“Maksudku, kali ini aku mau kau menemaniku ke acara
temanku.”
“Gila kamu!” aku merasa jengah dengan tatapannya yang
tiba-tiba aneh.
“Aku mau pulang!” ia sedikit terkejut melihatku cemberut.
“Kali ini saja, please…”
ucapnya sedikit memohon, sehingga
mau tak mau membuat aku terdenyum geli.
Seingatku, belum pernah ia
melakukan ini padaku sebelumnya.
“Kamu bisa mengajak pacar kamu
kan ?” ujarku kemudian.
“Kamu masih marah yak arena aku
bohong ?”
“Dua-duanya!” jawabku agak ketus.
“Iya, iya,
aku ngaku salah. Kalau selama ini
aku tau kamu melakukan semua hanya untuk Eyang,
kali ini aku memohon, boleh kan
?” katanya sedikit memelas tapi aku tahu
ia hanya bercanda.
“Lagian, yang kamu maksud pacarku itu, aku sendiri tah tahu. Sungguh aku belum
punya,” ia mencoba meyakinkanku.
“Jadi, karena belum ada, kamu mau memanfaatkanku ?”
“Sorri, sama sekali aku tak punya niat sejahat
itu,” jawabnya cepat.
“Aku tak mau peristiwa itu
terulang lagi, saat pacarmu datang ke kampus
hanya untuk membuatku malu di hadapan teman-temanku,” nadaku sedikit melunak.
“Pacar ? maksud kamu ?”
“Aku tak tahu, yang jelas aku pernah melihatnya saat kita
berpapasan di gerbang saat pertama kali kamu mengantar aku pulang. Dia datang memakiku seenaknya, bahkan menuduhku telah memanfaatkan Eyang
untuk mengambilmu darinya. Aneh
kan, padahal waktu itu aku bahkan belum
mengenalmu.”
“Irin, maksudmu?”
“Bukan. Ia meyebut namanya Pinkan?” dasar!
pacar saja sampai lupa. Mana aku
tahu siapa lagi Irin, bagiku semua sama saja.
“Oke, lupakan dia.
Hal itu tak akan terulang lagi,
swear!” ia mengacungkan kedua
jarinya sungguh-sungguh.
“Tapi, kamu mau kan menemaniku?” pintanya lagi. Sebenarnya aku malas, tapi melihat sikapnya, akhirnya aku jadi luluh juga, walau aku tak secara langsung mengiyakannya.
“Oke, diam berarti setuju,” soraknya girang sambil menginjak pedal gas dan melaju sambil tersenyum puas.
***
Suasana
pesta cukup ramai, sayangnya aku sama
sekali tak mengenal siapa pun yang hadir.
Mereka nampak sudah terbiasa dengan acara seperti ini. Hanya aku sendiri yang nampak canggung, apalagi setiap melewati mereka, tatapannya penuh selidik padaku.
Aku terkejut ketika tiba-tiba
beberapa teman perempuannya tanpa rasa risih mengelayut manja di lengan
Bion. Semua bahkan nampak tak peduli
padaku yang sedang berdiri di sampingnya.
“Kamu sekarang kok jarang hadir
sih di acara kita? lagi sibuk nguru
Eyang atau …sibuk…” salah seorang
melirik sinis padaku, tapi aku membalasnya
dengan pura-pura tak peduli.
“Lugu banget Bion,” katanya berbisik, namun cukup keras untuk bisa ku dengar.
“Keluargaku dari Banyuwangi,” ujar Bion bohong, tapi sedikit menyelamatkan aku.
Dia lalu mengajakku berkenalan
dengan teman-temannya yang lain. Dengan perasaan
yang masih canggung dan sedikit salah tingkah,
aku menyalami mereka satu persatu,
sampai terasa bosan dan gerah.
Aku semakin tak betah berada di
sini dan juga tak menyenangi situasi yang ada.
Apalgi aku sama sekali tak mampu membaur dengan mereka. Rasanya lebih asyik duduk di lesehan bersama
teman-teman di pondok ayam bakar pak Dani.
Jelas sekali Bion benar-benar
bagian mereka yang sangat penting, atau
bahkan dia termasuk primadona. Sangat
jelas sekali bagaimana mata-mata mereka yang jelas sekali kurang menyenangi
kehadiranku bersama Bion, meskipun Bion
telah mengatakn bahwa aku adalah keluarganya.
Tapi diam-diam aku justru
menikmati suasana itu yang tentu saja membuat aku merasa lebih rileks.
“Kamu suka ?” siara Bion sangat dekat sekali dengan
telingaku. Aku sampai mendengar
nafasnya. Aku terkejut. Melihatku demikian,
ia hanya tertawa.
“Aku bosan, mau pulang aja,” kataku jujur.
“Tadi, aku lihat kamu senyum.”
“Memang salah?” jawabku malas.
“Enggak, aku pikir kamu merasa senang aja. Tapi jangan marah dong, ini minum dulu,” setengah membujuk ia menyodorkan segelas soft
drink dingin kepadaku.
“Sebelum pulang, aku akan memperkanalkanmu dengan temanku yang
lain, yuk,” ia langsung menarik tanganku. Aku berusaha menariknya, tapi ia lebih kuat memegang pergelanganku.
Sampai akhirnya
di sebuah sudut bagian belakang taman,
kami bertemu dengan perempuan cantik.
Dia adalah orang yang pernah datang padaku. Dia menyambut Bion dengan mesra, tapi jelas sekali memandangku dengan sikap tak
senang.
“Hai, Rin,
kenalkan ini Nanda.” Kami
sama-sama tak bereaksi, dan tentu saja
hal itu di sadari pleh Bion. Aku bahkan
tak peduli lagi bagaimana ekspresi wajahku,
karena memang aku sudah berusaha untuk menyembunyikan kemarahanku yang
masih trsisa dan kini muncul kembali saat menatap perempuan yang maih jelas
dalam ingatanku itu.
“Kamu tahu Rin, sandiwara kita berhasil,” lanjut Bion tanpa peduli dengan suasana yang
ada antara kami.
“Dia cemburu Rin, lihat kamu tempo hari. Yah,
waktu itu memang kami lagi bentrok,”
aku bingung dengan ucapan Bion yang tiba-tiba jadi ngalor-ngidul, padahal ia tak sedang mabuk.
“Sebenarnya aku mau kenalkan
kamu tempohari, tapi suasana masih
panas, jadi sekarang baru sempat. Gimana,
cocokkan?” Bion terus saja bicara
dan tiba-tiba merangkulku yang membuatku gerah.
Sedang Irin kali ini benar-benar tak dapat menyembunyikan kemarahannya
pada Bion. Aku mencoba melepaskan
rangkulan tangan Bion yang cukup keras,
tapi ia tetap tak melepaskannya.
“Ayok Nan, sekarang kita ke sana, aku kenalkan kamu pada Audy,” Bion dengan tenang mengajakku meninggalkan
Pinkan yang masih termanggu. Ia nampak
marah, seperti hendak protes kepada
Bion, tapi….
“Yuk Rin, have a
nice time ya…”
Aku sendiri tak suka dengan apa
yang baru saja di lakukannya padaku.
Bion lalu menarikku ke salah salah sudut taman yang lain.
“Sori Nan, aku tau kamu pasti marah dengan sikapku
tadi, karena itu biarkan aku
menjelaskannya,” baru saja aku mau
protes, Bion telah mendahuluiku.
“Aku sengaja melakukannya untuk
membuat dia jera. Dia gadis yang
nekat, dan mau melakukan apa saja untuk
mewujudkan keinginannya. Bahkan kau
sendiri tau apa yang telah di lakukannya padamu kan?” sekarang aku mulai mengerti maksud semua
sikap Bion. Tapi bukan berarti aku harus
setuju dia berbuat begitu padaku, ia
bisa besar kepala nantinya.
“Jadi, kamu mau bilang padaku, kalau dia itu nekat berbuat apapun untuk
memilikimu, begitukan maksud kamu hmm?” aku mencibir,
Bion kelihatan sedikit malu.
“Aku tak bilang demikian, tapi nyatanya memang demikian,” ia membela diri sambil mengangkat kedua
bahunya dengan yakin.
“Sekarang kau puas dengan
kemenanganmu?” aku tak suka melihat
sikapnya yang agak keg e-er-an.
“Oke oke, aku kalah.
Nggak pa-pa, yang penting kamu tidak
marah lagi khan?” Bion menatapku dan
sengaja menujukkan ekspresi wajah yang memelas dan lucu, tapi aku sengaja membuang muka dan cemberut.
“Kamu tau tidak?” lanjutnya tak peduli, “Kalau kamu cemberut begitu, kelihatannya lebih cantik dibanding kalau
kamu tersenyum,” Bion benar-benar sedang
mengerjaiku. Dan ternyata dia
berhasil, karena aku bisa merasakan
bagaimana ia berhasil membuat mukaku merah karena malu.
“Gila kamu!” aku tak dapat menahan senyum kali ini dan
dibalasnya dengan tawa penuh kemenagan.
***
“Kak
Nanda…kak Nanda!” suara Sisu terdengar
dari balik pintu kamar.
“Ada apa sayang?”
“Ada telepon dari Jakarta.”
Jakarta? Apa tidak salah, siang-siang begini? Lagian aku tak punya kanalan di Jakarta, atau mungkin kak Dino yang kemarin rencana
ikut study tour. Aku bergegas menuju ke
ruang tengah.
“Halo!...halo!...” aku tak mendengar suara orang di sana.
“Halo!” mungkin aku terlambat
mengangkat telpon.
“Halo, Nanda?”
“Benar. Siapa ini?”
aku tak mengenali suara itu.
“Duuh, baru kemaren nggak ketemu sudah lupa
begitu,” protes pemilik suara itu. Sungguh aku tak tahu, tapi,
aku seperti pernah mendengar nada bicaranya yang tidak asing di
telingaku.
“Bi-on?’ tanyaku ragu.
“Kok tau?” hm bener dia lagi.
“Nan, aku sekarang lagi di Jakarta, sori nggak ngasih tau kamu. Tadi pagi aku berangkat karena Eyang minta di
jemput.” Siapa juga yang nanya? Tapi,
sujujurnya aku merasa senang dia menelpon.
“Besok aku baru balik, kamu mau pesan apa?”
“Enggak ada.”
“Bener nih? Nanti nyesel lo” ujarnya yakin.
“Bener! Aku nggak pengen apa-apa.”
“Ya sudah kalau gitu, daa…” tiba-tiba tak terdengar suara, tapi tidak terdengar nada putus?
“Halo! Halo!...”
“Halo Bion? Halo!?”
“Halo…aku masih di sini. Kamu takut kan aku sudah pergi?” suaranya ngakak setelah berhasil melihatku
bingung.
“Enak aja! Aku cuma mau nitip salam buat Eyang.”
“Yaah…kok Eyang terus sih. Iya deh,tapi Nan…”
“Apa lagi ?”
“Kamu sudah buka tas kamu ?
sori, kemaren aku membukanya. Ups…bukan aku mengeledah lo, cuma mau kasih tau kalu sekarang aku bisa
ngarang. Untuk yang pertama, biar aja kamu yang membacanya, gimana?”
tumben dia jadi rajin nulis-nulis sekarang. Aku kira dia tidak minat dengan hal-hal
begituan.
“Pasti jelek!” ejekku spontan.
“Yah, terserah.
Yang pasti kamu baca dulu, baru
bisa menilai.”
“Kkalau begus, nanti aku kirim ke majalah atau tabloid. Honornya buat kamu semua deh. Tapi,
janji dulu mau baca ya?’
“Iya,iya. Gimana kabar Eyang?”
“Baik, dia juga tadi nitip salam. Jangan kuatir, dia punya oleh-oleh buat kamu. Jadi ngiri aku, masak aku nggak dibeliin apa-apa. Tapi bagus juga kalau begitu, aku kan nggak repot lagi mikirin hadiah buat
kamu?”
“Siapa juga yang perlu!”
“Wuih…sombongnya, sudah ya,
daa…!” Tuuut…telepon
langsung di tutup oleh Bion. Tapi
baru saja tiga langkah aku meninggalkan ruangan itu, telepon sudah berbunyi lagi.
“Halo…”
“Halo, Nan?!”
Bion lagi!
“Ada apa lagi?”
“Enggak, cuma mau ngucapin selamat malam buat
nanti, bye…” aku belum bicara sepatah katapun, dia sudah menutup telepon. Aneh sekali.
Entah kenapa, diam-diam aku semakin senang menerima telepon
darinya. Dia sekarang memang sangat
perhatian, tapi….kenapa aku malah jadi
ge-er juga sekarang ? Tidak boleh, ini
tidak boleh terjadi ! untung saja dia
tidak tahu.
Karangan? Hmm,
dia semakin aneh saja, hanya bisa
ngarang aja dibesar-besarkan, tapi aku
jadi penasaran juga. Benar, aku menemukan selembar kertas hasil
karyanya, pasti isinya lucu….
Kalau
aku mau jujur…sebenarnya aku pernah curiga padanya. Kalau boleh aku katakana, aku
tak sengaja mengenalnya.
Kalau nggak dimarahi,
aku juga mau bilang
dia lucu, meskipun
kadang keraaas banget
(batu kali ya)….
Aku tak dapat menahan tawa
membaca bagian itu, kemudian aku
melanjutkan lagi,….sayangnya, aku
tak pernah dan
belum berani jujur
untuk mengataknnya, meski
aku mulai curiga
pada hatiku, sepertinya
aku mulai suka
padanya. Sayang dia tak
pernah tau…dan seandainya
dia juga tau
bahwa aku tak
sedang ngelaba…. Norak?
Nggak pa-pa, ternyata
cara kampung asyik juga,
nggak buang-buang biaya,
nbener kan???
Mohon diperiksa
oleh redaksi yang ter…orisinil karya Bion.
Karangan atau surat ? kok norak banget. Puisi bukan,
cerpen bukan, tepi oke juga.
“Halo Nan, gimana sudah baca?” 5 menit setelah menutup
telpon, benar aja dia langsung menelpon kembali.
“Sudah, norak banget!” jawabku sekenanya sedikit mengejek untuk
mengintimidasinya.
“Biarlah, maklum orang lagi jatuh suka. Tau nggak,
karangan itu bener-bener lo,
bukan fiksi. Trus rencananya aku mau kasih ke orang di pesta
malam itu, ingat?”
“Ooo,” Cuma itu komentar dariku. Entah kenapa,
diam-diam ternyata aku merasa tak suka mendengarnya, tentu saja aku merasa hal itu benar-benar
konyol. Lalu kenapa harus aku yang
memeriksanya. Kenapa nggak langsung saja
di berikan ke yang bersangkutan ? Aku mencak-mencak sendiri dalam hati.
“Halo. Nanda tolong sampein ke orangnya?”
“Iya,” balasku acuh tak acuh. Sekarang malah aku yang jadi kampungan.
“Sudah ya, besok aku akan pulang, bye…” telepon lalu ditutup. Enak saja main suruh ngantar, emang aku kurir apa? Besok kan dia pulang, biar aja dia ngantar sendiri. Pura-pura saja aku lupa karena banyak
tugas, beres! Sekarang
aku merasa tenang karena telah punya alasan. Tiba-tiba telepon kembali berbunyi.
“Ya?!”
“Nanda? Masih kamu kan?” si kunyuk itu lagi rupanya, nggak bosan-bosannya.
“Sori Nan, aku nggak bisa nunggu. Sekarang aja disampein ya?”
Enak aja dia main paksa, makiku dalam hati.
“Nan, kamu kok nggak nanya siapa orangnya? Sudah tau ya?
Jangan-jangan kamu nanti malah salah alamat.” Benar juga,
aku baru adar kalau aku sendiri tak tahu siapa yang dimaksud, di pesta itu kan banyak orang.
“Kalau begitu, bilang deh sekarang,” jawabku malas.
“Sebenarnya orang itu…emm..tapi
rahasia ya?”
“Iya, bilang aja.”
“Emm sebenarnya, itu…buat …kamu sendiri,” suaranya terdengar mengecil dan nyaris
berbisik, tapi aku sangat jelas
mendengarnya, jelas sekali. Seketika dadaku terasa mengembang dan mau
pecah. Entah kaget, gembira atau bingung, aku jadi bengong tak bisa bicara, benar-benar salah tingkah.
“Nanda! Nanda ?
kamu marah? Nanda…!” suara di sana terus memanggilku. Sebenarnya aku mendengarnya, tapi aku masih sibuk menenangkan perasaanku
yang serasa….
“Bion, kamu gila!”
Cuma itu yang bisa aku ucapkan sambil menahan detak jantungku yang
terlalu keras, membuatku susah bernafas. Tapi aku yakin dia sudah bisa membaca
fikiranku, sementara wajahku serasa berpelangi. Ah,
rasanya aku jadi norak juga.
Aduh kok jadi gini??
Ah sudahlah, Yang pasti besok aku akan ke bandara menjemput
Eyang, juga menjemput…Bion.
(berbunga-bunga)
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar