadi hendak diisinya penuh,  seperti kemarin.  Lalu ia perlahan turun dari pohon hanya membawa dua buah mangga.
Dengan sekali komando,  semua yang bersamanya meninggalkan pekarangan dengan tertib sambil memungut daun yang jatuh,  kecuali orang itu, sebuah pemandangan yang sedikit aneh.
“Ini mangganya,  Kak,”  katanya kemudian terdengar sopan.  Ika yang sedang pura-pura asyik mengerjakan tugas Kimia menoleh,  dan kemudian mendekati asal suara itu.  Pemuda berambut gondrong itu sedang berdiri di luar jendela kamarnya sambil menenteng dua buah mangga yang cukup besar untuknya.
“Makasih ya?”  ucapnya Ika ramah menerima mangga itu,  si Gondrong hanya tersenyum sedikit salah tingkah lalu pergi tanpa bersuara lagi.
***
“Mau ke mana Kak?”  suara itu mengejutkan Ika.  Ia menoleh dan tampak seseorang sedang menjajari langkahnya.  Ia lalu tersenyum setelah melihat cowok gondrong yang dulu.  Sudah seminggu ini ia tak melihatnya dan sudah seminggu pula ia tak melihat aktifitas ‘panen mangga’.  Anehnya semua menjadi tenang setelah itu,  bahkan pohon mangga itu kini lebih aman.
“Ke kampus,”  jawab Ika ramah.  Ia menangkap persahabatan dalam sikap orang itu.
“Panggil saya Ayub,”  ujarnya kemudian sambil menyebut nama tanpa diminta.  Ika mengangguk manis,  ia merasa sedikit tenang  melihat sikap anak itu yang jauh beda dengan sebelumnya. Lalu mereka berpisah tanpa sempat sekedar berbasa-basi lagi, karena Ika buru-buru harus ke kampus.
Jam menunjukkan pukul 10.00 malam,  dan ia baru saja pulang dari rumah temannya untuk mengerjakan tugas Fisika Dasar.  Sedikit ada rasa kuatir yang dirasakannya saat pulang,  apalagi ini baru pertama kali ia pulang malam,  itupun terpaksa.  Tugas itu harus di kumpul besok jam 07.00 pagi.  Tentu saja ia harus pulang ke rumah,  meskipun sahabatnya,  Rina telah menawarinya untuk menginap.  Ia tak ingin terlambat ke kampus.
Suasana saat itu memasuki kompleks perumahan nampak sepi.  Sesekali ia masih mendengarkan siulan orang-orang usil yang membuatnya merinding.  Apalagi rumah  Pamannya itu cukup jauh dari jalan utama,  sehingga sempat juga membuatnya merasa takut.
Di sebuah tikungan jalan nampak sekumpulan anak muda sedang berkumpul di pinggiran jalan.
“Ika!”  Ia terhenyak.  Awalnya ia tak mau merespon,  tapi ketika suara itu muncul lagi,  ia seperti mengenalnya, ia lalu perlahan menoleh.  Salah seorang dari kelompok yang jumlahnya belasan orang itu memanggilnya,  membuat sedikit salah tingkah.  Matanya mencoba mencari-cari sumber suara itu sambil tetap berjalan pelan.
“Dari belajar ya?”  suara orang yang memanggilnya tadi terdengar lagi.  Sekarang ia bias melihat orang yang menyebut namanya itu,  sambil masih tetap berjalan,  ternyata si gondrong,  Ayub.  Ia lalu mengangguk tersenyum dan mencoba mengarahkan pandangannya pada semula meski dengan rasa salah tingkah.  Kemudian Ia sedikit mempercepat langkahnya.  Hatinya sangat lega setelah sampai di rumah.
Saat itu pukul 01.00 dinihari, suara letusan senapan terdengar jelas.  Ika mencoba mengintip dari balik tirai.  Beberapa polisi nampak sedang mengejar sekelompok anak muda yang terlihat sedang berlaian berpencar.  Dan kemudian terlihat ada bayangan roboh.  Padahal baru lima menit lalu Ika masih mendengar nyanyian suara dari kelompok anak muda itu.    Mereka selalu berkumpul di tempat yang sama setiap malamnya.   Tempat yang juga selalu dilalui oleh Ika.
Sejujurnya Ika sangat menyukai suaranya yang sangat bagus,  meskipun ia tak tahu siapa di antara mereka yang memiliki suara indah itu.  Lagu pelangi dimatamu mengalir sempurna hingga selesei,  sampai akhirnya terjadi peristiwa itu.
Ia hanya tahu bahwa anak-anak muda di lingkungannya itu sering terlibat perkelahian,  bahkan kadang membuat onar,  meskipun tidak semuanya.  Sehingga tak jarang petugas datang mengadakan rasia secara mendadak dan membuat kelompok mereka bubar.  Karena itu,  Ika senang berada di daalam rumah,  lebih aman.
Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 06.10  Ika mendengar suara ketukan pintu jelas sekali.  Meski ragu Ika membukanya.  Nampak didepan pintu sedang berdiri dua anak muda dengan wajah yang kusut.  Ini masih sangat pagi..
“Ada yang bisa saya bantu?”  tanya Ika dengan ramah sesaat setelah ia mempersilahkan keduanya duduk.  Ika tak mengenal jelas mereka,  tapi ia pernah melihatnya salah satunya ada diantara orang-orang yang berdiri dibawah pohon manga kala itu.
“Kami diminta tolong untuk menjemput Kakak,”  ujar salah satu kemudian membuka percakapan.
“Saya?”  Ika menunjuk dirinya ragu.
“Siapa yang meminta?”  Ia tak mengerti.
“Teman kami,  Ayub.  Dia sekarang ada di rumah sakit,”  jelasnya yang satu lagi.
Ayub?  Ika mencoba untuk menginggatnya.  Oh anak yang berambut gondrong itu.
“Ada apa?”
“Dia meminta Kakak untuk melihatnya,”  ujar yang seorang lagi,  membuat Ika semakin bingung.  Ada urusan apa sehingga ia diminta kesana?
“Tapi Saya….”
“Tolonglah Kak kali ini saja,”  mereka terdengar  memohon.
“Ini sangat darurat”  jelas salah satunya dengan wajah pucat dan kuatir.
Setelah berfikir sejenak,  akhirnya Ika menyetujui dengan syarat hanya sebentar,  karena siang ini akan ada kuliah Pak Fiqi yang bisa eror bila alpa meskipun hanya sekali.
Bau obat yang menyengat menyelimuti seluruh ruangan.  Ia sama sekali tak pernah suka berada di rumah sakit,  karena ia selalu merasa tak nyaman melihat orang yang sedang sakit.
Dua orang itu lalu membawanya ke ruangan ICU.  Ika memasuki ruangan dengan perasaan ragu.  Sekilas ia menyaksikan seseorang sedang terbujur lemah di sana.  Dia sedang menatap ke arahnya dengan senyum yang tipis dan dipaksakan.  Sesekali ia meringis seperti menahan sakit,  tapi ia nampak terabaikan.  Memang benar dialah Ayub.
Hatinya seketika tersentuh dan terenyuh menyaksikan pemandangan itu.  Untuk beberapa saat ia hanya terpaku tak bersuara.
“Ika?”  Ayub menyebut namanya lirih seolah mereka pernah akrab.  Ika mencoba untuk tersenyum,  sementara teman-temannya yang lain satu persatu meninggalkan ruangan.
“Maaf,  merepotkan,”  katanya lagi.
“Kamu kenapa?”  Ika mencoba untuk bersikap peduli dan sengaja membuat seolah mereka memang dekat.  Ia bahkan gagal menyembunyikan kekhawatirannya melihat keadaannya.
“Nggak pa-pa,  cuma sedikit ada yang salah tadi malam,”  katanya lirih berusaha untuk tetap tersenyum.  Hal itu menginggatkan Ika tiba-tiba pada peristiwa tadi subuh saat melihat ada seseorang yang rubuh,  mungkinkah dia?
Ika mencoba menemui suster jaga untuk meminta penjelasan,  apalagi ia masih jelas mengingat peristiwa yang menimpa Pamannya saat mengalami kecelakaan yang tidak mendapat perhatian,  hanya karena pihak rumah sakit belum mengetahui siapa yang akan bertanggung jawab untuk semuanya,  termasuk biaya.  Dirinya sangat yakin,  hal ini sedang dialami oleh Ayub yang kondisinya nampak semakin lemah.  Miris sekali.
Tiba-tiba Ayub merintih menahan sakit,  membuat Ika semakin iba.  Sepertinya dia tak memiliki keluarga,  atau kalau pun ada,  mungkin tak ada yang mau peduli.  Sebab ia sedang menjadi bagian dari anak-anak muda yang memiliki reputasi buruk yang di lingkungan.  Tapi bagaimanapun dia juga manusia,  Ika membatin.  Rasa kemanusiaannya terusik untuk peduli.  Ika sama sekali tak pernah berfikir sebelumnya ia akan terlibat dengan orang itu.  Ika menghubungi temannya di aktifis  PMI untuk mencari solusi,  bahkan ia juga sempat menyumbangkan darahnya.
Akhirnya operasi berjalan lancar,  hingga selesai.  Setelah Ayub sadar dari pengaruh obat bius,  Ika lalu memutuskan untuk pamit kepada teman-teman Ayub yang tetap setia menunggunya.  Mereka nampak sangat berterima kasih kepada Ika.
Tiba-tiba Ika teringat dengan mata kuliah Dinamika populasi dari Pak Fiqi yang tertinggal hari ini,  Ia jadi bingung dan kuatir,  pasti ia tak lulus. Ahh!  Tapi kemudian ia rela meskipun harus mengulangnya tahun depan.  Nyawa seseorang lebih penting dari sebuah nilai A sekalipun.  Ika sudah siap mengulang di tahun depan.
Sebulan setelah peristiwa itu,  ketika Ika sedang bersantai di teras rumah sambil membaca novel kesukaannya,  tiba-tiba di depan rumahnya berhenti sebuah mobil sedan.  Seseorang tampak turun dari dalamnya.  Ika yang sedang duduk sendiri di teras tak acuh karena merasa tak mengenalnya.  Ia hanya melihat sekilas lalu kembali asyik melanjutkan bacaannya.
Dari kejauhan orang itu nampak tersenyum kepadanya,  Ika tetap tak bereaksi.  Tapi setelah cukup dekat,  ia baru menyadari siapa yang berdiri di hadapannya itu.
“Ayub?”  ia sedikit tak percaya.  Orang itu hanya mengangguk tersenyum.  Rambutnya sangat rapi dan tidak panjang seperti yang dulu.  Ia begitu bersih dan cakep,  sangat jauh dari kesan brutal dan nakal,  apalagi untuk disebut sebagai preman.
“Aku datang untuk berterimah kasih kepadamu,”  ucapnya sesaat setelah ia dipersilahkan duduk.
“Kalau tidak ada Kamu,  mungkin aku sudah…”
“Sudahlah,  aku tak memerlukan semua ucapan itu,”  potong Ika cepat sedikit tersipu.
“Aku sangat senang melihatmu sehat,”  Ayub menarik nafas pendek.
“Bukan,  bukan cuma itu.  Tapi untuk semua yang telah kamu lakukan padaku,”  lanjutnya lagi sambil tersenyum lebar.  Dahi Ika berkerut heran dan tak mengerti maksudnya.
“Mungkin kamu tak perlu tau,  kalau sikapmu yang selalu baik,  telah membuka mataku selama ini.  Dan mengenai peristiwa yang terjadi sampai aku di rumah sakit adalah akhir dari kesalahanku sendiri.  Kamu sangat baik,  meskipun kami cukup mengusikmu,  termasuk dengan masalah mangga itu,”  akunya jujur membuat Ika tergelak.
“O iya,  ini untuk mengganti seluruh biayaku dulu.  Maaf baru sekarang aku bisa datang,  karena aku sedang taraf penyembuhan.”  Tangannya mengangsurkan sebuah amplop putih yang berisi sejumlah uang.
“Tapi,  semua itu bukan uangku.  Sebenarnya aku telah mendapat bantuan dari teman-teman aktifis PMI dikampusku,”  jelasnya cepat.  Ayub terpaku tak percaya.  Ternyata Ika telah melakukan sejauh itu untuk dirinya,  orang yang sebenarnya belum terlalu dikenalnya.
“Baiklah.  Tapi aku mau,  kamu menerimanya.  Mungkin suatu hari nanti akan ada yang memerlukannya bila ada yang mengalami seperti aku,”  lanjutnya lagi mengharap Ika untuk menerima uang itu.  Setelah berfikir sejenak,  akhirnya Ika mengangguk setuju. 
“Baiklah kalau begitu.  Lebih baik aku sumbangkan ke temanku di PMI.  Pasti masih banyak yang membutuhkannya.”  diikuti anggukan Ayub tanda setuju.
Lalu keduanya terlibat obrolan ringan dan santai.  Ayub bahkan menceritakan sebagian kisahnya.
“Aku kecewa dengan Papaku.  Dia memintaku untuk mengambil kedokteran selepas smu,  padahal aku sangat suka dengan teknik.  Kami sama-sama keras dan bertahan pada pendapat masing-masing.  Tak ada pilihan lain,  aku protes,  bahkan sengaja membuat onar di sekolah sehingga aku dikeluarkan saat aku sudah kelas 3,”  matanya menerawang mengingat masa lalunya,  senyumnya getir.
“Papaku marah sekali setelah peristiwa itu dan tak peduli lagi padaku.  Ia bahkan menganggap aku telah mencemarkan nama baiknya.  Aku semakin tak betah berada di rumah,  walaupun Mamaku orangnya sangat baik,  dan mengerti aku,”  Ia lalu tersenyum meskipun terdengar sumbang.
“Aku tak memiliki kegiatan setelah itu dan memilih meninggalkan rumah.  Hanya sesekali saja aku pulang untuk menemui mama.  Bahkan akhirnya,  aku lebih sering bergabung dengan teman-teman baruku semua yang rata-rata pengangguran dan putus sekolah seperti aku,  seperti yang sering kamu lihat sendiri,”  tawanya lalu lepas.
“Jadi kamu pelarian rupanya?”  Ika menggelengkan kepala sedikit menyentilnya.
“Tapi satu hal,  teman-temanku semua baik,  termasuk kapadaku.  Bersama mereka aku merasa tenang.  Bahkan aku kadang merasa lebih berharga,”  ujarnya lebih mirip sebagai  pujian pada teman-temannya.
“Tapi kamu tahu itu tidak akan selamanya kan?”  sela Ika.  Ayub mengangguk setuju.
“Kamu benar.  Memang aku sempat melakukan kesalahan dan semakin tenggelam melakukan hal-hal yang tidak berguna,”  senyumnya berubah tawar.
“Tapi aku sudah membayar semua kesalahanku,  dan sekarang aku sadar meskipun agak terlambat.”  Ika hanya menatapnya dan tersenyum mengerti.
“Belum,  kamu belum terlambat,”  dukung Ika membuat Ayub tersipu.
“Oh iya,  besok aku akan ke Jakarta,”  lanjut Ayub kemudian.
“Kamu mau jadi preman beneran ya di sana?” goda Ika. Ayub tergelak.
  “Enggak...  Aku akan sekolah lagi dan mulai minggu depan aku akan berseragam smu lagi seperti dulu.  Wajah Ayub tersipu. 
“Jujur saja Aku malu untuk sekolah disini,  apa kata teman-temanku nanti,”  tawanya lepas,  begitu juga Ika yang sempat terkejut mendengar rencana itu.
“Biarlah.  Lebih baik kamu menertawaiku sekarang daripada menertawaiku besok,”  Ayuba mencoba diplomatis sehingga keduanya sama-sama terbahak.
Menjelang magrib akhirnya Ayub pamit,  Ia harus bersiap untuk keberangkatannya besok pagi. 
“Oh iya satu lagi,”  langkahnya tertahan sesaat hendak meninggalkan teras.
“Pak Fiqi telah memaafkanmu dengan kealpaanmu waktu itu.”
Ika merasa heran,  kenapa Ayub tahu kalau Pak Fiqi adalah dosennya dan mengenai alpanya tempo  hari?
“Kamu kenal dia?”  Tanya Ika penasaran,  tapi hanya dibalas dengan senyuman oleh Ayub.
“Dan satu lagi.  Aku akan pulang setiap liburan untuk menemuimu.  Bolehkan?”  ia sengaja tak menjawab pertanyaan Ika,  malah mengalihkan ke hal yang lain.  Tiba-tiba Ika merasa telah salah tingkah denga tatapan dan senyumannya yang kali ini terasa lain kepadanya,  cukup lama,  membuatnya tersipu tapi ia berusaha tetap tenang.
“Pak Fiqi,  kamu tau darimana kalau dia Dosenku?”  lanjutnya lagi masih penasaran sekaligus untuk mengalihkan kegugupannya.  Tapi Ayub malah berlalu dan berlagak tak acuh,  membuatnya bengong.
Saat mobil hendak berlalu,  sejenak Ayub lalu menyembulkan kepalanya.
“Dia papaku!”  serunya kemudian denga santai,  sambil melambaikan tangan disertai senyum lebarnya  menyaksikan Ika yang berdiri dan terpana hampir tak percaya.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar