Kamis, 24 Maret 2016

TALI KASIH (bag 3)



“Maksudku,  kali ini aku mau kau menemaniku ke acara temanku.”
“Gila kamu!”  aku merasa jengah dengan tatapannya yang tiba-tiba aneh.
“Aku mau pulang!”  ia sedikit terkejut melihatku cemberut.
“Kali ini saja,  please…”  ucapnya sedikit memohon,  sehingga mau tak mau membuat aku terdenyum geli.  Seingatku,  belum pernah ia melakukan ini padaku sebelumnya.
“Kamu bisa mengajak pacar kamu kan ?”  ujarku kemudian.
“Kamu masih marah yak arena aku bohong ?”
“Dua-duanya!”  jawabku agak ketus.
“Iya,  iya,  aku ngaku salah.  Kalau selama ini aku tau kamu melakukan semua hanya untuk Eyang,  kali ini aku memohon,  boleh kan ?”  katanya sedikit memelas tapi aku tahu ia hanya bercanda.
“Lagian,  yang kamu maksud pacarku itu,  aku sendiri tah tahu. Sungguh aku belum punya,”  ia mencoba meyakinkanku.
“Jadi,  karena belum ada,  kamu mau memanfaatkanku ?”
“Sorri,  sama sekali aku tak punya niat sejahat itu,”  jawabnya cepat.
“Aku tak mau peristiwa itu terulang lagi,  saat pacarmu datang ke kampus hanya untuk membuatku malu di hadapan teman-temanku,”  nadaku sedikit melunak.
“Pacar ? maksud kamu ?”
“Aku tak tahu,  yang jelas aku pernah melihatnya saat kita berpapasan di gerbang saat pertama kali kamu mengantar aku pulang.  Dia datang memakiku seenaknya,  bahkan menuduhku telah memanfaatkan Eyang untuk mengambilmu darinya.  Aneh kan,  padahal waktu itu aku bahkan belum mengenalmu.”
“Irin,  maksudmu?”
“Bukan.  Ia meyebut namanya Pinkan?”  dasar!  pacar saja sampai lupa.  Mana aku tahu siapa lagi Irin,  bagiku semua  sama saja.
“Oke,  lupakan dia.  Hal itu tak akan terulang lagi,  swear!”  ia mengacungkan kedua jarinya sungguh-sungguh.
“Tapi,  kamu mau kan menemaniku?”  pintanya lagi.  Sebenarnya aku malas,  tapi melihat sikapnya,  akhirnya aku jadi luluh juga,  walau aku tak secara langsung mengiyakannya.
“Oke,  diam berarti setuju,”  soraknya girang sambil menginjak pedal  gas dan melaju sambil tersenyum puas.
***
                Suasana pesta cukup ramai,  sayangnya aku sama sekali tak mengenal siapa pun yang hadir.  Mereka nampak sudah terbiasa dengan acara seperti ini.  Hanya aku sendiri yang nampak canggung,  apalagi setiap melewati mereka,  tatapannya penuh selidik padaku.
Aku terkejut ketika tiba-tiba beberapa teman perempuannya tanpa rasa risih mengelayut manja di lengan Bion.  Semua bahkan nampak tak peduli padaku yang sedang berdiri di sampingnya.
“Kamu sekarang kok jarang hadir sih di acara kita?  lagi sibuk nguru Eyang atau …sibuk…”  salah seorang melirik sinis padaku,  tapi aku membalasnya dengan pura-pura tak peduli.
“Lugu banget Bion,”  katanya berbisik,  namun cukup keras untuk bisa ku dengar.
“Keluargaku dari Banyuwangi,”  ujar Bion bohong,  tapi sedikit menyelamatkan aku.
Dia lalu mengajakku berkenalan dengan teman-temannya yang lain.  Dengan perasaan yang masih canggung dan sedikit salah tingkah,  aku menyalami mereka satu persatu,  sampai terasa bosan dan gerah.
Aku semakin tak betah berada di sini dan juga tak menyenangi situasi yang ada.  Apalgi aku sama sekali tak mampu membaur dengan mereka.  Rasanya lebih asyik duduk di lesehan bersama teman-teman di pondok ayam bakar pak Dani.
Jelas sekali Bion benar-benar bagian mereka yang sangat penting,  atau bahkan dia termasuk primadona.  Sangat jelas sekali bagaimana mata-mata mereka yang jelas sekali kurang menyenangi kehadiranku bersama Bion,  meskipun Bion telah mengatakn bahwa aku adalah keluarganya.
Tapi diam-diam aku justru menikmati suasana itu yang tentu saja membuat aku merasa lebih rileks.
“Kamu suka ?”  siara Bion sangat dekat sekali dengan telingaku.  Aku sampai mendengar nafasnya.  Aku terkejut. Melihatku  demikian,  ia hanya tertawa.
“Aku bosan,  mau pulang aja,”  kataku jujur.
“Tadi,  aku lihat kamu senyum.”
“Memang salah?”  jawabku malas.
“Enggak,  aku pikir kamu merasa senang aja.  Tapi jangan marah dong,  ini minum dulu,”  setengah membujuk ia menyodorkan segelas soft drink  dingin kepadaku.
“Sebelum pulang,  aku akan memperkanalkanmu dengan temanku yang lain,  yuk,”  ia langsung menarik tanganku.  Aku berusaha menariknya,  tapi ia lebih kuat memegang pergelanganku.
Sampai  akhirnya  di sebuah sudut bagian belakang taman,  kami bertemu dengan perempuan cantik.  Dia adalah orang yang pernah datang padaku.  Dia menyambut Bion dengan mesra,  tapi jelas sekali memandangku dengan sikap tak senang.
“Hai,  Rin,  kenalkan ini Nanda.”  Kami sama-sama tak bereaksi,  dan tentu saja hal itu di sadari pleh Bion.  Aku bahkan tak peduli lagi bagaimana ekspresi wajahku,  karena memang aku sudah berusaha untuk menyembunyikan kemarahanku yang masih trsisa dan kini muncul kembali saat menatap perempuan yang maih jelas dalam  ingatanku itu.
“Kamu tahu Rin,  sandiwara kita berhasil,”  lanjut Bion tanpa peduli dengan suasana yang ada antara kami.
“Dia cemburu Rin,  lihat kamu tempo hari.  Yah,  waktu itu memang kami lagi bentrok,”  aku bingung dengan ucapan Bion yang tiba-tiba jadi ngalor-ngidul,  padahal ia tak sedang mabuk.
“Sebenarnya aku mau kenalkan kamu tempohari,  tapi suasana masih panas,  jadi sekarang baru sempat.  Gimana,  cocokkan?”  Bion terus saja bicara dan tiba-tiba merangkulku yang membuatku gerah.  Sedang Irin kali ini benar-benar tak dapat menyembunyikan kemarahannya pada Bion.  Aku mencoba melepaskan rangkulan tangan Bion yang cukup keras,  tapi ia tetap tak melepaskannya.
“Ayok Nan,  sekarang kita ke sana,  aku kenalkan kamu pada Audy,”  Bion dengan tenang mengajakku meninggalkan Pinkan yang masih termanggu.  Ia nampak marah,  seperti hendak protes kepada Bion,  tapi….
“Yuk Rin,  have a nice time ya…”
Aku sendiri tak suka dengan apa yang baru saja di lakukannya padaku.  Bion lalu menarikku ke salah salah sudut taman yang lain.
“Sori Nan,  aku tau kamu pasti marah dengan sikapku tadi,  karena itu biarkan aku menjelaskannya,”  baru saja aku mau protes,  Bion telah mendahuluiku.
“Aku sengaja melakukannya untuk membuat dia jera.  Dia gadis yang nekat,  dan mau melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya.  Bahkan kau sendiri tau apa yang telah di lakukannya padamu kan?”  sekarang aku mulai mengerti maksud semua sikap Bion.  Tapi bukan berarti aku harus setuju dia berbuat begitu padaku,  ia bisa besar kepala nantinya.
“Jadi,  kamu mau bilang padaku,  kalau dia itu nekat berbuat apapun untuk memilikimu,  begitukan maksud kamu hmm?”  aku mencibir,  Bion kelihatan sedikit malu.
“Aku tak bilang demikian,  tapi nyatanya memang demikian,”  ia membela diri sambil mengangkat kedua bahunya dengan yakin.
“Sekarang kau puas dengan kemenanganmu?”  aku tak suka melihat sikapnya yang agak keg e-er-an.
“Oke oke,  aku kalah.  Nggak pa-pa,  yang penting kamu tidak marah lagi khan?”  Bion menatapku dan sengaja menujukkan ekspresi wajah yang memelas dan lucu,  tapi aku sengaja membuang muka dan cemberut.
“Kamu tau tidak?”  lanjutnya tak peduli,   “Kalau kamu cemberut begitu,  kelihatannya lebih cantik dibanding kalau kamu tersenyum,”  Bion benar-benar sedang mengerjaiku.  Dan ternyata dia berhasil,  karena aku bisa merasakan bagaimana ia berhasil membuat mukaku merah karena malu.
“Gila kamu!”  aku tak dapat menahan senyum kali ini dan dibalasnya dengan tawa penuh kemenagan.
***

                “Kak Nanda…kak Nanda!”  suara Sisu terdengar dari balik pintu kamar.
“Ada apa sayang?”
“Ada telepon dari Jakarta.”
Jakarta?  Apa tidak salah,  siang-siang begini?  Lagian aku tak punya kanalan di Jakarta,  atau mungkin kak Dino yang kemarin rencana ikut study tour.  Aku bergegas menuju ke ruang tengah.
“Halo!...halo!...”  aku tak mendengar suara orang di sana.
“Halo!” mungkin aku terlambat mengangkat telpon.
“Halo,  Nanda?”
“Benar.  Siapa ini?”  aku tak mengenali suara itu.
“Duuh,  baru kemaren nggak ketemu sudah lupa begitu,”  protes pemilik suara itu.  Sungguh aku tak tahu,  tapi,  aku seperti pernah mendengar nada bicaranya yang tidak asing di telingaku.
“Bi-on?’  tanyaku ragu.
“Kok tau?”  hm bener dia lagi.
“Nan,  aku sekarang lagi di Jakarta,  sori nggak ngasih tau kamu.  Tadi pagi aku berangkat karena Eyang minta di jemput.”  Siapa juga yang nanya?  Tapi,  sujujurnya aku merasa senang dia menelpon.
“Besok aku baru balik,  kamu mau pesan apa?”
“Enggak ada.”
“Bener nih?  Nanti nyesel lo”  ujarnya yakin.
“Bener!  Aku nggak pengen apa-apa.”
“Ya sudah kalau gitu, daa…”  tiba-tiba tak terdengar suara,  tapi tidak terdengar nada putus?
“Halo!  Halo!...”  “Halo Bion? Halo!?”
“Halo…aku masih di sini.  Kamu takut kan aku sudah pergi?”  suaranya ngakak setelah berhasil melihatku bingung.
“Enak aja!  Aku cuma mau nitip salam buat Eyang.”
“Yaah…kok Eyang terus sih.  Iya deh,tapi Nan…”
“Apa lagi ?”
“Kamu sudah buka tas kamu ? sori,  kemaren aku membukanya.  Ups…bukan aku mengeledah lo,  cuma mau kasih tau kalu sekarang aku bisa ngarang.  Untuk yang pertama,  biar aja kamu yang membacanya,  gimana?”  tumben dia jadi rajin nulis-nulis sekarang.  Aku kira dia tidak minat dengan hal-hal begituan.
“Pasti jelek!”  ejekku spontan.
“Yah,  terserah.  Yang pasti kamu baca dulu,  baru bisa menilai.”
“Kkalau begus,  nanti aku kirim ke majalah atau tabloid.  Honornya buat kamu semua deh.  Tapi,  janji dulu mau baca ya?’
“Iya,iya. Gimana kabar Eyang?”
“Baik,  dia juga tadi nitip salam.  Jangan kuatir,  dia punya oleh-oleh buat kamu.  Jadi ngiri aku,  masak aku nggak dibeliin apa-apa.  Tapi bagus juga kalau begitu,  aku kan nggak repot lagi mikirin hadiah buat kamu?”
“Siapa juga yang perlu!”
“Wuih…sombongnya,  sudah ya,  daa…!”    Tuuut…telepon  langsung di tutup oleh Bion.  Tapi baru saja tiga langkah aku meninggalkan ruangan itu,  telepon sudah berbunyi lagi.
“Halo…”
“Halo,  Nan?!”  Bion lagi!
“Ada apa lagi?”
“Enggak,  cuma mau ngucapin selamat malam buat nanti,  bye…”  aku  belum bicara sepatah katapun,  dia sudah menutup telepon.  Aneh sekali.
Entah kenapa,  diam-diam aku semakin senang menerima telepon darinya.  Dia sekarang memang sangat perhatian,  tapi….kenapa aku malah jadi ge-er juga sekarang ? Tidak boleh,  ini tidak boleh terjadi !  untung saja dia tidak tahu.
Karangan?  Hmm,  dia semakin aneh saja,  hanya bisa ngarang aja dibesar-besarkan,  tapi aku jadi penasaran juga.  Benar,  aku menemukan selembar kertas hasil karyanya,  pasti isinya lucu….
Kalau aku mau jujur…sebenarnya aku pernah curiga padanya.  Kalau boleh aku katakana,  aku  tak  sengaja  mengenalnya.  Kalau  nggak  dimarahi,  aku juga   mau  bilang  dia  lucu,  meskipun  kadang  keraaas  banget  (batu kali ya)….
Aku tak dapat menahan tawa membaca bagian itu,  kemudian aku melanjutkan lagi,….sayangnya,  aku  tak  pernah  dan  belum  berani  jujur  untuk  mengataknnya,  meski  aku  mulai  curiga  pada  hatiku,  sepertinya  aku  mulai  suka  padanya.  Sayang  dia tak  pernah  tau…dan  seandainya  dia  juga  tau  bahwa  aku  tak  sedang  ngelaba….  Norak?  Nggak  pa-pa,  ternyata  cara kampung  asyik  juga,  nggak  buang-buang  biaya,  nbener kan???
Mohon diperiksa oleh redaksi yang ter…orisinil karya Bion.
Karangan atau surat ?  kok norak banget.  Puisi bukan,  cerpen bukan,  tepi oke juga.
“Halo Nan,  gimana sudah baca?” 5 menit setelah menutup telpon, benar aja dia langsung menelpon kembali.
“Sudah,  norak banget!”  jawabku sekenanya sedikit mengejek untuk mengintimidasinya.
“Biarlah,  maklum orang lagi jatuh suka.  Tau nggak,  karangan itu bener-bener lo,  bukan fiksi.  Trus  rencananya aku mau kasih ke orang di pesta malam itu,  ingat?”
“Ooo,”  Cuma itu komentar dariku.  Entah kenapa,  diam-diam ternyata aku merasa tak suka mendengarnya,  tentu saja aku merasa hal itu benar-benar konyol.  Lalu kenapa harus aku yang memeriksanya.  Kenapa nggak langsung saja di berikan ke yang bersangkutan ? Aku mencak-mencak sendiri dalam hati.
“Halo.  Nanda tolong sampein ke orangnya?”
“Iya,”  balasku acuh tak acuh.  Sekarang malah aku yang jadi kampungan.
“Sudah ya,  besok aku akan pulang,  bye…”  telepon lalu ditutup.  Enak saja main suruh ngantar,  emang aku kurir apa?  Besok kan dia pulang,  biar aja dia ngantar sendiri.  Pura-pura saja aku lupa karena banyak tugas,  beres!  Sekarang  aku merasa tenang karena telah punya alasan.  Tiba-tiba telepon kembali berbunyi.
“Ya?!”
“Nanda?  Masih kamu kan?”  si kunyuk itu lagi rupanya,  nggak bosan-bosannya.
“Sori Nan,  aku nggak bisa nunggu.  Sekarang aja disampein ya?” 
Enak aja dia main paksa,  makiku dalam hati.
“Nan,  kamu kok nggak nanya siapa orangnya?  Sudah tau ya?  Jangan-jangan kamu nanti malah salah alamat.”  Benar juga,  aku baru adar kalau aku sendiri tak tahu siapa yang dimaksud,  di pesta itu kan banyak orang.
“Kalau begitu,  bilang deh sekarang,”  jawabku malas.
“Sebenarnya orang itu…emm..tapi rahasia ya?”
“Iya,  bilang aja.”
“Emm sebenarnya,  itu…buat …kamu sendiri,”  suaranya terdengar mengecil dan nyaris berbisik,  tapi aku sangat jelas mendengarnya,  jelas sekali.  Seketika dadaku terasa mengembang dan mau pecah.  Entah kaget,  gembira atau bingung,  aku jadi bengong tak bisa bicara,  benar-benar salah tingkah.
“Nanda!  Nanda ?  kamu marah?  Nanda…!”  suara di sana terus memanggilku.  Sebenarnya aku mendengarnya,  tapi aku masih sibuk menenangkan perasaanku yang serasa….
“Bion,  kamu gila!”  Cuma itu yang bisa aku ucapkan sambil menahan detak jantungku yang terlalu keras,  membuatku susah bernafas.  Tapi aku yakin dia sudah bisa membaca fikiranku,  sementara wajahku serasa berpelangi.  Ah,  rasanya aku jadi norak juga. Aduh kok jadi gini??
Ah sudahlah, Yang pasti besok aku akan ke bandara menjemput Eyang,  juga menjemput…Bion.
(berbunga-bunga)

***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar