Kamis, 24 Maret 2016

TALI KASIH (bag 2)



Bion kelihatan tenang-tenang saja.  Mustahil kalau ia tak tahu ketakutanku,  tapi ia sama sekali tak peduli akan semua itu.  Perut dan diafragmaku terasa menegang sehingga suaraku tertahan di tenggorokan.  Aku benar-benar takut yang luar biasa,  tapi dia tetap tak peduli.
Setelah beberapa saat,  aku sudah tak tahan lagi.  Akhirnya aku tak bisa lagi untuk diam.  Saat mobil berhenti di lampu merah,  kuputuskan untuk  segera  turun dari mobil.
“Maaf,  kamu bisa jadi pembalap,  tapi itu urusan kamu.  Sebaiknya kamu tak perlu mengantar aku sampai tujuan,  karena aku ingin turun di sini.  Lagipula  aku sudah terbiasa dengan asap kendaraan umum.  Tolong sampaikan saja kepada nenek kalau kamu telah mengantarku sampai di tempat,”  rasanya kejengkelanku  tak  bisa ku kendalikan lagi.
“Mau ke mana kamu?!”  suaranya yang setengah menghardik itu menahan gerakanku untuk membuka pintu lebih lebar.
“Bagaimana pun juga,  aku harus mengantarmu sampai tujuan.  Ucapan Eyang harus aku turuti, itu adalah janjiku,  dan jangan coba macam-macam.”  Aku benar-benar terkejut karenanya,  sehingga aku hampir menangis telah dipermalukan seperti itu.  Kasar sekali ucapannya!
Mungkin hanya karena rasa iba melihat aku terus diam,  akhirnya ia sedikit melunakkan ucapannya.
“Baiklah,  aku akan mengurangi kecepatan,”  ujarnya lebih halus meskipun terdengar masih kurang ramah,  tapi aku terlanjur sakit hati.
Sampai di depan gang,  aku memintanya berhenti.  Kucoba untuk tetap mengucapkan terima kasih sebelum dia pergi.  Pemuda sombong!!  Makiku dalam hati.  Aku berharap tak akan melihatnya lagi.
***

Dua minggu setelah kejadian itu,  aku tak pernah melakukan joging lagi.  Aku sungguh kuatir bertemu dengan Bion,  si manusia sok dan angkuh.  Aku benar-benar merasa benci padanya.
Tapi ada hal lain di kampus.  Ternyata saat mobil berhenti di lampu merah,  Nuning secara tidak sengaja melihatku.  Dia sama sekali tak mengerti masalah yang sebenarnya.  Dan tak heran bila kemudian ia mulai menyebarkan gosip kepada teman-teman kalau aku punya pacar baru,  sehingga  di Himpunan begitu heboh.
“Eh,  tau tidak, Nanda sekarang bawaannya oke punya…”  Nuning mulai berkicau.  Komentar-komentar bermunculan dari mulut teman-teman.  Ada yang senang,  terkejut,  tak percaya,  bahkan ada yang nampak cemburu setelah mendengar cerita Nuning.  Aku sendiri  Cuma memilih diam dan merasa tak perlu menjelaskan sedikipun.
Sekarang hal itu tak ada gunanya,  yang penting saat ini,  aku tak ingin kejadian itu terulang lagi.  Titik!
“Nan,  ada yang nyari tu,”  tiba-tiba Fira sudah ada di dekatku.
“Orangnya cakep juga,  tapi…hii…”  ekspresi wajahnya cukup mengelikanku.  Belum sempat aku bertanya ketika ia langsung menarikku dari dalam ruangan.
Di luar memang sedang menunggu seorang perempuan,  memang cantik.  Aku sama sekali tak mengenalnya,  tapi pelan-pelan aku bisa mengingat kalau pernah bertemu denannya.  Ia nampak tak ramah.
Belum hilang kerut di keningku, ia sudah bicara dengan nada yang tak enak.  Kurasa ada gejala yang kurang menyenangkan hari ini,  apalagi begitu banyak teman-teman yang melihat kejadian itu.
“Aku Pinkan,”  tangannya terulur sedang wajahnya menatapku tak suka.  Aku tak membalasnya.
“Supaya kau tahu,”  lanjutnya kemudian setelah beberapa saat memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Bion tak akan pernah suka sama kamu,  tak akan pernah.  Kau harus sadari itu?  Dan jangan pernah mencoba untuk mendekati Eyangnya untuk meraih mimpimu,”  ucapannya semakin menyakitkan telingaku.  Mimpi??  Haa??  Apalagi?  Apakah aku temasuk tipe pemimpi seperti yang baru saja perempuan itu katakan?  Kali ini dia sudah sangat keterlaluan dan tak tahu diri.  Rasanya kepalaku mendidih hingga mukaku terasa hangat dengan semua  ucapan pedasnya.
Seandainya ini bukan di kampus,  mungkin sudah aku cakar wajahnya,  supaya dia tidak seenaknya melakukan itu padaku,  juga supaya dia mengerti bahwa tidak semua orang bisa dibuat seperti itu.
Tapi aku tak melakukannya, aku malu.  Kuatur nafas yang rasanya mulai sesak,  sebelum akhirnya aku memilih untuk mengalah.
“Dan supaya kau tau,”  nadaku tersengal-sengal,”  kaulah sebenarnya pemimpi itu,  sedikitpun aku tak pernah mengharapkan apa-apa dan siapapun dari rumah itu.  Tak perlu ajari aku cara menghindari mereka,  karena itu memang sudah aku lakukan sebelum kau datang,  jadi jangan lagi muncul di hadapanku!”  tangisku hampir saja meledak,  dan sebelum semua terjadi,  aku langsung meninggalkannya.
Aku tak peduli lagi dengan buku dan tasku yang tertinggal,  padahal hari ini akan ada kuis.  Aku hanya ingin pulang,  hatiku sakit sekali dan sangat malu kepada teman-teman yang melihat semuanya.  Mungkin mereka kini telah berfikir yang macam-macam tentang aku.  Oh Tuhan,  kenapa harus aku?  Kenapa pertemuanku dengan Nenek berakibat buruk bagiku?
Seandainya aku tau siapa dia dari semula,  mungkin aku tak akan peduli padanya.  Maafkan aku Nek,  aku tak bermaksud membencimu,  keluhku dalam hati.  Tapi apa  salahku sehingga semua harus begini?  Aku hanya bisa menangis.
Tiga hari aku coba menenangkan diri di rumah Nuning yang kemudian kuberitahu duduk persoalannya.  Ia sangat menyesal dengan  gosip yang disebarkannya,  tapi bagiku semua sudah berlalu.
Tubuhku terasa  capek setelah perjalanan yang cukup melelahkan.  Belum sampai satu jam aku terlelap,  pintu kamarku diketuk oleh seseorang.
“Ada apa Vi?”  ternyata Sisi, cucu ibu kost sedang berdiri di depan pintuku.
“Ada tamu kak,  kemaren juga datang nyari kakak.”
“Makasih ya,”  Sisi lalu pergi dan kembali asyik dengan bekelnya.
Nggak biasa-biasanya jam begini ada tamu,  apalagi sekarang baru pukul dua siang.  Tiba-tiba aku ingat dengan Rudy,  yang minggu lalu aku janjikan fotocopy catatan.  Astaga! benar,  besok kan ada kuis,  aku baru ingat.  Cepat-cepat kubasuh wajahku dengan air dan kucari fotocopy yang telah aku buatkan.  Kasihan juga dia harus bolak-balik datang karena tidak menemuiku,  mudah-mudahan ia mau mengerti.
Ia masih berdiri di teras depan.  Tumben anak itu,  biasanya dia langsung masuk dan duduk tanpa dipersilakan.  Atau mungkin karena suasana ruang tamu sedikit berantakan sehingga dia tetap di luar.
“Aduh,  sori ya Rud,  aku lupa kalau besok adalah jadwal kuisnya,”  tanganku lalu sibuk membenahi taplak meja dan lainnya sambil mempersilahkannya masuk.
 “Masuk deh,  tumben kamu di situ aja.  Biasanya juga kamu kan….”  Aku tak jadi melanjutkan bicara.  Aku terdiam tiba-tiba,  seperti sebuah patung,  saat menyadari yang datang bukan Rudy melainkan Bion.  Mereka nampak begitu mirip jika dari belakang.
“Boleh aku masuk?”  kini suara itu mengejutkan aku,  bukan karena aku melamun,  tapi karena suara itu seperti bukan suara Bion.  Ucapnnya terdengar lembut dan sopan,  sangat jauh berbeda dengan….
“Boleh?”  ia menegaskan kembali ucapannya.
“Silahkan,”  kataku sedikit canggung dan dingin.  Untuk beberapa saat,  aku dan dia cuma diam,  dan suasana terasa begitu kaku.
Sebenarnya ini adalah kesempatanku untuk mengeluarkan semua kemarahan.  Dia bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini,  termasuk kehadiran perempuan aneh itu.
“Kamu jangan curiga dengan kedatanganku,”  Ia mulai membuka pembicaraan,  meski terdengar canggung.  Untuk beberapa saat ia nampak sedang menanti respon dariku,  tapi aku tak menanggapinya.   Rasanya aku jadi malas melihat wajahnya yang sangat menyebalkan itu.
Tapi aku memberinya kesempataan untuk mengatakan maksud kedatangannya,  setelah itu aku berharap dia segera pergi.  Bion ataupun bukan,  bagiku sama saja.  Yang pasti mereka telah menyakiti hatiku,  kecuali Nenek….aku masih selalu kangen padanya.
“Mungkin kamu heran bagaimana aku bisa tahu tempat tinggalmu?  aku…”
“Jangan bertele-tele,  apa maksud kedatangan kamu sebenarnya,”  aku mulai tak sabar dengan sikapnya yang bagiku seperti basa-basi.  Aku tak peduli ia terkejut dengan ucapanku,  bahkan aku sengaja tak memandang wajahnya saat berbicara.
“Saya tahu tempat ini dari tetangga kamu,”  dia terus saja melanjutkan ucapannya tanpa peduli dengan ucapanku barusan.
“Saya tahu kamu marah dengan kejadian yang lalu,  karena itu saya ingin minta maaf.”
“Sudah saya katakan,  tak perlu betele-tele,”  kali ini suaraku mulai meninggi.
“Apakah maksud kamu datang hanya untuk melanjutkan ucapan pacar kamu yang telah membuatku malu di hadapan teman-temanku?”  kini giliranku yang sinis.
“Kalau Cuma itu,  kamu tak perlu memintanya,  karena aku akan melakukannya dengan senang hati,”  aku mulai tak memberinya kesempatan untuk bicara,  bahkan nyaris hilang kendali bila mengingatkan perlakuanya padaku.
“Dan perlu kau tahu,  bahwa aku tak akan ke rumahmu untuk kedua kalinya,”  lanjutku kemudian.
“Aku juga sudah berjanji untuk tidak menjumpai lagi…”  kini aku tercekat dan tak bisa melanjutkannya.  Benarkah aku tak ingin menjumpai Nenek?  Dia sama sekali tidak bersalah.  Tiba-tiba mataku menghangat,  namun tak akan kubiarkan diriku menangis di hadapan orang seperti Bion.
Untung aku ingat,  bahwa pertemuan dengan Nenek bisa aku lakukan di tempat kami biasanya bertemu,  tanpa harus ke rumah mereka.
“Baiklah,  aku akan lakukan semua yang kalian inginkan,  yang penting mulai saat ini jangan pernah ganggu aku lagi,”  tandasku tegas.
“Justru aku datang kemari karena Eyang yang memintaku untuk menjemputmu,”  suaranya tertahan.
“Eyang sakit dan sudah tiga hari ini terbaring di kamar.  Ia ingin kamu menemaninya meski sebentar,”  lanjutnya kemudian dengan nada memohon.  Aku hanya menanggapinya dengan senyum kecut.
“Sebaiknya kamu tak usah menggunakan Eyang kamu sebagai senjata untuk mencari simpatiku,  itu tak akan berhasil,”  nadaku benar-benar  tinggi.  Bion hanya menarik dafas dalam.  Aku benar-benar puas sedikit membuat pelajaran untuknya.
“Baiklah,  ini mungkin keputusanmu.  Setidaknya aku sudah menyampaikan pesan Eyang,  meskipun akhirnya aku gagal meyakinkanmu.  Dan paling tidak aku telah berusaha memberitahumu,”  ia diam sesaat.
“Memang,  mungkin kesankuku terlalu buruk dihadapanmu,  bahkan mungkin kau juga berfikir bahwa aku telah mengacukan Eyangku sendiri.  Kalau benar begitu yang kau fikirkan,  kau salah,  aku tak sepeti itu.  Walau yang lain melakukannya,  tapi aku tidak memintamu untuk percaya,”   ia terus saja menjelaskan tanpa aku minta.
Tapi kali ini aku sedikit mencair setelah melihat ia bersungguh-sunguh.  Padahal ia mulai nampak putus asa menunggu jawabanku.
“Aku minta maaf bila telah mengganggu,  dan terima kasih kau masih menerima kehadiranku.  Selamat siang,”  dia berdiri danmelangkah ke luar dari ruangan.
Aku ingin sekali menahannya dan mendengarkan cerita tentang Nenek lebih banyak,  tapi lidahku seperti kaku dan tak mampu bersuara.  Aku terlanjur malu,  karena itu aku cuma bisa memandangi punggungnya yang akan berlalu.  Segalanya bercampur aduk di kepalaku.  Tiba-tiba langkahnya terhenti.
“Supaya kamu tahu,  Eyang selau menyebut nama kamu di depanku,  karena dia selalu kangen padamu,”  setelah mengatakan itu,  akhirnya ia benar-benar pergi.
Sejak kepergiannya,  aku kembali teringat Nenek.  Kenapa aku bisa sejahat ini padanya,  hanya karena ego aku telah melupakan perasaannya.  Memasuki kamar,  hatiku tetap tak bisa tenang gelisah,  apakah aku harus menjenguknya?  Bila iya,  berati  aku harus bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan itu,  atau terus membiarkan keadaan begini.  Benarkah Nenek merindukanku?  Hal itu sungguh membuatku sangat terharu.
Serasa ada kekuatan yang muncul dari hati kecilku.  Rasanya tidak salah sekali ini percaya pada berita itu,  dan mencoba melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati Nenek.  Bergegas kuraih handuk untuk mandi,  hatiku bulat ingin menjumpainya.
Dengan sedikit ragu aku memberitahu pak satpam tentang kedatanganku,  namun tiba-tiba seseorang telah memanggilku dari pintu.
“Nanda?’  aku sedikit keki dan tak tahu harus bersikap apa,  karena ternyata  Bion sedang  berdiri dan terdenyum di depan pintu.
“Ayo masuk.  Eyang sudah menunggumu,”  ia menyambutku dengan ramah seolah telah lupa dengan kejadian tadi.  Ia lalu mengantarku memasuki kamar pribadi Eyangnya.
Nenek nampak sangat gembira menyambut kedatanganku.  Aku pun sangat kangen dengannya.  tanpa sadar,  ada yang menetes di pipiku,  aku menangis bahagia.
“Kenapa kamu tak pernah lagi menjenguk Eyang?”
“Bion benar kan Yang,  kalau Nanda pasti datang jenguk Eyang,”  Bion sengaja menyela ucapan Eyangnya.
“Kemarin Bion ke rumah kamu,  katanya kamu lagi ke daerah,  benar?”  aku melirik ke arah Bion yang kemudian mengisyaratkan sesuatu kepadaku untuk membenarkan berita itu.
“Iya Nek,  eh Yang,  Nanda sibuk.  Maaf,  Nanda tak tahu Eyang sakit,”  jadi tadi Bion sudah berbohong untuk menghibur Eyangnya dan mengatakan bahwa aku pasti datang,  padahal….
“Gara-gara kamu datang,  Eyang jadi sembuh,”  Eyang memegang tanganku hangat.  Meski canggung di depan Bion,  tapi aku tetap membalas genggamannya.  Eyang benar-benar tampak bahagia.  Aku merasa lebih nyaman bersamanya saat belum mengetahui siapa dia sebenarnya.
Selanjutnya atas permintaan Eyang pula,  kami bertiga mencari udara dan berkeliling kota dan berhenti sebuah taman.  Lucu memang,  kami pergi  cuma bertiga tanpa siapa-siapa dan hanya berkeliling kota.  Dia kelihatan begitu menikmati  segalanya.
Aku mencoba menghiburnya dengan menceritakan kisah-kisah yang lucu saat duduk di bawah pohon,  sambil mencoba mengingat kisah lucu dan anekdot-anekdot yang pernah aku baca.
Aku terus saja asyik bercerita dan menikmati kebahagiaan Eyang,  sampai kemudian kusadari untuk beberapa kali Bion aku dapati sedang menatapku dengan pandangan  yang  agak aneh.  Tatapannya terasa lain,  ia tersenyum manis sekali dan tiba-tiba membuatku merinding.  Orang yang selam ini begitu kubenci,  kali ini bahkan sedang bekerjasama denganku untuk menghibur Eyangnya.
Tak kusangka,  ternyata Bion masih memiliki perasaan sayang yang begitu dalam kepada orang tua itu.  Bahkan dia begitu pandai menyembunyikan perseteruan antara aku dan dirinya sehingga  Eyangnya menyangka selama ini kami akur.
Sejak saat itu,  Bion hampir rutin menjemputku setiap hari sabtu atas permintaan Eyangnya,  sekedar untuk menemaninya di rumah.  Biasanya setelah aku tiba,  Bion lalu pergi  meninggalkan kami berdua dan dia baru muncul untuk mengantarkan aku pulang setelah malam hari.
Keluarga mereka benar-benar super sibuk,  sampai papa mamanya tak pernah aku jumpai.  Bila yang satu ke luar negeri,  yang satu lagi ke luar kota.  Keluarga yang hebat memang,  meski ada yang nampak kurang,  yaitu kasih sayang dan kebersamaan.
Satu-satunya kakak Bion kini sedang bersekolah di Ausralia dan hanya Bion yang memilih untuk sekolah di kota ini.  Alasannya sangat sederhana,  ia ingin  bisa  lebih  dekat  dengan Eyangnya.  Ternyata  cuma dia yang benar-benar peduli dengan keberadaan orang tua itu di rumah ini.  Tentu saja dia yang nampak paling dekat dan disayang oleh Eyang,  karena ia juga melakukan hal sama terhadap Eyangnya.
Kini aku benar-benar bersyukur dengan kehidupan keluargaku yang sangat sederhana namun penuh kasih sayang.  Ayah dan Ibu  tak pernah  terlalu  dari  kami sampai bangku SMA.  Sebagai anak bungsu memang aku cukup di manja.  Untung saja mereka selalu menanamkan disiplin dalam mendidik anaknya,  sehingga aku tak menjadi anak yang kolokan.  Selain itu atas dukungan kak Dani,  aku selalu aktif dengan kegiatan-kegiatan organisasi saat di sekolah dulu atau di kampus sat ini.
Kebijaksanaan Ayah dan Ibu semakin nampak ketika memberi kebebasan anak-anaknya untuk menentukan tempat melanjutkan sekolah di perguruan tinggi,  membuatku semakin bangga pada mereka.  Sehingga tak heran bila kak Dani lolos di Universita Gaja Mada Yogyakarta dan kak Mami di Universitas Diponegoro.
Aku yang tak ingin terlalu jauh dari Ayah maupun Ibu,  tetapi memilih di kota ini.  Mungkin dalam hal ini,  aku dan Bion  memiliki persamaan pandangan.
Bila musim liburan tiba atau saat lebaran,  semua terasa istimewa,  karena seluruh anggota keluarga berkumpul.  Moment seperti itu selalu aku tunggu dan terasa begitu indah,  karena suasananya tentu saja berbeda.
“Kok senyum sendiri sih?”  Bion sengaja mengejutkanku.  Aku tersipu malu saat menyadari bahwa aku sedang bersamanya di dalam mobil yang sedang melaju ke rumahnya.
“Enggak,  cuma ingat sama kakak,”  jawabku singkat.
“Ingat kakak…apa ka-kak?”  ia mencoba  untuk menggodaku.  Sikapnya kini benar-benar mengingatkan aku pada kak Dani yang juga sering mnggoda aku seperti itu.
“Hayo,  pacar kamu mana,  sudah gede kok belom punya?”  jangan-jangan nggak laku,”  sambil tangannya menjawil hidungku.
“Yee,  memang orang resmi  gede kalo sudah punya pacar?”  protesku tak terima.
“Iya dong,  itu prestis juga,  bener kan?”
“Kak Dani noraaak!!”  aku berlari mengejarnya,  dan semua beru berhenti kalau ada Ayah dan Ibu,  karena aku malu jika mereka sampai mendengar semuanya.
“Nah,  tuh kan…melamun lagi,”  kembali Bion mengejutkanku,  tapi aku pura-pura tak menanggapinya.
“Lho kok belok sini,  kita mau ke mana?” tanyaku keheranan karena mobil tak mengarah ke rumahnya,  tetapi menuju ke arah lain.
“Sori ya,  aku bohong.  Sebenarnya Eyang  sekarang  sementara  di  Jakarta dan Cuma ada aku di rumah.”
“Maksud kamu?”
(bersambung..)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar