Lari pagi
ternyata kegiatan yang
sangat menyenangkan, walaupun
itu baru aku
lakukan sejak beberapa
hari yang lalu.
Selain badan terasa lebih fresh,
juga bisa mengurangi sedikit berat badanku yang akhir-akhir ini melar
karena mulai over gembul.
Hampir setiap hari, aku bertemu dengan seorang perempuan tua di
jalanan yang selalu kami lalui bersama.
Mulanya aku tak peduli padanya,
tapi karena sering berpapasan akhirnya aku mengenali wajahnya.
Diam-diam ada rasa malu di hatiku
setelah menyadari bahwa selama ini aku telah dikalahkan oleh seseorang yang
telah berumur lanjut. Dia begitu
bersemangat saat berjalan santai menyusuri jalan raya. Bahkan dia kelihatan sudah terbiasa
melakukannya, sampai-sampai berani tak
menggunakan alas kaki. Hal yang sama
sering Ayah lakukan bila berjalan pagi hari,
yang katanya bagus untuk kesehatan ginjal. Mungkin juga itu benar. Tapi kasihan juga kalau tiba-tiba ada duri
atau sesuatu yang terinjak oleh kakinya.
Hari ini seperti biasanya, aku kembali melihatnya. Kali ini dia sedang berusaha untuk memungut
handuk kecilnya yang terjatuh. Aku langsung mendekatinya dengan maksud
membantu.
“Saya bantu ya, Nek?” gerakanku cepat mengambil benda itu dan
mengibas-ngibaskannya, sekedar untuk
menghilangkan pasir yang menempel.
Kemudian kuserahkan sambil tersenyum manis padanya. Tapi sungguh,
ternyata dia nampak kurang respon dan tidak senang melihat aku melakukan
itu semua untuknya. Ekspresi wajahnya
jelas sekali menunjukkan hal itu.
Tak ada senyum apalagi ucap
terimah kasih, malahan dahinya berkerut
heran melihatku. Karena merasa
dipelototi seperti itu, akhirnya aku
buru-buru meninggalkannya, tentu saja
dengan senyum salah tingkah karena keki.
Sial benar hari ini, niat baikku
ternyata malah dicurigai. Atau…mungkin saja penampilanku seperti seorang penodong? Spontan aku perhatikan seluruh penampilanku. Nggak juga,
ah sudahlah, rasanya tak perlu
memikirkannya, aku coba menghibur diri
sendiri.
Mungkin aku harus memaklumi semua
itu, biasalah seorang nenek.
Sebenarnya tiap kali melihatnya,
selalu aku teringat pada nenek di kampung yang tiap hari juga sering
ngomel. Untung saja aku selalu bisa
mengambil hatinya, bahkan mungkin cuma
ucapanku yang didengarnya , hingga tak
salah bila aku bergelar cucu kesayangan.
Tak bisa kupungkiri, aku memang senang dengan orang tua dan
anak-anak. Bahkan aku pernah berniat
untuk menjadi guru taman kanak atau bekerja di pengasuhan orang-orang jompo
kalau saja orang di rumah tak menghalangiku.
Aku harus kuliah dulu, begitulah
alasannya, setelah itu baru boleh.
Orang tua dan anak-anak nyaris
memiliki persamaan dari segi sifat.
Mereka selalu ingin diperhatikan lebih banyak, tentu saja dengan kesabaran. Bedanya,
kalau nenek jengkel mereka tidak menangis, tak seperti anak-anak yang , malah sebaliknya. Tapi yang pasti, aku punya nenek yang sangat sayang padaku.
Saat di kampung, sebagian besar waktuku habis tersita oleh
Nenek. Selalu ada saja yang dibuatnya
untukku. Bahkan yang terakhir ia
membuatkan aku sweater rajutan dari benang wol yang sekarang sering aku pakai
dengan perasaan bangga ke kampus. Bagaimana tidak, Nenek pintar banget memilih
motif dan warna kesukaanku.
Atau kadang ia menemaniku membuat
rujak di bawah pohon mangga, padahal dia
sendiri tak bisa makan rujak. Tapi dia
rela mengulek cabe untukku. Ah
Nenek, kau selalu membuatku senang dan
bahagia, kau memang hebat.
“Kamu mestinya ambil Psikologi
Nan, kok malah masuk Hukum.
Hobi kamu kan cocok,” begitu
sindir Nuning padaku suatu hari saat aku terlanjur memilih fakultas yang aku
tekuni sekarang ini.
Aku masih tetap rajin untuk lari
pagi dan kini malah mencoba mencari-cari Nenek tua itu lagi yang diam-diam
menjadi spirit tersendiri buatku.
Sayangnya sudah seminggu ini aku tak pernah melihatnya. Padahal aku ingin sekali mengucapkan selamat
pagi kepadanya, tak peduli ia akan
cemberut lagi. Aku yakin suatu hari
nanti ia akan berubah sikap kepadaku. Semangat!!
***
Udara begitu segar menerpa
tubuhku yang berpeluh. Sekilas aku
menangkap bayangan seseorang yang sedang duduk sendiri di trotoar jalan tak
begitu jauh dariku. Hah, ternyata perempuan tua itu.
Untuk beberapa saat aku hanya
diam sambil memperhatikannya dari jauh. Aku jadi senang karena hari ini aku
bisa melihatnya. Meski saat ini aku masih
belum berani untuk menghampirinya karena ingat akan tatapannya yang tak
bersahabat waktu itu.
Lama-lama aku semakin
penasaran, setelah sejak kuperhatikan ia
tak juga berdiri, bahkan sejak tadi ia hanya duduk sambil menunduk. Tangannya nampak sedang melakukan sesuatu
dengan serius. Dengan sedikit keberanian
aku mencoba untuk mendekatinya, meski
dengan resiko seperti kemarin.
Aku jadi iba melihatnya, saat tahu ternyata dia sedang menahan rasa sakit pada kakinya dan
tentu saja membutuhkan bantuan.
“Maaf Nek, ada yang bisa saya bantu?”
ia sedikit terkejut memandangku,
namun cuma sesaat, karena
selanjutnya ia mengalihkan perhatiannya lagi pada kakinya. Ia bahkan tak menjawab pertanyaanku. Kucoba semakin mendekat dan berjongkok, ternyata di telapak kakinya terdapat duri
kecil, dan tentu saja hal itu cukup
membuatnya merasa kesakitan.
“Boleh saya bantu Nek?” tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung memegang kakinya dan mencoba
untuk mengeluarkan duri tersebut dengan hati-hati. Kali ini ia hanya diam dan membiarkan aku
melakukannya. Akhirnya aku
berhasil, setelah beberapa kali gagal
mengeluarkan duri kecil itu.
“Sekarang Nenek pulang saja, atau saya antar?” tawarku tulus. Perlahan senyumnya mengembang.
“Terimah kasih Nak,” ucapnya pelan. Aku tersenyum sambil mengangguk membalas
ucapannya. Hatiku lega, akhirnya dia
mulai bersahabat denganku. Senyumnya
sungguh mengingatkan aku kembali pada Nenek di kampung. Yang pasti hari ini aku sangat bahagia dengan
perubahan sikapnya yang mulai ramah kepadaku.
“Rumah Nenek dimana?” Tanyaku kemudian mencoba lebih akrab.
“Rumah Nenek tidak jauh dari
sini, tak usah diantar, nak,” jawabnya ramah.
“Atau pulang naik taksi aja ya
Nek?” aku langsung membantunya berdiri
dan memanggil taksi tanpa menunggu ia mengiyakan aku. Kurogoh saku trainingku yang isinya hanya
selembar uang sepuluh ribuan. Aku yakin
ini cukup, tidak mungkin orang
setua ini berjalan jauh dari rumahnya.
Kusodorkan uang itu kepada pak sopir setelah si Nenek berada didalam
taksi.
“Tolong antar kerumah Nenek saya Pak.” Untuk beberapa saat dia nampak tertegun, tapi kemudian kembali tersenyum sebelum taksi
berlalu.
Dari kejauhan kulihat gerobak
bubur ayam kesukaanku. Rasanya kali ini
aku tak jadi makan bubur ayam, tapi hal itu tak penting karena perasaanku lebih
bahagia telah sedikit bisa membantu orang lain.
Paling tidak bisa berbuat baik hari ini.
Tiga hari aku tak pernah
melihatnya lagi, hingga keesokan harinya aku bertemu lagi saat Nenek itu sedang duduk
sendiri sambil beristirahat di tempat biasanya.
“Selamat pagi Nek,” aku sengaja membuatnya sedikit terkejut. Aku yakin ia tidak menyadari kehadiranku yang
sengaja mendekatinya dengan diam-diam.
“Wah sehat benar kelihatannya hari ini,”
dia langsung menyambutku dengan senyumannya yang paling manis.
“Selamat pagi,” belasnya dengan suaranya yang khas dan ramah.
“Lagi apa Nek, ngaak jalan-jalan seperti biasa?” mataku mengarah ke arah sepatu olahraga yang
kini dikenakannya.
“Wah Nenek sekarang makin
cakep,” aku mencoba menggodanya dan
langsung disambut dengan tawanya yang renyah.
“Nenek lagi istirahat
sekarang. O, iya Nenek juga mau bilang sekali lagi terima
kasih karena pertolongan kamu tempo hari.”
“Nggak pa-pa Nek, itu biasa.
O, iya panggil saja Nanda, itu nama saya. Kini dia nyaris tak lepas dari senyumannya
kepadaku, apalagi kalau dia sedang
bercerita. Bahkan kami cepat akrab
setelah kejadian itu. Sungguh aku senang
sekali bisa akrab dengannya.
Ia banyak menceritakan masa
lalunya yang menyenangkan saat masih muda.
Sesekali aku hanya bisa tertawa mendengar ceritanya yang lucu. Sangking asyiknya cerita, aku hampir lupa sudah dua jam ngobrol
dengannya.
“Aduh maaf ya Nek, Nanda mau pulang, ada kuliah hari ini. Besok nanda temani Nenek lagi,” kucoba mencegat taksi untuknya seperti yang
lalu, namun kali ini ia tak mengijinkan
aku saat hendak membayarnya.
“Jangan Nanda, kamu masih lebih membutuhkan uang itu,” aku tersenyum malu dan mengangguk menuruti
ucapannya, lalu melambaikan tangan
hingga taksi itu pergi.
Aku bahagia sekali, karena aku kini benar-benar mempunyai seorang
teman baru. Meski aku tak tahu di mana
ia tinggal. Nenek itu begitu senangnya
menceritakan masa lalunya. Hampir setiap
aku bertemu dengannya, dan aku selalu
berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya.
Meski aku juga tak tahu apa yang
aku peroleh dari kegiatanku itu, tapi
asyik juga bila membuatnya senang dan selalu tersenyum bahagia saat
bercerita. Ia senang karena ada yang mau
mendengarkannya, apalagi aku juga
menikmati suasana saat bersamanya.
Sayangnya, seminggu kemudian aku tak pernah melihatnya
lagi. Tapi aku tetap melakukan
kebiasaanku untuk menunggunya di tempat
yang sama dan menelusuri jalan-jalan yang kira-kira dilaluinya, tapi tetap tak ada. Tiba-tiba ada rasa kuatir padanya.
Apakah dia sakit? Sayang sekali selama ini aku bahkan lupa
untuk menayakan alamatnya sehingga aku tak tahu harus melakukan apa untuk
menemuinya. Selama ini aku merasa yakin
akan selalu bertemu dengannya ditempat yang sama sehingga merasa tak perlu
menayakan alamatnya. Ternyata aku
betul-betul bodoh. Ini seperti kehilangan seorang teman
pagiku?
Esok harinya juga terjadi hal
yang sama, hatiku bertambah cemas, namun tak bisa berbuat sesuatu untuk
mengetahui keadaannya. Apalagi setelah
dua minggu kemudian aku tak melakukan joging lagi karena persiapan final tes
dikampus. Dalam hati aku berharap dia
tetap baik-baik saja, dimanapun saat ini
dia berada.
***
Sebulan sudah aku lupa akan
kegiatan joging. Dan tiba-tiba aku ingin
melakukannya lagi. Apalagi berat badanku
mulai tak bisa ditolerir lagi sepulang dari kampung kemarin. Kalau berada di kampung, bakat gembulku nyaris tak terkendali. Meski demikian, Ayah dan Ibuku selalu mengatakan bahwa
tubuhku tidak gemuk.
Ayah, ibu atau pun Nenek sama saja, mereka lebih senang melihat tubuhku
gemuk. Mereka tak tahu hal itu sangat
mengangguku. Bahkan kali ini aku yakin
sudah kelebihan dua kilo dari berat standar,
hhffhh…mengerikan!
Saat melalui jalan, aku teringat pada Nenek itu. Cukup lama juga aku tak bertemu
dengannya. setelah berjalan dan berlari
kecil, aku duduk di trotoar, tempat dimana aku dan Nenek itu selalu
bertemu dan bercerita. Aku
berharap-harap untuk bisa bertemu dengannya,
diantara orang-oarng yang bersliweran didepanku.
Aku merasa kangen dengannya. selain itu aku ingin sekali cerita tentang
nilai-nilaiku yang semua bagus. Dia
pernah bilang kalau sangat menyukai orang yang belajar keras? Aku setuju dengan semua itu.
“Nanda?” telingaku menangkap suara yang tak asing dari
arah samping, membuat aku berbalik
refleks.
“Nenek!?” aku benar-benar tak menyangka bertemu
dengannya lagi. Aku sedikit histeris
menyambutnya. Sangking girangya aku
langsung memeluk tubuhnya yang tua
dengan perasaan bahagia, ia pun
menyambutku dengan melakukan hal yang sama.
“Nenek tidak pernah kelihatan, kemana saja?”
aku sedikit protes.
“Aku kangen lo, sama Nenek.
Nenek sehat aja kan?” pertanyaanku bertubi-tubi, sehingga ia tak sempat menjawabnya, tapi aku tak peduli.
“Nenek sehat” wajahnya cerah dan sangat bersemangat.
“Nah, Nenek sekarang tidak boleh menolak lagi. Kita makan bubur ayam dulu ya nek? Nanda laper nih,” karena melihatku begitu girang, ia akhirnya hanya mengangguk mengikuti
keinginanku.
Sambil bercerita panjang
lebar, aku nikmati bubur ayam yang
memang enak itu. Nampaknya dia pun
menyukainya. Urusan makan bubur ayam
memang paling aku suka. Dikatakan
hobi, sebenarnya tidak juga. Semuanya tergantug kondisi keuangan, maklumlah anak kost.
Setelah cukup kenyang, karena Nenek tidak mau tambah sepertiku, akhirnya aku membayar hanya tiga mangkuk.
“Nenek lihat orang yang di mobil
itu?” tanyaku padanya, sambil melirik pada seseorang yang nampaknya
sedang memperhatikan kami.
“Kenapa?” balasnya heran.
“Dari tadi dia memperhatikan kita
terus makan bubur, memangnya aneh atau
lucu orang makan bubur itu?
Mestinya, kalau pengen juga ya
nggak usah malu, makan aja. Nggak usah pura-pura gengsi makan
digerobak, iya kan Nek? Mentang-mentang kaya, pake gengsi segala,” mulutku mencibir. Tentu saja Nenek cuma bisa tersenyum
menanggapiku yang sedikit sewot.
Saat lagi asyik terus
berkomentar, orang itu tiba-tiba
menatapku. Sepertinya dia mendengarkan
ucapanku. Yang paling tak kusangka
kemudian, dia benar-benar berjalan
menuju ke arah kami. Tentu saja aku
takut, apalagi aku dan Nenek yang tidak
bisa apa-apa kalau orang itu berniat jahat.
Pandangannya sangat dingin, oh Tuhan,
apakah dia mendengarku dan
tersinggung dengan ucapanku tadi, kalau
dia berani macam-macam aku akan berteriak.
Rasanya cukup banyak orang yang berlalu lalang disekitar sini.
“Dia mungkin dengar ya Nek?” aku jadi ciut dan perlahan beringsut merapat
ke Nenek. Aku yakin ia tak tega berbuat
jahat kepada orang seperti Nenek.
Semoga, hatiku berharap-harap
cemas. Tapi ternyata ia benar-benar
menuju ke arah kami, aku mengkerut.
“Eyang tidak pulang?” Haaah!!!
my God, jantungku nyaris copot
sekarang, jadi….oh !@#$%^&
***
Seandainya bukan karena
permintaan Nenek, aku tidak akan mengikutinya. Belum lagi hilang rasa maluku kepada Nenek
tentang ucapanku tadi yang ngawur, kini
aku sudah terpaksa harus berada semobil dengan orang asing itu. Nenek kemudian menjelaskan siapa dia yang
ternyata adalah salah seorang cucunya. Speechless!
Ternyata Nenek bukan orang biasa
sepeti aku. Aku merasa jadi patung
tiba-tiba jelas sekali ia tak senang dengan kehadiranku bersama Neneknya, tapi dia pun nampak tak dapat menolak
keinginan Nenek untuk mengajakku. Dan
itu membuat aku jadi merasa risih dan serba salah.
Melihat kecanggunganku, Nenek mengajakku bercerita lagi sehingga
perasaanku sedikit tenang, tapi sikap
cucunya yang duduk di depan setir itu masih bersikap sama, nampak sisnis. Sepertinya ia ingin menunjukkan ketidak
senangannya kepadaku.
Akhirnya kami sampai di kompleks
perumahan yang sangat elit. Aku semakin
salah tingkah sewaktu nenek mengajakku ke dalam rumah. Tentu saja pemandangan yang baru saja kulihat
benar-benar mengagumkanku, karena selama
ini aku hanya melihat di dalam film-film di televisi saja.
Tapi aku mencoba untuk tidak terlihat canggung.
Kemudian nenek mengajakku untuk
melihat koleksi foto-foto miliknya, dan
aku hanya menurut saja untuk membuatnya senang.
Rumah itu begitu besar dan sunyi,
hanya ada seorang satpam dan kami bertiga.
“Beginilah suasana rumah
Nenek. Semua penghuninya sibuk dengan
urusannya,” Nenek seolah mengerti dengan
jalan fikiranku yang termangu menyaksikan semuanya.
“O iya kalau mau minum, ambil saja sendiri di kulkas, kamu jangan sungkan.”
“Iya Nek, terimah kasih,” jawabku setengah malu-malu.
Ia terus saja mendambil
album-album foto koleksinya. Aku nampak
kasihan dengannya, dia benar-benar butuh
perhatian dari orang-orang sekitarnya.
Tapi nampaknya ia tak memperolehnya saat ini, tapi aku berharap semua itu hanya fikiranku
saja.
Dengan penuh perhatian aku
mendengarkan semua penjelasannya tentang tentang foto-foto itu. Setelah aku puas, aku pamit padanya. Walau ia nampak berat, namun akhirnya ia mengizinkan aku setelah aku
memberi alasan akan kuliah hari ini.
Tapi yang tidak aku duga, dia menyuruh cucunya itu lagi untuk
mengantarkanku pulang. Padahal aku sudah
menolak dan mengatakan ingin pulang dengan taksi, tapi Nenek tetap tak mengizinkanku.
Aku tahu, cucunya nampak tak senang dengan perintah
itu, tapi ia tak dapat menolaknya. Baru saja tanganku memegang handle pintu
belakang, tiba-tiba suaranya yang tidak
ramah mengejutkanku.
“Kamu duduk depan saja, lagian aku bukan sopir,” ujarnya dingin.
“Bion hati-hati!” suara Nenek yang sedang berdiri di pintu
mengingatkannya untuk berhati-hati sebelum kami pergi. Aku langsung merekam nama orang sombong itu
adalah Bion.
Walaupun perasaanku tidak
enak, kepada Nenek aku tetap mencoba
untuk tersenyum dan melambai sebelum mobil berlalu. Di depan pintu gerbang tiba-tiba mobil
berhenti karena berpapasan dengan sebuah mobil yang hendak memasuki sebuah
pekarangan.
Perlahan kacanya terbuka dan
dari dalam muncul wajah seorang perempuan yang cantik.
“Bion! Mau kemana?”
“Iya nih, disuruh Eyang. Kamu ke dalam aja, aku segera pulang kok.” Aku pura-pura tak peduli dengan obrolan
mereka. Apalagi perempuan itu menatapku
penuh selidik. Kali ini aku benar-benar
gagal untuk menyembunyikan kekacauan perasaanku.
“Ke mana Nona?” nadanya yang tak ramah jelas menyindirku.
“Dinoyo,” jawabku singkat. Aku benar-benar merasa tak enak dengan ucapannya barusan.
Tak lama kemudian mobil melaju
dengan kecepatan tinggi, bahkan semakin
lama semakin kencang, membuat nafasku
sesak dan jantungku berdebar-debar.
Apalagi aku tak sempat mengenakan sabuk pengaman.
Di sebuah tikungan hampir saja
ia menabrak mobil yang ada di depan.
Suara decit rem mobil sungguh memekakkan telinga, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa diam, bahkan untuk menjeritpun aku tahan, sehingga aku benar-benar seperti sebuah patung
bodoh yang sedang ketakutan
sendiri. Aku hanya bisa menjerit tapi
dalam hati...(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar