Ika baru saja hendak merebahkan
tubuhnya untuk istirahat, ketika tiba-tiba suara gaduh itu muncul. Dari sebuah cela kamar Ia melihat gerombolan
anak muda yang sama dengan kemarin. Ia
yang merasa lelah setelah mengerjakan tugas fisika. Hampir semalaman Ia merasa
terganggu. Diantara mereka ada seseorang
yang berambut gondrong yang kelihatan bertindak sebagai dalangnya.
Tapi ia sudah capek untuk
menugur, tak mau lagi. Kemarin bahkan ada salah satu yang
mengejeknya saat ia mencoba meminta semuanya untuk berhenti mengambil mangga di
pekarangan samping. Pohon mangga milik
Pamanya itu selalu menjadi bumerang jika
musim berbuah.
Sebenarnya ia sendiri sangat malas
untuk menjaganya, apalagi anak-anak muda
di daerah ini terkenal sangat nakal. Tapi sudah terlanjur, karena sekarang ia sudah berada di sini. Ia harus tinggal di rumah pamannya selama
mereka sedang mendapat tugas dinas di Makassar,
Akh! Kasian banget aku ini, keluhnya dalam hati.
Suara mereka mulai sahut-menyahut
bersamaan dengan suara-suara mangga yang berjatuhan. Ia menahan geram dalam hati. Sejenak ia hanya bisa tercenung, tak bias berbuat apa-apa. Tapi sesaat kemudian ia mendapat ide untuk
bergabung dengan ‘pesta’ itu.
Mungkin memang sudah waktunya
sebagian buah pohon mangga itu harus disedekahkan.
Ia mencoba menenangkan hatinya. Perlahan ia membuka jendela yang tadi sengaja
ditutupnya, sehingga taka da yang
menyangka ada orang di dalamnya. Karena
sebenarnya mereka tidak akan senekat itu bila mengetahui ada orang di dalam
rumah.
Saat daun jendela terbuka lebar, tiba-tiba saja anak muda yang sibuk berpesta
itu terpaku. Jumlahnya ada tujuh orang
dan Ika memandanginya satu persatu tanpa ekspresi. Suasana sejenak mendadak kaku.
“Dia Kak yang ambil!” teriak salah seorang anak yang menjadi
penadah memecah suasana beku. Ia tahu
kata ‘Kak’ itu adalah sebuah nada penghormatan sekaligus dirasakannya sebagai
ejekan. Karena ia tahu mereka seumuran
dengannya.
“Bukan, tapi dia Kak!” sahut yang di tunjuk membela diri. Mereka lalu saling tunjuk menyalahkan. Kecuali seseorang yang saat ini berada di
atas pohon, orang yang berambut gondrong
itu, dia hanya diam. Tangannya yang baru saja hendak meraih buah
mangga yang ranum jadi urung dan nampak salah tingkah. Aktifitas mendadak berhenti, semua diam.
Sesaat kemudian Ika mengembangkan
senyumnya dan sedikit bersikap ramah.
“Boleh ambil, tapi tolong jangan terlalu ribut!” semua semakin terpana dan tak percaya. Ika sudah menduganya, tapi ia pura-pura tak menyadarinya. Ia bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
“Dan tolong juga, sampahnya diangkat kalo sudah selesai ya,” lanjutnya lagi masih tetap berdiri di balik
daun jendela. Jelas sekali mereka jadi
salah tingkah, bahkan kelihatan ragu
untuk melanjutkannya.
“Boleh aku minta satu?” Ika lalu mencoba untuk mencairkan kekakuan
yang belum hilang. Selanjutnya ia
berbalik pura-pura mengerjakan tugas kimia di meja belajarnya sambil sesekali
matanya masih melirik ke luar, ia batal
untuk tidur siang.
Ika sempat melihat perubahan ekspresi
di wajah-wajah yang ada di tempat itu.
Sikap Ika yang bersahabat justru melunakkan mereka. Padahal Ika sadar bahwa yang sedang di
hadapinya ini adalah termasuk biang onar.
Masih dengan ragu, anak yang berambut gondrong itu memetik
sejumlah mangga. Ia nampak buru-buru
menyembunyikan sesuatu di saku celananya,
yang ternyata adalah kantong plastik yang tadi hendak diisinya
penuh, seperti kemarin. Lalu ia perlahan turun dari pohon hanya
membawa dua buah mangga.
Dengan sekali komando, semua yang bersamanya meninggalkan pekarangan
dengan tertib sambil memungut daun yang jatuh,
kecuali orang itu, sebuah pemandangan yang sedikit aneh.
“Ini mangganya, Kak,”
katanya kemudian terdengar sopan.
Ika yang sedang pura-pura asyik mengerjakan tugas Kimia menoleh, dan kemudian mendekati asal suara itu. Pemuda berambut gondrong itu sedang berdiri
di luar jendela kamarnya sambil menenteng dua buah mangga yang cukup besar
untuknya.
“Makasih ya?” ucapnya Ika ramah menerima mangga itu, si Gondrong hanya tersenyum sedikit salah
tingkah lalu pergi tanpa bersuara lagi.
***
“Mau ke mana Kak?” suara itu mengejutkan Ika. Ia menoleh dan tampak seseorang sedang
menjajari langkahnya. Ia lalu tersenyum
setelah melihat cowok gondrong yang dulu.
Sudah seminggu ini ia tak melihatnya dan sudah seminggu pula ia tak
melihat aktifitas ‘panen mangga’.
Anehnya semua menjadi tenang setelah itu, bahkan pohon mangga itu kini lebih aman.
“Ke kampus,” jawab Ika ramah. Ia menangkap persahabatan dalam sikap orang
itu.
“Panggil saya Ayub,” ujarnya kemudian sambil menyebut nama tanpa
diminta. Ika mengangguk manis, ia merasa sedikit tenang melihat sikap anak itu yang jauh beda dengan
sebelumnya. Lalu mereka berpisah tanpa sempat sekedar berbasa-basi lagi, karena
Ika buru-buru harus ke kampus.
Jam menunjukkan pukul 10.00
malam, dan ia baru saja pulang dari
rumah temannya untuk mengerjakan tugas Fisika Dasar. Sedikit ada rasa kuatir yang dirasakannya
saat pulang, apalagi ini baru pertama
kali ia pulang malam, itupun terpaksa. Tugas itu harus di kumpul besok jam 07.00
pagi. Tentu saja ia harus pulang ke
rumah, meskipun sahabatnya, Rina telah menawarinya untuk menginap. Ia tak ingin terlambat ke kampus.
Suasana saat itu memasuki kompleks
perumahan nampak sepi. Sesekali ia masih
mendengarkan siulan orang-orang usil yang membuatnya merinding. Apalagi rumah
Pamannya itu cukup jauh dari jalan utama, sehingga sempat juga membuatnya merasa takut.
Di sebuah tikungan jalan nampak
sekumpulan anak muda sedang berkumpul di pinggiran jalan.
“Ika!” Ia terhenyak. Awalnya ia tak mau merespon, tapi ketika suara itu muncul lagi, ia seperti mengenalnya, ia lalu perlahan
menoleh. Salah seorang dari kelompok
yang jumlahnya belasan orang itu memanggilnya,
membuat sedikit salah tingkah.
Matanya mencoba mencari-cari sumber suara itu sambil tetap berjalan
pelan.
“Dari belajar ya?” suara orang yang memanggilnya tadi terdengar
lagi. Sekarang ia bias melihat orang
yang menyebut namanya itu, sambil masih
tetap berjalan, ternyata si gondrong, Ayub.
Ia lalu mengangguk tersenyum dan mencoba mengarahkan pandangannya pada
semula meski dengan rasa salah tingkah. Kemudian
Ia sedikit mempercepat langkahnya.
Hatinya sangat lega setelah sampai di rumah.
Saat itu pukul 01.00 dinihari, suara letusan
senapan terdengar jelas. Ika mencoba
mengintip dari balik tirai. Beberapa
polisi nampak sedang mengejar sekelompok anak muda yang terlihat sedang
berlaian berpencar. Dan kemudian
terlihat ada bayangan roboh. Padahal
baru lima menit lalu Ika masih mendengar nyanyian suara dari kelompok anak muda
itu. Mereka selalu berkumpul di tempat
yang sama setiap malamnya. Tempat yang
juga selalu dilalui oleh Ika.
Sejujurnya Ika sangat menyukai
suaranya yang sangat bagus, meskipun ia
tak tahu siapa di antara mereka yang memiliki suara indah itu. Lagu pelangi
dimatamu mengalir sempurna hingga selesei,
sampai akhirnya terjadi peristiwa itu.
Ia hanya tahu bahwa anak-anak muda di
lingkungannya itu sering terlibat perkelahian,
bahkan kadang membuat onar, meskipun
tidak semuanya. Sehingga tak jarang
petugas datang mengadakan rasia secara mendadak dan membuat kelompok mereka
bubar. Karena itu, Ika senang berada di daalam rumah, lebih aman.
Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul
06.10 Ika mendengar suara ketukan pintu
jelas sekali. Meski ragu Ika
membukanya. Nampak didepan pintu sedang
berdiri dua anak muda dengan wajah yang kusut.
Ini masih sangat pagi..
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Ika dengan ramah sesaat setelah ia
mempersilahkan keduanya duduk. Ika tak
mengenal jelas mereka, tapi ia pernah
melihatnya salah satunya ada diantara orang-orang yang berdiri dibawah pohon manga
kala itu.
“Kami diminta tolong untuk menjemput
Kakak,” ujar salah satu kemudian membuka
percakapan.
“Saya?” Ika menunjuk dirinya ragu.
“Siapa yang meminta?” Ia tak mengerti.
“Teman kami, Ayub.
Dia sekarang ada di rumah sakit,”
jelasnya yang satu lagi.
Ayub?
Ika mencoba untuk menginggatnya. Oh
anak yang berambut gondrong itu.
“Ada apa?”
“Dia meminta Kakak untuk
melihatnya,” ujar yang seorang
lagi, membuat Ika semakin bingung. Ada urusan apa sehingga ia diminta kesana?
“Tapi Saya….”
“Tolonglah Kak kali ini saja,” mereka terdengar memohon.
“Ini sangat darurat” jelas salah satunya dengan wajah pucat dan
kuatir.
Setelah berfikir sejenak, akhirnya Ika menyetujui dengan syarat hanya sebentar, karena siang ini akan ada kuliah Pak Fiqi
yang bisa eror bila alpa meskipun hanya sekali.
Bau obat yang menyengat menyelimuti
seluruh ruangan. Ia sama sekali tak pernah
suka berada di rumah sakit, karena ia
selalu merasa tak nyaman melihat orang yang sedang sakit.
Dua orang itu lalu membawanya ke
ruangan ICU. Ika memasuki ruangan dengan
perasaan ragu. Sekilas ia menyaksikan
seseorang sedang terbujur lemah di sana.
Dia sedang menatap ke arahnya dengan senyum yang tipis dan dipaksakan. Sesekali ia meringis seperti menahan
sakit, tapi ia nampak terabaikan. Memang benar dialah Ayub.
Hatinya seketika tersentuh dan
terenyuh menyaksikan pemandangan itu.
Untuk beberapa saat ia hanya terpaku tak bersuara.
“Ika?” Ayub menyebut namanya lirih seolah mereka
pernah akrab. Ika mencoba untuk
tersenyum, sementara teman-temannya yang
lain satu persatu meninggalkan ruangan.
“Maaf, merepotkan,”
katanya lagi.
“Kamu kenapa?” Ika mencoba untuk bersikap peduli dan sengaja
membuat seolah mereka memang dekat. Ia
bahkan gagal menyembunyikan kekhawatirannya melihat keadaannya.
“Nggak pa-pa, cuma sedikit ada yang salah tadi malam,” katanya lirih berusaha untuk tetap
tersenyum. Hal itu menginggatkan Ika
tiba-tiba pada peristiwa tadi subuh saat melihat ada seseorang yang rubuh, mungkinkah dia?
Ika mencoba menemui suster jaga untuk
meminta penjelasan, apalagi ia masih
jelas mengingat peristiwa yang menimpa Pamannya saat mengalami kecelakaan yang
tidak mendapat perhatian, hanya karena
pihak rumah sakit belum mengetahui siapa yang akan bertanggung jawab untuk
semuanya, termasuk biaya. Dirinya sangat yakin, hal ini sedang dialami oleh Ayub yang
kondisinya nampak semakin lemah. Miris
sekali.
Tiba-tiba Ayub merintih menahan
sakit, membuat Ika semakin iba. Sepertinya dia tak memiliki keluarga, atau kalau pun ada, mungkin tak ada yang mau peduli. Sebab ia sedang menjadi bagian dari anak-anak
muda yang memiliki reputasi buruk yang di lingkungan. Tapi bagaimanapun dia juga manusia, Ika membatin.
Rasa kemanusiaannya terusik untuk peduli. Ika sama sekali tak pernah berfikir
sebelumnya ia akan terlibat dengan orang itu.
Ika menghubungi temannya di aktifis
PMI untuk mencari solusi, bahkan
ia juga sempat menyumbangkan darahnya.
Akhirnya operasi berjalan
lancar, hingga selesai. Setelah Ayub sadar dari pengaruh obat
bius, Ika lalu memutuskan untuk pamit
kepada teman-teman Ayub yang tetap setia menunggunya. Mereka nampak sangat berterima kasih kepada
Ika.
Tiba-tiba Ika teringat dengan mata
kuliah Dinamika populasi dari Pak Fiqi yang tertinggal hari ini, Ia jadi bingung dan kuatir, pasti ia tak lulus. Ahh! Tapi kemudian ia rela meskipun harus
mengulangnya tahun depan. Nyawa seseorang
lebih penting dari sebuah nilai A sekalipun.
Ika sudah siap mengulang di tahun depan.
Sebulan setelah peristiwa itu, ketika Ika sedang bersantai di teras rumah
sambil membaca novel kesukaannya,
tiba-tiba di depan rumahnya berhenti sebuah mobil sedan. Seseorang tampak turun dari dalamnya. Ika yang sedang duduk sendiri di teras tak
acuh karena merasa tak mengenalnya. Ia
hanya melihat sekilas lalu kembali asyik melanjutkan bacaannya.
Dari kejauhan orang itu nampak
tersenyum kepadanya, Ika tetap tak
bereaksi. Tapi setelah cukup dekat, ia baru menyadari siapa yang berdiri di hadapannya
itu.
“Ayub?” ia sedikit tak percaya. Orang itu hanya mengangguk tersenyum. Rambutnya sangat rapi dan tidak panjang
seperti yang dulu. Ia begitu bersih dan
cakep, sangat jauh dari kesan brutal dan
nakal, apalagi untuk disebut sebagai
preman.
“Aku datang untuk berterimah kasih
kepadamu,” ucapnya sesaat setelah ia dipersilahkan
duduk.
“Kalau tidak ada Kamu, mungkin aku sudah…”
“Sudahlah, aku tak memerlukan semua ucapan itu,” potong Ika cepat sedikit tersipu.
“Aku sangat senang melihatmu
sehat,” Ayub menarik nafas pendek.
“Bukan, bukan cuma itu. Tapi untuk semua yang telah kamu lakukan
padaku,” lanjutnya lagi sambil tersenyum
lebar. Dahi Ika berkerut heran dan tak
mengerti maksudnya.
“Mungkin kamu tak perlu tau, kalau sikapmu yang selalu baik, telah membuka mataku selama ini. Dan mengenai peristiwa yang terjadi sampai aku
di rumah sakit adalah akhir dari kesalahanku sendiri. Kamu sangat baik, meskipun kami cukup mengusikmu, termasuk dengan masalah mangga itu,” akunya jujur membuat Ika tergelak.
“O iya, ini untuk mengganti seluruh biayaku
dulu. Maaf baru sekarang aku bisa datang, karena aku sedang taraf penyembuhan.” Tangannya mengangsurkan sebuah amplop putih
yang berisi sejumlah uang.
“Tapi, semua itu bukan uangku. Sebenarnya aku telah mendapat bantuan dari
teman-teman aktifis PMI dikampusku,”
jelasnya cepat. Ayub terpaku tak
percaya. Ternyata Ika telah melakukan
sejauh itu untuk dirinya, orang yang sebenarnya
belum terlalu dikenalnya.
“Baiklah. Tapi aku mau,
kamu menerimanya. Mungkin suatu
hari nanti akan ada yang memerlukannya bila ada yang mengalami seperti
aku,” lanjutnya lagi mengharap Ika untuk
menerima uang itu. Setelah berfikir
sejenak, akhirnya Ika mengangguk
setuju.
“Baiklah kalau begitu. Lebih baik aku sumbangkan ke temanku di
PMI. Pasti masih banyak yang
membutuhkannya.” diikuti anggukan Ayub
tanda setuju.
Lalu keduanya terlibat obrolan ringan
dan santai. Ayub bahkan menceritakan
sebagian kisahnya.
“Aku kecewa dengan Papaku. Dia memintaku untuk mengambil kedokteran
selepas smu, padahal aku sangat suka
dengan teknik. Kami sama-sama keras dan
bertahan pada pendapat masing-masing.
Tak ada pilihan lain, aku protes, bahkan sengaja membuat onar di sekolah
sehingga aku dikeluarkan saat aku sudah kelas 3,” matanya menerawang mengingat masa lalunya, senyumnya getir.
“Papaku marah sekali setelah
peristiwa itu dan tak peduli lagi padaku.
Ia bahkan menganggap aku telah mencemarkan nama baiknya. Aku semakin tak betah berada di rumah, walaupun Mamaku orangnya sangat baik, dan mengerti aku,” Ia lalu tersenyum meskipun terdengar sumbang.
“Aku tak memiliki kegiatan setelah
itu dan memilih meninggalkan rumah.
Hanya sesekali saja aku pulang untuk menemui mama. Bahkan akhirnya, aku lebih sering bergabung dengan teman-teman
baruku semua yang rata-rata pengangguran dan putus sekolah seperti aku, seperti yang sering kamu lihat sendiri,” tawanya lalu lepas.
“Jadi kamu pelarian rupanya?” Ika menggelengkan kepala sedikit
menyentilnya.
“Tapi satu hal, teman-temanku semua baik, termasuk kapadaku. Bersama mereka aku merasa tenang. Bahkan aku kadang merasa lebih
berharga,” ujarnya lebih mirip
sebagai pujian pada teman-temannya.
“Tapi kamu tahu itu tidak akan
selamanya kan?” sela Ika. Ayub mengangguk setuju.
“Kamu benar. Memang aku sempat melakukan kesalahan dan
semakin tenggelam melakukan hal-hal yang tidak berguna,” senyumnya berubah tawar.
“Tapi aku sudah membayar semua
kesalahanku, dan sekarang aku sadar
meskipun agak terlambat.” Ika hanya
menatapnya dan tersenyum mengerti.
“Belum, kamu belum terlambat,” dukung Ika membuat Ayub tersipu.
“Oh iya, besok aku akan ke Jakarta,” lanjut Ayub kemudian.
“Kamu mau jadi preman beneran ya di
sana?” goda Ika. Ayub tergelak.
“Enggak... Aku akan sekolah lagi
dan mulai minggu depan aku akan berseragam smu lagi seperti dulu. Wajah Ayub tersipu.
“Jujur saja Aku malu untuk sekolah
disini, apa kata teman-temanku
nanti,” tawanya lepas, begitu juga Ika yang sempat terkejut
mendengar rencana itu.
“Biarlah. Lebih baik kamu menertawaiku sekarang
daripada menertawaiku besok,” Ayuba
mencoba diplomatis sehingga keduanya sama-sama terbahak.
Menjelang magrib akhirnya Ayub
pamit, Ia harus bersiap untuk
keberangkatannya besok pagi.
“Oh iya satu lagi,” langkahnya tertahan sesaat hendak
meninggalkan teras.
“Pak Fiqi telah memaafkanmu dengan
kealpaanmu waktu itu.”
Ika merasa heran, kenapa Ayub tahu kalau Pak Fiqi adalah
dosennya dan mengenai alpanya tempo hari?
“Kamu kenal dia?” Tanya Ika penasaran, tapi hanya dibalas dengan senyuman oleh Ayub.
“Dan satu lagi. Aku akan pulang setiap liburan untuk
menemuimu. Bolehkan?” ia sengaja tak menjawab pertanyaan Ika, malah mengalihkan ke hal yang lain. Tiba-tiba Ika merasa telah salah tingkah
denga tatapan dan senyumannya yang kali ini terasa lain kepadanya, cukup lama,
membuatnya tersipu tapi ia berusaha tetap tenang.
“Pak Fiqi, kamu tau darimana kalau dia Dosenku?” lanjutnya lagi masih penasaran sekaligus
untuk mengalihkan kegugupannya. Tapi
Ayub malah berlalu dan berlagak tak acuh,
membuatnya bengong.
Saat mobil hendak berlalu, sejenak Ayub lalu menyembulkan kepalanya.
“Dia papaku!” serunya kemudian denga santai, sambil melambaikan tangan disertai senyum
lebarnya menyaksikan Ika yang berdiri
dan terpana hampir tak percaya.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar