Kamis, 24 Maret 2016

TALI KASIH (bag 1)


Lari  pagi  ternyata  kegiatan  yang  sangat  menyenangkan,  walaupun  itu  baru  aku   lakukan  sejak  beberapa  hari  yang  lalu.  Selain badan terasa lebih fresh,  juga bisa mengurangi sedikit berat badanku yang akhir-akhir ini melar karena mulai over gembul.
Hampir setiap hari,  aku  bertemu dengan seorang perempuan tua di jalanan yang selalu kami lalui bersama.  Mulanya aku tak peduli padanya,  tapi karena sering berpapasan akhirnya aku mengenali wajahnya.
Diam-diam ada rasa malu di hatiku setelah menyadari bahwa selama ini aku telah dikalahkan oleh seseorang yang telah berumur lanjut.  Dia begitu bersemangat saat berjalan santai menyusuri jalan raya.  Bahkan dia kelihatan sudah terbiasa melakukannya,  sampai-sampai berani tak menggunakan alas kaki.  Hal yang sama sering Ayah lakukan bila berjalan pagi hari,  yang katanya bagus untuk kesehatan ginjal.  Mungkin juga itu benar.  Tapi kasihan juga kalau tiba-tiba ada duri atau sesuatu yang terinjak oleh kakinya.
Hari ini seperti biasanya,  aku kembali melihatnya.  Kali ini dia sedang berusaha untuk memungut handuk kecilnya yang terjatuh. Aku langsung mendekatinya dengan maksud membantu.
“Saya bantu ya, Nek?”  gerakanku cepat mengambil benda itu dan mengibas-ngibaskannya,  sekedar untuk menghilangkan pasir yang menempel.  Kemudian kuserahkan sambil tersenyum manis padanya.  Tapi sungguh,  ternyata dia nampak kurang respon dan tidak senang melihat aku melakukan itu semua untuknya.  Ekspresi wajahnya jelas sekali menunjukkan hal itu.
Tak ada senyum apalagi ucap terimah kasih,  malahan dahinya berkerut heran melihatku.  Karena merasa dipelototi seperti itu,  akhirnya aku buru-buru meninggalkannya,  tentu saja dengan senyum salah tingkah karena keki.  Sial benar hari ini,  niat baikku ternyata malah dicurigai. Atau…mungkin saja penampilanku seperti  seorang penodong?  Spontan aku perhatikan seluruh penampilanku.  Nggak juga,  ah sudahlah,  rasanya tak perlu memikirkannya,  aku coba menghibur diri sendiri.
Mungkin aku harus memaklumi semua itu,  biasalah seorang  nenek.  Sebenarnya tiap kali melihatnya,  selalu aku teringat pada nenek di kampung yang tiap hari juga sering ngomel.  Untung saja aku selalu bisa mengambil hatinya,  bahkan mungkin cuma ucapanku yang didengarnya ,  hingga tak salah bila aku bergelar cucu kesayangan.
Tak bisa kupungkiri,  aku memang senang dengan orang tua dan anak-anak.  Bahkan aku pernah berniat untuk menjadi guru taman kanak atau bekerja di pengasuhan orang-orang jompo kalau saja orang di rumah tak menghalangiku.  Aku harus kuliah dulu,  begitulah alasannya,  setelah itu baru boleh.
Orang tua dan anak-anak nyaris memiliki persamaan dari segi sifat.  Mereka selalu ingin diperhatikan lebih banyak,  tentu saja dengan kesabaran.  Bedanya,  kalau nenek jengkel mereka tidak menangis,  tak seperti anak-anak yang ,  malah sebaliknya.  Tapi yang pasti,  aku punya nenek yang sangat sayang padaku.
Saat di kampung,  sebagian besar waktuku habis tersita oleh Nenek.  Selalu ada saja yang dibuatnya untukku.  Bahkan yang terakhir ia membuatkan aku sweater rajutan dari benang wol yang sekarang sering aku pakai dengan perasaan bangga  ke kampus.  Bagaimana tidak, Nenek pintar banget memilih motif dan warna kesukaanku.
Atau kadang ia menemaniku membuat rujak di bawah pohon mangga,  padahal dia sendiri tak bisa makan rujak.  Tapi dia rela mengulek cabe untukku.  Ah Nenek,  kau selalu membuatku senang dan bahagia,  kau memang hebat.
“Kamu mestinya ambil Psikologi Nan,  kok malah  masuk Hukum.  Hobi kamu kan cocok,”  begitu sindir Nuning padaku suatu hari saat aku terlanjur memilih fakultas yang aku tekuni sekarang ini.
Aku masih tetap rajin untuk lari pagi dan kini malah mencoba mencari-cari Nenek tua itu lagi yang diam-diam menjadi spirit tersendiri buatku.  Sayangnya sudah seminggu ini aku tak pernah melihatnya.  Padahal aku ingin sekali mengucapkan selamat pagi kepadanya,  tak peduli ia akan cemberut lagi.  Aku yakin suatu hari nanti ia akan berubah sikap kepadaku. Semangat!!
***
Udara begitu segar menerpa tubuhku yang berpeluh.  Sekilas aku menangkap bayangan seseorang yang sedang duduk sendiri di trotoar jalan tak begitu jauh dariku.  Hah,  ternyata perempuan tua itu.
Untuk beberapa saat aku hanya diam sambil memperhatikannya dari jauh. Aku jadi senang karena hari ini aku bisa melihatnya.  Meski saat ini aku masih belum berani untuk menghampirinya karena ingat akan tatapannya yang tak bersahabat waktu itu.
Lama-lama aku semakin penasaran,  setelah sejak kuperhatikan ia tak juga berdiri, bahkan sejak tadi ia hanya duduk sambil menunduk.  Tangannya nampak sedang melakukan sesuatu dengan serius.  Dengan sedikit keberanian aku mencoba untuk mendekatinya,  meski dengan resiko seperti kemarin.
Aku jadi iba melihatnya,  saat tahu ternyata dia  sedang menahan rasa sakit pada kakinya dan tentu saja membutuhkan bantuan.
“Maaf Nek,  ada yang bisa saya  bantu?”  ia sedikit terkejut memandangku,  namun cuma sesaat,  karena selanjutnya ia mengalihkan perhatiannya lagi pada kakinya.  Ia bahkan tak menjawab pertanyaanku.  Kucoba semakin mendekat dan berjongkok,  ternyata di telapak kakinya terdapat duri kecil,  dan tentu saja hal itu cukup membuatnya merasa kesakitan.
“Boleh saya bantu Nek?”  tanpa menunggu persetujuannya,  aku langsung memegang kakinya dan mencoba untuk mengeluarkan duri tersebut dengan hati-hati.  Kali ini ia hanya diam dan membiarkan aku melakukannya.  Akhirnya aku berhasil,  setelah beberapa kali gagal mengeluarkan duri kecil itu.
“Sekarang Nenek pulang saja,  atau saya antar?”  tawarku tulus.  Perlahan senyumnya mengembang.
“Terimah kasih Nak,”  ucapnya pelan.  Aku tersenyum sambil mengangguk membalas ucapannya.  Hatiku lega, akhirnya dia mulai bersahabat denganku.  Senyumnya sungguh mengingatkan aku kembali pada Nenek di kampung.  Yang pasti hari ini aku sangat bahagia dengan perubahan sikapnya yang mulai ramah kepadaku.
“Rumah Nenek dimana?”  Tanyaku kemudian mencoba lebih akrab.
“Rumah Nenek tidak jauh dari sini, tak usah diantar,  nak,”  jawabnya ramah.
“Atau pulang naik taksi aja ya Nek?”  aku langsung membantunya berdiri dan memanggil taksi tanpa menunggu ia mengiyakan aku.  Kurogoh saku trainingku yang isinya hanya selembar uang sepuluh ribuan.  Aku  yakin  ini cukup,  tidak mungkin orang setua ini berjalan jauh dari rumahnya.  Kusodorkan uang itu kepada pak sopir setelah si Nenek berada didalam taksi.
“Tolong antar kerumah Nenek saya Pak.”  Untuk beberapa saat dia nampak tertegun,  tapi kemudian kembali tersenyum sebelum taksi berlalu.
Dari kejauhan kulihat gerobak bubur ayam kesukaanku.  Rasanya kali ini aku tak jadi makan bubur ayam, tapi hal itu tak penting karena perasaanku lebih bahagia telah sedikit bisa membantu  orang lain.  Paling tidak bisa berbuat baik hari ini.
Tiga hari aku tak pernah melihatnya lagi,  hingga keesokan harinya  aku bertemu lagi saat Nenek itu sedang duduk sendiri sambil beristirahat di tempat biasanya.
“Selamat pagi Nek,”  aku sengaja membuatnya sedikit terkejut.  Aku yakin ia tidak menyadari kehadiranku yang sengaja mendekatinya dengan diam-diam.
“Wah  sehat benar kelihatannya  hari ini,”  dia langsung menyambutku dengan senyumannya yang paling manis.
“Selamat pagi,”  belasnya dengan suaranya yang khas dan ramah.
“Lagi apa Nek,  ngaak jalan-jalan seperti biasa?”  mataku mengarah ke arah sepatu olahraga yang kini dikenakannya.
“Wah Nenek sekarang makin cakep,”  aku mencoba menggodanya dan langsung disambut dengan tawanya yang renyah.
“Nenek lagi istirahat sekarang.  O,  iya Nenek juga mau bilang sekali lagi terima kasih karena pertolongan kamu tempo hari.”
“Nggak pa-pa Nek,  itu biasa.  O,  iya panggil saja Nanda,  itu nama saya.  Kini dia nyaris tak lepas dari senyumannya kepadaku,  apalagi kalau dia sedang bercerita.  Bahkan kami cepat akrab setelah kejadian itu.  Sungguh aku senang sekali bisa akrab dengannya.
Ia banyak menceritakan masa lalunya yang menyenangkan saat masih muda.  Sesekali aku hanya bisa tertawa mendengar ceritanya yang lucu.  Sangking asyiknya cerita,  aku hampir lupa sudah dua jam ngobrol dengannya.
“Aduh maaf ya Nek,  Nanda mau pulang,  ada kuliah hari ini.  Besok nanda temani Nenek lagi,”  kucoba mencegat taksi untuknya seperti yang lalu,  namun kali ini ia tak mengijinkan aku saat hendak membayarnya.
“Jangan Nanda,  kamu masih lebih membutuhkan uang itu,”  aku tersenyum malu dan mengangguk menuruti ucapannya,  lalu melambaikan tangan hingga taksi itu pergi.
Aku bahagia sekali,  karena aku kini benar-benar mempunyai seorang teman baru.  Meski aku tak tahu di mana ia tinggal.  Nenek itu begitu senangnya menceritakan masa lalunya.  Hampir setiap aku bertemu dengannya,  dan aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya.
Meski aku juga tak tahu apa yang aku peroleh dari kegiatanku itu,  tapi asyik juga bila membuatnya senang dan selalu tersenyum bahagia saat bercerita.  Ia senang karena ada yang mau mendengarkannya,  apalagi aku juga menikmati suasana saat bersamanya.
Sayangnya,  seminggu kemudian aku tak pernah melihatnya lagi.  Tapi aku tetap melakukan kebiasaanku untuk menunggunya di tempat  yang sama dan menelusuri jalan-jalan yang kira-kira dilaluinya,  tapi tetap tak ada.  Tiba-tiba ada rasa kuatir padanya.
Apakah dia sakit?  Sayang sekali selama ini aku bahkan lupa untuk menayakan alamatnya sehingga aku tak tahu harus melakukan apa untuk menemuinya.  Selama ini aku merasa yakin akan selalu bertemu dengannya ditempat yang sama sehingga merasa tak perlu menayakan alamatnya.  Ternyata aku betul-betul bodoh.  Ini  seperti kehilangan seorang teman pagiku?
Esok harinya juga terjadi hal yang sama,  hatiku bertambah cemas,  namun tak bisa berbuat sesuatu untuk mengetahui keadaannya.  Apalagi setelah dua minggu kemudian aku tak melakukan joging lagi karena persiapan final tes dikampus.  Dalam hati aku berharap dia tetap baik-baik saja,  dimanapun saat ini dia berada.

***

Sebulan sudah aku lupa akan kegiatan joging.  Dan tiba-tiba aku ingin melakukannya lagi.  Apalagi berat badanku mulai tak bisa ditolerir lagi sepulang dari kampung kemarin.  Kalau berada di kampung,  bakat gembulku nyaris tak terkendali.  Meski demikian,  Ayah dan Ibuku selalu mengatakan bahwa tubuhku tidak gemuk.
Ayah,  ibu atau pun Nenek sama saja,  mereka lebih senang melihat tubuhku gemuk.  Mereka tak tahu hal itu sangat mengangguku.  Bahkan kali ini aku yakin sudah kelebihan dua kilo dari berat standar,  hhffhh…mengerikan!
Saat melalui jalan,  aku teringat pada Nenek itu.  Cukup lama juga aku tak bertemu dengannya.  setelah berjalan dan berlari kecil,  aku duduk di trotoar,  tempat dimana aku dan Nenek itu selalu bertemu dan bercerita.  Aku berharap-harap untuk bisa bertemu dengannya,  diantara orang-oarng yang bersliweran didepanku.
Aku merasa kangen dengannya.  selain itu aku ingin sekali cerita tentang nilai-nilaiku yang semua bagus.  Dia pernah bilang kalau sangat menyukai orang yang belajar keras?  Aku setuju dengan semua itu.
“Nanda?”  telingaku menangkap suara yang tak asing dari arah samping,  membuat aku berbalik refleks.
“Nenek!?”  aku benar-benar tak menyangka bertemu dengannya lagi.  Aku sedikit histeris menyambutnya.  Sangking girangya aku langsung memeluk tubuhnya  yang tua dengan perasaan bahagia,  ia pun menyambutku dengan melakukan hal yang sama.
“Nenek tidak pernah kelihatan,  kemana saja?”  aku sedikit protes.
“Aku kangen lo,  sama Nenek.  Nenek  sehat aja kan?”  pertanyaanku bertubi-tubi,  sehingga ia tak sempat menjawabnya,  tapi aku tak peduli.
“Nenek sehat”  wajahnya cerah dan sangat bersemangat.
“Nah,  Nenek sekarang tidak boleh menolak lagi.  Kita makan bubur ayam dulu ya nek?  Nanda laper nih,”  karena melihatku begitu girang,  ia akhirnya hanya mengangguk mengikuti keinginanku.
Sambil bercerita panjang lebar,  aku nikmati bubur ayam yang memang enak itu.  Nampaknya dia pun menyukainya.  Urusan makan bubur ayam memang paling aku suka.  Dikatakan hobi,  sebenarnya tidak juga.  Semuanya tergantug kondisi keuangan,  maklumlah anak kost.
Setelah cukup kenyang,  karena Nenek tidak mau tambah sepertiku,  akhirnya aku membayar hanya tiga mangkuk.
“Nenek lihat orang yang di mobil itu?”  tanyaku padanya,  sambil melirik pada seseorang yang nampaknya sedang memperhatikan kami.
“Kenapa?”  balasnya heran.
“Dari tadi dia memperhatikan kita terus makan bubur,  memangnya aneh atau lucu orang makan bubur itu?  Mestinya,  kalau pengen juga ya nggak usah malu,  makan aja.  Nggak usah pura-pura gengsi makan digerobak,  iya kan Nek?  Mentang-mentang kaya,  pake gengsi segala,”  mulutku mencibir.  Tentu saja Nenek cuma bisa tersenyum menanggapiku yang sedikit sewot.
Saat lagi asyik terus berkomentar,  orang itu tiba-tiba menatapku.  Sepertinya dia mendengarkan ucapanku.  Yang paling tak kusangka kemudian,  dia benar-benar berjalan menuju ke arah kami.  Tentu saja aku takut,  apalagi aku dan Nenek yang tidak bisa apa-apa kalau orang itu berniat jahat.  Pandangannya sangat dingin,  oh  Tuhan,  apakah  dia mendengarku dan tersinggung dengan ucapanku tadi,  kalau dia berani macam-macam aku akan berteriak.  Rasanya cukup banyak orang yang berlalu lalang disekitar sini.
“Dia mungkin dengar ya Nek?”  aku jadi ciut dan perlahan beringsut merapat ke Nenek.  Aku yakin ia tak tega berbuat jahat kepada orang seperti Nenek.  Semoga,  hatiku berharap-harap cemas.  Tapi ternyata ia benar-benar menuju ke arah kami,  aku mengkerut.
“Eyang tidak pulang?”  Haaah!!!  my God,  jantungku nyaris copot sekarang,  jadi….oh !@#$%^&

***

Seandainya bukan karena permintaan Nenek,  aku tidak akan mengikutinya.  Belum lagi hilang rasa maluku kepada Nenek tentang ucapanku tadi yang ngawur,  kini aku sudah terpaksa harus berada semobil dengan orang asing itu.  Nenek kemudian menjelaskan siapa dia yang ternyata adalah salah seorang cucunya.  Speechless!
Ternyata Nenek bukan orang biasa sepeti aku.  Aku merasa jadi patung tiba-tiba jelas sekali ia tak senang dengan kehadiranku bersama Neneknya,  tapi dia pun nampak tak dapat menolak keinginan Nenek untuk mengajakku.  Dan itu membuat aku jadi merasa risih dan serba salah.
Melihat kecanggunganku,  Nenek mengajakku bercerita lagi sehingga perasaanku sedikit tenang,  tapi sikap cucunya yang duduk di depan setir itu masih bersikap sama,  nampak sisnis.  Sepertinya ia ingin menunjukkan ketidak senangannya kepadaku.
Akhirnya kami sampai di kompleks perumahan yang sangat elit.  Aku semakin salah tingkah sewaktu nenek mengajakku ke dalam rumah.  Tentu saja pemandangan yang baru saja kulihat benar-benar mengagumkanku,  karena selama ini aku hanya melihat di dalam film-film di televisi  saja.  Tapi aku mencoba untuk tidak terlihat canggung.
Kemudian nenek mengajakku untuk melihat koleksi foto-foto miliknya,  dan aku hanya menurut saja untuk membuatnya senang.  Rumah itu begitu besar dan sunyi,  hanya ada seorang satpam dan kami bertiga.
“Beginilah suasana rumah Nenek.  Semua penghuninya sibuk dengan urusannya,”  Nenek seolah mengerti dengan jalan fikiranku yang termangu menyaksikan semuanya.
“O  iya kalau mau minum,  ambil saja sendiri di kulkas,  kamu jangan sungkan.”
“Iya Nek,  terimah kasih,”  jawabku setengah malu-malu.
Ia terus saja mendambil album-album foto koleksinya.  Aku nampak kasihan dengannya,  dia benar-benar butuh perhatian dari orang-orang sekitarnya.  Tapi nampaknya ia tak memperolehnya saat ini,  tapi aku berharap semua itu hanya fikiranku saja.
Dengan penuh perhatian aku mendengarkan semua penjelasannya tentang tentang foto-foto itu.  Setelah aku puas,  aku pamit padanya.  Walau ia nampak berat,  namun akhirnya ia mengizinkan aku setelah aku memberi  alasan akan kuliah  hari ini.  Tapi  yang tidak aku duga,  dia menyuruh cucunya itu lagi untuk mengantarkanku pulang.  Padahal aku sudah menolak dan mengatakan ingin pulang dengan taksi,  tapi Nenek tetap tak mengizinkanku.
Aku tahu,  cucunya nampak tak senang dengan perintah itu,  tapi ia tak dapat menolaknya.  Baru saja tanganku memegang handle pintu belakang,  tiba-tiba suaranya yang tidak ramah mengejutkanku.
“Kamu duduk depan saja,  lagian aku bukan sopir,”  ujarnya dingin.
“Bion hati-hati!”  suara Nenek yang sedang berdiri di pintu mengingatkannya untuk berhati-hati sebelum kami pergi.  Aku langsung merekam nama orang sombong itu adalah Bion.
Walaupun perasaanku tidak enak,  kepada Nenek aku tetap mencoba untuk tersenyum dan melambai sebelum mobil berlalu.  Di depan pintu gerbang tiba-tiba mobil berhenti karena berpapasan dengan sebuah mobil yang hendak memasuki sebuah pekarangan.
Perlahan kacanya terbuka dan dari dalam muncul wajah seorang perempuan yang cantik.
“Bion!  Mau kemana?”
“Iya nih,  disuruh Eyang.  Kamu ke dalam aja,  aku segera pulang kok.”  Aku pura-pura tak peduli dengan obrolan mereka.  Apalagi perempuan itu menatapku penuh selidik.  Kali ini aku benar-benar gagal untuk menyembunyikan kekacauan perasaanku.
“Ke mana Nona?”  nadanya yang tak ramah jelas menyindirku.
“Dinoyo,”  jawabku singkat.  Aku benar-benar merasa tak enak dengan  ucapannya barusan.
Tak lama kemudian mobil melaju dengan kecepatan tinggi,  bahkan semakin lama semakin kencang,  membuat nafasku sesak dan jantungku berdebar-debar.  Apalagi aku tak sempat mengenakan sabuk pengaman.
Di sebuah tikungan hampir saja ia menabrak mobil yang ada di depan.  Suara decit rem mobil sungguh memekakkan telinga,  tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.  Aku hanya bisa diam,  bahkan untuk menjeritpun aku tahan,  sehingga aku benar-benar seperti sebuah patung bodoh yang  sedang ketakutan sendiri.  Aku hanya bisa menjerit tapi dalam hati...(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar