Bion kelihatan tenang-tenang
saja. Mustahil kalau ia tak tahu
ketakutanku, tapi ia sama sekali tak
peduli akan semua itu. Perut dan
diafragmaku terasa menegang sehingga suaraku tertahan di tenggorokan. Aku benar-benar takut yang luar biasa, tapi dia tetap tak peduli.
Setelah beberapa saat, aku sudah tak tahan lagi. Akhirnya aku tak bisa lagi untuk diam. Saat mobil berhenti di lampu merah, kuputuskan untuk segera
turun dari mobil.
“Maaf, kamu bisa jadi pembalap, tapi itu urusan kamu. Sebaiknya kamu tak perlu mengantar aku sampai
tujuan, karena aku ingin turun di
sini. Lagipula aku sudah terbiasa dengan asap kendaraan
umum. Tolong sampaikan saja kepada nenek
kalau kamu telah mengantarku sampai di tempat,”
rasanya kejengkelanku tak bisa ku kendalikan lagi.
“Mau ke mana kamu?!” suaranya yang setengah menghardik itu menahan
gerakanku untuk membuka pintu lebih lebar.
“Bagaimana pun juga, aku harus mengantarmu sampai tujuan. Ucapan Eyang harus aku turuti, itu adalah
janjiku, dan jangan coba macam-macam.” Aku benar-benar terkejut karenanya, sehingga aku hampir menangis telah
dipermalukan seperti itu. Kasar sekali
ucapannya!
Mungkin hanya karena rasa iba
melihat aku terus diam, akhirnya ia
sedikit melunakkan ucapannya.
“Baiklah, aku akan mengurangi kecepatan,” ujarnya lebih halus meskipun terdengar masih
kurang ramah, tapi aku terlanjur sakit
hati.
Sampai di depan gang, aku memintanya berhenti. Kucoba untuk tetap mengucapkan terima kasih
sebelum dia pergi. Pemuda sombong!! Makiku dalam hati. Aku berharap tak akan melihatnya lagi.
***
Dua minggu setelah kejadian
itu, aku tak pernah melakukan joging
lagi. Aku sungguh kuatir bertemu dengan
Bion, si manusia sok dan angkuh. Aku benar-benar merasa benci padanya.
Tapi ada hal lain di kampus. Ternyata saat mobil berhenti di lampu
merah, Nuning secara tidak sengaja
melihatku. Dia sama sekali tak mengerti
masalah yang sebenarnya. Dan tak heran
bila kemudian ia mulai menyebarkan gosip kepada teman-teman kalau aku punya
pacar baru, sehingga di Himpunan begitu heboh.
“Eh, tau tidak, Nanda sekarang bawaannya oke
punya…” Nuning mulai berkicau. Komentar-komentar bermunculan dari mulut
teman-teman. Ada yang senang, terkejut,
tak percaya, bahkan ada yang
nampak cemburu setelah mendengar cerita Nuning.
Aku sendiri Cuma memilih diam dan
merasa tak perlu menjelaskan sedikipun.
Sekarang hal itu tak ada
gunanya, yang penting saat ini, aku tak ingin kejadian itu terulang
lagi. Titik!
“Nan, ada yang nyari tu,” tiba-tiba Fira sudah ada di dekatku.
“Orangnya cakep juga, tapi…hii…”
ekspresi wajahnya cukup mengelikanku.
Belum sempat aku bertanya ketika ia langsung menarikku dari dalam ruangan.
Di luar memang sedang menunggu
seorang perempuan, memang cantik. Aku sama sekali tak mengenalnya, tapi pelan-pelan aku bisa mengingat kalau
pernah bertemu denannya. Ia nampak tak
ramah.
Belum hilang kerut di keningku,
ia sudah bicara dengan nada yang tak enak.
Kurasa ada gejala yang kurang menyenangkan hari ini, apalagi begitu banyak teman-teman yang
melihat kejadian itu.
“Aku Pinkan,” tangannya terulur sedang wajahnya menatapku
tak suka. Aku tak membalasnya.
“Supaya kau tahu,” lanjutnya kemudian setelah beberapa saat
memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Bion tak akan pernah suka sama
kamu, tak akan pernah. Kau harus sadari itu? Dan jangan pernah mencoba untuk mendekati
Eyangnya untuk meraih mimpimu,”
ucapannya semakin menyakitkan telingaku.
Mimpi?? Haa?? Apalagi?
Apakah aku temasuk tipe pemimpi seperti yang baru saja perempuan itu
katakan? Kali ini dia sudah sangat
keterlaluan dan tak tahu diri. Rasanya
kepalaku mendidih hingga mukaku terasa hangat dengan semua ucapan pedasnya.
Seandainya ini bukan di
kampus, mungkin sudah aku cakar
wajahnya, supaya dia tidak seenaknya
melakukan itu padaku, juga supaya dia
mengerti bahwa tidak semua orang bisa dibuat seperti itu.
Tapi aku tak melakukannya, aku
malu. Kuatur nafas yang rasanya mulai
sesak, sebelum akhirnya aku memilih
untuk mengalah.
“Dan supaya kau tau,” nadaku tersengal-sengal,” kaulah sebenarnya pemimpi itu, sedikitpun aku tak pernah mengharapkan
apa-apa dan siapapun dari rumah itu. Tak
perlu ajari aku cara menghindari mereka,
karena itu memang sudah aku lakukan sebelum kau datang, jadi jangan lagi muncul di hadapanku!” tangisku hampir saja meledak, dan sebelum semua terjadi, aku langsung meninggalkannya.
Aku tak peduli lagi dengan buku
dan tasku yang tertinggal, padahal hari
ini akan ada kuis. Aku hanya ingin
pulang, hatiku sakit sekali dan sangat malu
kepada teman-teman yang melihat semuanya.
Mungkin mereka kini telah berfikir yang macam-macam tentang aku. Oh Tuhan,
kenapa harus aku? Kenapa
pertemuanku dengan Nenek berakibat buruk bagiku?
Seandainya aku tau siapa dia dari
semula, mungkin aku tak akan peduli
padanya. Maafkan aku Nek, aku tak bermaksud membencimu, keluhku dalam hati. Tapi apa salahku sehingga semua harus begini? Aku hanya bisa menangis.
Tiga hari aku coba menenangkan
diri di rumah Nuning yang kemudian kuberitahu duduk persoalannya. Ia sangat menyesal dengan gosip yang disebarkannya, tapi bagiku semua sudah berlalu.
Tubuhku terasa capek setelah perjalanan yang cukup
melelahkan. Belum sampai satu jam aku
terlelap, pintu kamarku diketuk oleh
seseorang.
“Ada apa Vi?” ternyata Sisi, cucu ibu kost sedang berdiri
di depan pintuku.
“Ada tamu kak, kemaren juga datang nyari kakak.”
“Makasih ya,” Sisi lalu pergi dan kembali asyik dengan
bekelnya.
Nggak biasa-biasanya jam begini
ada tamu, apalagi sekarang baru pukul
dua siang. Tiba-tiba aku ingat dengan
Rudy, yang minggu lalu aku janjikan
fotocopy catatan. Astaga! benar, besok kan ada kuis, aku baru ingat. Cepat-cepat kubasuh wajahku dengan air dan kucari
fotocopy yang telah aku buatkan. Kasihan
juga dia harus bolak-balik datang karena tidak menemuiku, mudah-mudahan ia mau mengerti.
Ia masih berdiri di teras
depan. Tumben anak itu, biasanya dia langsung masuk dan duduk tanpa
dipersilakan. Atau mungkin karena
suasana ruang tamu sedikit berantakan sehingga dia tetap di luar.
“Aduh, sori ya Rud,
aku lupa kalau besok adalah jadwal kuisnya,” tanganku lalu sibuk membenahi taplak meja dan
lainnya sambil mempersilahkannya masuk.
“Masuk deh,
tumben kamu di situ aja. Biasanya
juga kamu kan….” Aku tak jadi
melanjutkan bicara. Aku terdiam
tiba-tiba, seperti sebuah patung, saat menyadari yang datang bukan Rudy
melainkan Bion. Mereka nampak begitu
mirip jika dari belakang.
“Boleh aku masuk?” kini suara itu mengejutkan aku, bukan karena aku melamun, tapi karena suara itu seperti bukan suara
Bion. Ucapnnya terdengar lembut dan
sopan, sangat jauh berbeda dengan….
“Boleh?” ia menegaskan kembali ucapannya.
“Silahkan,” kataku sedikit canggung dan dingin. Untuk beberapa saat, aku dan dia cuma diam, dan suasana terasa begitu kaku.
Sebenarnya ini adalah
kesempatanku untuk mengeluarkan semua kemarahan. Dia bertanggung jawab atas semua yang terjadi
padaku akhir-akhir ini, termasuk
kehadiran perempuan aneh itu.
“Kamu jangan curiga dengan kedatanganku,” Ia mulai membuka pembicaraan, meski terdengar canggung. Untuk beberapa saat ia nampak sedang menanti
respon dariku, tapi aku tak menanggapinya. Rasanya aku jadi malas melihat wajahnya yang
sangat menyebalkan itu.
Tapi aku memberinya kesempataan
untuk mengatakan maksud kedatangannya,
setelah itu aku berharap dia segera pergi. Bion ataupun bukan, bagiku sama saja. Yang pasti mereka telah menyakiti
hatiku, kecuali Nenek….aku masih selalu
kangen padanya.
“Mungkin kamu heran bagaimana aku
bisa tahu tempat tinggalmu? aku…”
“Jangan bertele-tele, apa maksud kedatangan kamu sebenarnya,” aku mulai tak sabar dengan sikapnya yang
bagiku seperti basa-basi. Aku tak peduli
ia terkejut dengan ucapanku, bahkan aku
sengaja tak memandang wajahnya saat berbicara.
“Saya tahu tempat ini dari
tetangga kamu,” dia terus saja
melanjutkan ucapannya tanpa peduli dengan ucapanku barusan.
“Saya tahu kamu marah dengan
kejadian yang lalu, karena itu saya
ingin minta maaf.”
“Sudah saya katakan, tak perlu betele-tele,” kali ini suaraku mulai meninggi.
“Apakah maksud kamu datang hanya
untuk melanjutkan ucapan pacar kamu yang telah membuatku malu di hadapan
teman-temanku?” kini giliranku yang
sinis.
“Kalau Cuma itu, kamu tak perlu memintanya, karena aku akan melakukannya dengan senang
hati,” aku mulai tak memberinya
kesempatan untuk bicara, bahkan nyaris
hilang kendali bila mengingatkan perlakuanya padaku.
“Dan perlu kau tahu, bahwa aku tak akan ke rumahmu untuk kedua
kalinya,” lanjutku kemudian.
“Aku juga sudah berjanji untuk
tidak menjumpai lagi…” kini aku tercekat
dan tak bisa melanjutkannya. Benarkah
aku tak ingin menjumpai Nenek? Dia sama
sekali tidak bersalah. Tiba-tiba mataku
menghangat, namun tak akan kubiarkan
diriku menangis di hadapan orang seperti Bion.
Untung aku ingat, bahwa pertemuan dengan Nenek bisa aku lakukan
di tempat kami biasanya bertemu, tanpa
harus ke rumah mereka.
“Baiklah, aku akan lakukan semua yang kalian
inginkan, yang penting mulai saat ini
jangan pernah ganggu aku lagi,” tandasku
tegas.
“Justru aku datang kemari karena
Eyang yang memintaku untuk menjemputmu,”
suaranya tertahan.
“Eyang sakit dan sudah tiga hari
ini terbaring di kamar. Ia ingin kamu
menemaninya meski sebentar,” lanjutnya
kemudian dengan nada memohon. Aku hanya
menanggapinya dengan senyum kecut.
“Sebaiknya kamu tak usah
menggunakan Eyang kamu sebagai senjata untuk mencari simpatiku, itu tak akan berhasil,” nadaku benar-benar tinggi. Bion hanya menarik dafas dalam. Aku benar-benar puas sedikit membuat
pelajaran untuknya.
“Baiklah, ini mungkin keputusanmu. Setidaknya aku sudah menyampaikan pesan
Eyang, meskipun akhirnya aku gagal
meyakinkanmu. Dan paling tidak aku telah
berusaha memberitahumu,” ia diam sesaat.
“Memang, mungkin kesankuku terlalu buruk
dihadapanmu, bahkan mungkin kau juga
berfikir bahwa aku telah mengacukan Eyangku sendiri. Kalau benar begitu yang kau fikirkan, kau salah,
aku tak sepeti itu. Walau yang
lain melakukannya, tapi aku tidak
memintamu untuk percaya,” ia terus saja
menjelaskan tanpa aku minta.
Tapi kali ini aku sedikit mencair
setelah melihat ia bersungguh-sunguh.
Padahal ia mulai nampak putus asa menunggu jawabanku.
“Aku minta maaf bila telah
mengganggu, dan terima kasih kau masih
menerima kehadiranku. Selamat
siang,” dia berdiri danmelangkah ke luar
dari ruangan.
Aku ingin sekali menahannya dan
mendengarkan cerita tentang Nenek lebih banyak,
tapi lidahku seperti kaku dan tak mampu bersuara. Aku terlanjur malu, karena itu aku cuma bisa memandangi punggungnya
yang akan berlalu. Segalanya bercampur
aduk di kepalaku. Tiba-tiba langkahnya
terhenti.
“Supaya kamu tahu, Eyang selau menyebut nama kamu di
depanku, karena dia selalu kangen
padamu,” setelah mengatakan itu, akhirnya ia benar-benar pergi.
Sejak kepergiannya, aku kembali teringat Nenek. Kenapa aku bisa sejahat ini padanya, hanya karena ego aku telah melupakan
perasaannya. Memasuki kamar, hatiku tetap tak bisa tenang gelisah, apakah aku harus menjenguknya? Bila iya,
berati aku harus bertemu dengan
orang-orang yang menyebalkan itu, atau
terus membiarkan keadaan begini.
Benarkah Nenek merindukanku? Hal
itu sungguh membuatku sangat terharu.
Serasa ada kekuatan yang muncul
dari hati kecilku. Rasanya tidak salah
sekali ini percaya pada berita itu, dan
mencoba melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati Nenek. Bergegas kuraih handuk untuk mandi, hatiku bulat ingin menjumpainya.
Dengan sedikit ragu aku
memberitahu pak satpam tentang kedatanganku,
namun tiba-tiba seseorang telah memanggilku dari pintu.
“Nanda?’ aku sedikit keki dan tak tahu harus bersikap
apa, karena ternyata Bion sedang
berdiri dan terdenyum di depan pintu.
“Ayo masuk. Eyang sudah menunggumu,” ia menyambutku dengan ramah seolah telah lupa
dengan kejadian tadi. Ia lalu
mengantarku memasuki kamar pribadi Eyangnya.
Nenek nampak sangat gembira
menyambut kedatanganku. Aku pun sangat
kangen dengannya. tanpa sadar, ada yang menetes di pipiku, aku menangis bahagia.
“Kenapa kamu tak pernah lagi
menjenguk Eyang?”
“Bion benar kan Yang, kalau Nanda pasti datang jenguk Eyang,” Bion sengaja menyela ucapan Eyangnya.
“Kemarin Bion ke rumah kamu, katanya kamu lagi ke daerah, benar?”
aku melirik ke arah Bion yang kemudian mengisyaratkan sesuatu kepadaku untuk
membenarkan berita itu.
“Iya Nek, eh Yang,
Nanda sibuk. Maaf, Nanda tak tahu Eyang sakit,” jadi tadi Bion sudah berbohong untuk
menghibur Eyangnya dan mengatakan bahwa aku pasti datang, padahal….
“Gara-gara kamu datang, Eyang jadi sembuh,” Eyang memegang tanganku hangat. Meski canggung di depan Bion, tapi aku tetap membalas genggamannya. Eyang benar-benar tampak bahagia. Aku merasa lebih nyaman bersamanya saat belum
mengetahui siapa dia sebenarnya.
Selanjutnya atas permintaan Eyang
pula, kami bertiga mencari udara dan
berkeliling kota dan berhenti sebuah taman.
Lucu memang, kami pergi cuma bertiga tanpa siapa-siapa dan hanya
berkeliling kota. Dia kelihatan begitu
menikmati segalanya.
Aku mencoba menghiburnya dengan
menceritakan kisah-kisah yang lucu saat duduk di bawah pohon, sambil mencoba mengingat kisah lucu dan
anekdot-anekdot yang pernah aku baca.
Aku terus saja asyik bercerita dan
menikmati kebahagiaan Eyang, sampai
kemudian kusadari untuk beberapa kali Bion aku dapati sedang menatapku dengan
pandangan yang agak aneh.
Tatapannya terasa lain, ia
tersenyum manis sekali dan tiba-tiba membuatku merinding. Orang yang selam ini begitu kubenci, kali ini bahkan sedang bekerjasama denganku
untuk menghibur Eyangnya.
Tak kusangka, ternyata Bion masih memiliki perasaan sayang
yang begitu dalam kepada orang tua itu.
Bahkan dia begitu pandai menyembunyikan perseteruan antara aku dan
dirinya sehingga Eyangnya menyangka
selama ini kami akur.
Sejak saat itu, Bion hampir rutin menjemputku setiap hari
sabtu atas permintaan Eyangnya, sekedar
untuk menemaninya di rumah. Biasanya
setelah aku tiba, Bion lalu pergi meninggalkan kami berdua dan dia baru muncul
untuk mengantarkan aku pulang setelah malam hari.
Keluarga mereka benar-benar super
sibuk, sampai papa mamanya tak pernah
aku jumpai. Bila yang satu ke luar
negeri, yang satu lagi ke luar
kota. Keluarga yang hebat memang, meski ada yang nampak kurang, yaitu kasih sayang dan kebersamaan.
Satu-satunya kakak Bion kini
sedang bersekolah di Ausralia dan hanya Bion yang memilih untuk sekolah di kota
ini. Alasannya sangat sederhana, ia ingin
bisa lebih dekat
dengan Eyangnya. Ternyata cuma dia yang benar-benar peduli dengan
keberadaan orang tua itu di rumah ini.
Tentu saja dia yang nampak paling dekat dan disayang oleh Eyang, karena ia juga melakukan hal sama terhadap
Eyangnya.
Kini aku benar-benar bersyukur
dengan kehidupan keluargaku yang sangat sederhana namun penuh kasih
sayang. Ayah dan Ibu tak pernah
terlalu dari kami sampai bangku SMA. Sebagai anak bungsu memang aku cukup di
manja. Untung saja mereka selalu
menanamkan disiplin dalam mendidik anaknya,
sehingga aku tak menjadi anak yang kolokan. Selain itu atas dukungan kak Dani, aku selalu aktif dengan kegiatan-kegiatan organisasi
saat di sekolah dulu atau di kampus sat ini.
Kebijaksanaan Ayah dan Ibu
semakin nampak ketika memberi kebebasan anak-anaknya untuk menentukan tempat melanjutkan
sekolah di perguruan tinggi, membuatku
semakin bangga pada mereka. Sehingga tak
heran bila kak Dani lolos di Universita Gaja Mada Yogyakarta dan kak Mami di
Universitas Diponegoro.
Aku yang tak ingin terlalu jauh
dari Ayah maupun Ibu, tetapi memilih di
kota ini. Mungkin dalam hal ini, aku dan Bion
memiliki persamaan pandangan.
Bila musim liburan tiba atau saat
lebaran, semua terasa istimewa, karena seluruh anggota keluarga
berkumpul. Moment seperti itu selalu aku
tunggu dan terasa begitu indah, karena
suasananya tentu saja berbeda.
“Kok senyum sendiri sih?” Bion sengaja mengejutkanku. Aku tersipu malu saat menyadari bahwa aku
sedang bersamanya di dalam mobil yang sedang melaju ke rumahnya.
“Enggak, cuma ingat sama kakak,” jawabku singkat.
“Ingat kakak…apa ka-kak?” ia mencoba
untuk menggodaku. Sikapnya kini
benar-benar mengingatkan aku pada kak Dani yang juga sering mnggoda aku seperti
itu.
“Hayo, pacar kamu mana, sudah gede kok belom punya?” jangan-jangan nggak laku,” sambil tangannya menjawil hidungku.
“Yee, memang orang resmi gede kalo sudah punya pacar?” protesku tak terima.
“Iya dong, itu prestis juga, bener kan?”
“Kak Dani noraaak!!” aku berlari mengejarnya, dan semua beru berhenti kalau ada Ayah dan
Ibu, karena aku malu jika mereka sampai
mendengar semuanya.
“Nah, tuh kan…melamun lagi,” kembali Bion mengejutkanku, tapi aku pura-pura tak menanggapinya.
“Lho kok belok sini, kita mau ke mana?” tanyaku keheranan karena
mobil tak mengarah ke rumahnya, tetapi
menuju ke arah lain.
“Sori ya, aku bohong.
Sebenarnya Eyang sekarang sementara
di Jakarta dan Cuma ada aku di
rumah.”
“Maksud kamu?”
(bersambung..)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar