Selasa, 29 Maret 2016

TERMINAL

Ada sesuatu yang menarik tiba-tiba menguak angan, ketika mengingat tempat ini.  Tempat berbaurnya beragam karater manusia yang hilir mudik dan lalu lalang mendatangi dan meninggalkannya.
Tak saling kenal tapi selalu ada sapa, entah itu sekedar basa basi atau untuk kepentingan komersil para kenek menawarkan jasa, atau karena kepentingan lainnya.  Tempat yang nyaris tak pernah sepi oleh arus manusia yang datang dan pergi, berjualan aneka rupa, tempat bercanda para sopir dan kenek saat mengambil nafas istirahat sambil sesekali bersiul nakal jika melihat gadis bening berlalu di hadapan mereka.  Ada yang bercengkrama menanti bus tiba.  Bahkan tak jarang berseliweran peminta-minta. 
Tidak sedikit wajah berbau preman ingin unjuk kuasa.  Ada suara sumringah, tawa renyah, ada juga wajah pias seperti putus asa memikirkan setoran yang semakin tinggi dan belum terkumpul, untuk setoran hari ini.
Terminal, satu sisi dunia yang nyaris selalu ada di semua sudut kota.  Tak ada protes untuk semua tarif harga, dari harga trayek kendaraan hingga warung makan dan warung telpon yang bertarif selangit.  Selalu saja tempat ini ramai dan riuh.  Ada wajah sumringah dan ramah, ada juga wajah yang keruh menyeramkan, seolah ingin menerkam, berbaur suara mesin yang tak pernah diam.
Terminal, apapun adanya, adalah tempat beribu manusia mengadu nasib untuk hidupnya.  Banyak aturan, tapi lebih banyak pelanggaran.  Terminal, bagaimanapun dari sana pernah ada yang tercipta sebuah keindahan yang tak direkayasa.  Terminal, tak disangka akhirnya aku jatuh cinta..(hiks)

TENTANG RASA

Suatu hari, aku sudah lupa kapan waktunya...tiba-tiba dia menelpon dan mengirimiku sms. Gleg! mataku yang sipit seketika terbelalak ketika melihat nama yang tertera di pengirim sms.  Ternyata dia, orang yang pernah diam-diam kukagumi.
Lalu hari-haripun berjalan sempurna dan indah, menemani dan ditemani, tertawa dan bercanda di sela waktu yang tersisa dari kelelahan bekerja.. Cerita mengalir seperti air...
indah dan menenangkan..
Tapi...seiring waktu ternyata segalanya jadi kerontang dan gersang...ah ....kemarau telah datang...
Mungkin kita harus menerima kenyataan, ada yang berbeda dan tak dapat disatukan...
meski kita pernah berkomitmen dengan jemari sambil berucap 'untuk selamanya' dan kulegalkan dengan anggukan kepala, ahhh..
...sudah saatnya untuk merayu kembali hati ini kembali seperti saat belum bersama..
kuharap kita masih bisa mencari senyum yang renyah dan tawa riang diantara hati yang garing dan tak hangat lagi seperti dulu...

Kamis, 24 Maret 2016

PILIHAN TERAKHIR



Jantung Lia serasa hampir lepas mendengar pengakuan Alan di telepon yang tak pernah diduganya sama sekali.
“Please Lia,  aku serius,”  suara Alan kembali mengejutkan Lia yang sesaat teringat akan sahabatnya,  Reza.
“Mana mungkin Alan,  Aku….”
“Jangan keliru Lia.  Aku tau yang kau pikirkan.  Percayalah,  semua itu sudah berlalu.  Aku sendiri bahkan tidak mengerti  mengapa dia menginginkannya,”  Lia cuma diam tak menjawab.  Hatinya bingung karena tiba-tiba harus memberikan jawaban yang ia sendiri tak tahu.
Kenapa Alan menyatakan semua setelah sekian lama dia jalan dengan Reza.  Padahal dulu dialah yang selalu menjadi penyambung keduanya bila terjadi perselisihan.  Lia tak mau melihat sahabatnya Reza sampai memutuskan hubungannya dengan Alan.
Bahkan ketika terang-terangan Reza ingin mengakhiri hubungan mereka,  Lia dengan berbagai cara berusaha membujuk agar dia membatalkan niatnya.  Rasanya itu tidak adil,  hanya karena Reza sedang menyukai salah seorang anak dari SMA tiga,  tentu saja tanpa sepengetahuan Alan.  Lia bahkan tahu hal itu,  meski Reza tak pernah menceritakannya,  tapi ia juga tak mungkin menyampaikan semua kepada Alan.
“Jangan Rez,  tidak mungkin kamu dapat orang sebaik Alan.”
“Aku bosan Lia,  dia terlalu pecemburu,”  Lia tersenyum kecut,  alasan Reza terlalu mengada-ada.  Dia kenal betul Alan,  kalaupun dia cemburu pada Reza karena Alan sangat menyayanginya,  itu saja.
Sayangnya Reza telah dibutakan perasaannya oleh orang yang sebenarnya baru saja dikenalnya di tempat bimbingan belajar.  Memang dari segi materi,  orang itu nampak lebih dibanding Alan.
“Terserah Rez,  aku nggak bisa bilang apa-apa.  Cuma aku minta kamu pikirkan dulu sebelum terlambat,”  Lia meninggalkan Reza dengan sedikit kecewa,  usahanya terasa sia-sia.
Dua minggu kemudian dia mendapat telepon dari Alan dan memberitahu kalau mereka sedang perang dingin.  Berita itu membuatnya sedikit lega,  setidaknya mereka belum sampai bubar seperti keinginan Reza tempohari.
“Kamu harus maklum Alan,  dia mungkin ada masalah keluarga,  sehingga perasaannya sedang sumpek dan emosional,  aku tahu kok.”  Alan akhirnya mau memahami penjelasan Lia yang menurutnya cukup bijaksana.
“Oke,  nanti sore kamu harus ke  rumah Reza untuk mengiburnya,  gimana?”  sesaat Alan hanya diam.
“Aduh sori ya,  aku lagi goreng tempe,  lain waktu ngobrol lagi ya,  bye?”  meski lagi kesal akhirnya Alan tertawa juga mendengar perkataan Lia yang terdengar lucu.
“Oke,  bye.”
Sejak itu Lia tak pernah bertemu lagi karena sibuk dengan pelajarannya,  hingga kurang lebih enam bulan berikutnya.  Sampai akhirnya dua minggu yang lalu tiba-tiba Alan muncul di rumah Lia menceritakan tentang hubungan mereka yang kurang harmonis.  Seperti biasa Lia mencoba menjadi pendengar setia,  tapi kini.
“Halo!  Lia…Halo!”
“I…iya,  Alan…aku,  tidak tahu harus bilang apa,  Aku…Aku bingung.”
“Aku sudah menduga Lia,  pasti kamu akan mengatakan hal itu padaku,”  ujarnya pasrah.
“Tapi aku jujur Lia,  sungguh.  Sebenarnya aku sudah suka padamu saat pertama kali kita bertemu dirumah Reza waktu itu.  Tolong jangan potong ucapanku,”  dia nampaknya mengerti jalan fikiran Lia yang hendak menyela ucapannya.
“Tapi aku juga tak mengira itu adalah rasa yang kemudian akan menyiksaku.  Sejujurnya juga Lia,  aku lebih senang bila bersamamu,  kamu tulus dan tidak basa-basi.  Namun aku tak mau seenaknya mengikuti perasaanku,  selain itu kaupun masih bersama Andy,”  Lia hanya tersenyum getir saat Alan menyebut nama itu yang sepintas mengingatkannya akan masa lalunya.
“Terima kasih Lan,  tapi semua itu tak mungkin….”  suara Lia manggantung.
“Percayalah,  aku sudah tak memiliki hubungan dengannya Lia,  bahkan hal itu sebenarnya sudah sejak lima bulan yang lalu,”  kali ini giliran Lia yang terkejut.  Benarkah?
“Aku sengaja merahasiakannya padamu,  karena aku sudah tahu reaksimu bila mendengar semua itu.”  Lia mearik nafas dalam.
“Alan,  kamu sekarang labil,  emosional dan bingung.  Semua itu bukan karena keinginanmu,  tapi karena rasa kecewa,  percayalah.  Kuharap kamu bisa menenangkan pikiranmu,  setelah itu kita bicara lagi,  maafkan aku.”  Ia sungguh ingin segera menutup telepon agar pembicaraan tak semakin panjang.
“Apakah salah bila sekarang aku mengatakan suka padamu Lia?”  niat Lia untuk mentup telepon jadi urung karena ucapan Alan yang terakhir.  Oh Tuhan ada apa denganku,  kenapa tiba-tiba aku pun  suka mendengar ucapan itu,  Lia mengeluh dalam hati.  Tidak,  ini tak boleh terjadi.
“Kau harus percaya Lia,  aku sudah tidak memiliki hubungan dengannya.  Aku pun sudah mencoba untuk memperbaiki semuanya dengannya,  tapi gagal.  Semua sudah jelas,  dia tak peduli kepadaku dan tak menginginkannya lagi.  Lagipula,  kamu sudah putus dengan Andi,  iya kan Lia?”  dada Lia seketika terasa nyeri.  Alan seolah benar-benar ingin mengingatkannya pada kenangannya yang gagal bersama Andi.
“Please,  jangan ulangi lagi Alan,”  nada suara Lia sedikit nelangsa.
“Maafkan aku Lia,  aku cuma ingin kamu tahu bahwa tidak ada yang berdiri di antara kita berdua,”  buru-buru Alan meralat ucapannya.
“Kamu yakin?”  dia mulai kembali melunak dan mencoba memahami ucapan Alan.
“Tapi,  Alan kamu harus tahu bahwa semua ini hanya sebuah pelarian.”
“Lia,  kita sudah lama kenal,  kita saling tahu.  Bahkan sejak dulu kita selalu jalan bersama dengan mereka.  Sekarang segalanya sudah menjadi masa lalu,  apakah itu masih kamu anggap salah?”  Lia tak segera menjawab.
“Tidak Lia.  Kamu salah!  Sekarang sama sekali tak ada hubungannya dengan siapaun.  Lagipula semua tak akan menyakiti siapa-siapa.  Ini antara kita,  percayalah,”  Lia masih diam.
“Bicaralah,  aku mau dengar.  Atau mungkin dia sahabatmu, lalu kau tak mau menerima kehadiranku?”  Lia memejamkan mata sambil kembali menarik nafas,  mencoba mencari kekuatan dan kepercayaan dalam dirinya.  Memang harus diakuinya kalau dia merasakan perhatian Alan sejak pertama.  Kebersamaan mereka kemudian menghasilkan rasa yang tak dimengerti dan tak perlu dijelaskan.  Tapi ia selalu mengusir rasa yang seharusnya ada dalam dirinya,  apalagi saat ia sedang jalan dengan Andi,  walau akhirnya tanpa sebab kemudian Andi memutuskannya.
Tapi sedikitpun ia tak ada niat mengail di air keruh pada hubungan Reza dan Alan yang kadang goyang,  apalagi pada sahabatnya sendiri.
“Baiklah Alan,”  masih dengan perasaan ragu ia mencoba bersuara.
“Sebenarnya…aku memiliki perasaan yang sama….”  pengakuan Lia terdengar spontan.
“Terima kasih Lia,  kau sudah jujur padaku.  Akhirnya aku memiliki harapan itu,”  belum sempat Lia melanjutkan kalimatnya Alan sudah memotong penuh harap.
“Lia aku ingin ke rumahmu boleh kan?”  gadis itu cuma bisa tersenyum.  Kali ini ia mencoba untuk sedikit menikmati perasaannya,  meski ia memiliki rasa suka pada Alan,  karena bagaimanapun itu akan mempengaruhi hubungannya dengan Reza kelak.
“Malam ini aku akan datang pukul tujuh tepat,”  Alan melanjutkan ucapannya tanpa menunggu persetujuan dari Lia.
“Aku memiliki harapan itu kan Lia?”  tegasnya lagi.
“Kenapa kamu bertanya begitu ?”
“Aku butuh kepastian Lia.”
“Kurasa belum perlu.  Semua terlalu cepat Alan.  Ada baiknya kita jalani segalanya bersama seperti biasa.”
“Oke.  Aku beri waktu berfikir dari sekarang sampai nanti malam,”  Alan benar-benar tak memberi kesempatan Lia berfikir.  Suaranya terdengar optimis dan penuh harapan.
“Oke Lia,  sampai nanti,  bye!”
Hati Lia kembali bingung dengan apa yang baru saja dihadapinya.  Nanti malam,  apa yang harus aku katakan?  Bagaimana dengan perasaan Reza dan apa yang akan dikatakan orang-orang padanya?  Posisi dihatinya bimbang.  Satu sisi ragu dan kuatir sedangkan di sisi lain ia tak bisa mendustai perasaannya yang memang menyukai orang itu.
Pukul setengah delapan,  apa yang meski aku lakukan untuk bertemu dengannya?  Ah…  mestinya tadi aku tak perlu mengatakan kalau menyukainya.  Ada sedikit penyesalan dalam hatinya,  karena hal itu kan menjadi masalah.  Bukankah masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Reza bila memang Alan benar-benar mau melakukannya.
Yang pasti,  sekarang dia harus menunggu Alan dalam hitungan jam sesuai janjinya tadi,  dan ia harus menyiapkan sebuah jawaban : ya atau tidak!
Tiba-tiba perasaan Lia gelisah karena sepuluh menit lagi mereka akan bertemu,  padahal ia masih bingung dan tak tahu apa yang harus dikatannya kepada Alan.  Ini sebuah keputusan yang dilematis.
Kriiing.!  Kriiing.!  Telepon berbunyi,  Lia merasakan bahwa itu dari Alan karena memang ia sedang menunggunya.
“Halo….”
“Halo,  Lia,” suara itu sangat jelas milik Alan yang terdengar gelisah.
“Kamu dimana Lan?”
“Masih di rumah,  maaf Lia,  malam mini aku tak bisa datang.  Aku harus ke rumah sakit karena keluargaku ada yang mengalami kecelakaan.  Tapi besok aku akan tetap datang.”
“Oh,  nggak pa-pa,”  suara Lia gugup,  entah kenapa hatinya sedikit gelisah dengan ucapan Alan.
***
Berulangkali Lia melihat jam.  Hampir tiba waktu yang diucapkan Alan kemarin malam.  Dan kini tepat jam yang dijanjikan,  kemudian lewat sepuluh….duapuluh…tigapuluh….,  dan akhirnya pukul dua belas nol-nol,  tapi tak ada tanda-tanda Alan akan datang atau menelpon.
Lia merasakan tiba-tiba dirinya salah tingkah sendiri karena tetap menunggu hingga larut.  Semestinya itu tak perlu terjadi kalau saja ia benar-benar tak berharap akan kehadiran orang itu.
Satu minggu berlalu,  Lia hampir lupa kalau saja tak melihat kartu nama Alan terjatuh saat membersihkan rak  buku.  Alan tak pernah menepati janjinya untuk datang sejak malam itu.  Anehnya,  sikap Alan ternyata justru mengusik perasaan Lia.  Dan ia semakin menyadari kalau dihatinya ada yang istimewa  terhadap orang itu.  Ingin sekali ia menelpon untuk mengetahui keadaan Alan,  tapi rasa malu itu lebih kuat.
“Kak Lia,  ada telepon!”  suara adiknya tiba-tiba mengejutkan dirinya yang sedang memandangi kartu nama itu.
“Dari siapa?”
“Enggak tau,”  adiknya langsung berlalu.
“Halo….”
 “Halo,  Lia ?”
“Iya saya sendiri.” Balas Lia
“Ini Rio,  teman Alan,  masih ingat?”  suara itu sedikit tidak asing.  Rio,  Rio,  ia mencoba mengingatnya.
“O,  iya,  yang waktu itu datang bersama Alan kan?”
“Benar sekali,”  Lia masih bisa mengingat orang yang dua minggu lalu datang bersama dengan Alan.
“Ada apa Rio,  tumben telepon.”
“Mm,  begini Lia”  suaranya berhenti sejenak.
“Soal Alan…kamu benar-benar tidak tahu ?”  lanjutnya terdengar ragu.
“Kenapa?”  perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak ketika Rio menyebut nama itu.
“Apakah hari Senin ia ke rumah kamu?”
“Hari Senin?  Tidak,  memang dia janji,  tapi belum pernah datang.  Dia bohong!”  serunya terdengar getir karena tak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
“Dia tidak bohong Lia.  Hari itu sepulang mengambil tugas gambar dari rumahku,  dia bilang akan menemuimu,  tapi….dia mengalami kecelakaan di depan kampus.”  Deg!  Jantungnya seperti dihantam godam,  bahkan serasa berhenti.
“Bagaimana sekarang keadaannya?”  suara Lia tergagap dan wajahnya pucat,  jelas sekali ia cemas.
“Dia…sudah pergi Lia,  dia meninggal ditempat.  Semuanya terjadi begitu cepat dan…”  Lia tak mampu mendengar ucapan Rio,  ia jatuh lemas di kursi,  kepalanya jadi pusing dan pandangannya berubah gelap.
Gundukan tanah itu masih basah,  dipandanginya dengan tatapan hampa.  Kakinya bahkan hampir tak bertenaga.  Rio dengan sabar menemani disambingnya.  Air matanya kering setelah menangis semalaman.
Kenapa kau tak menunggu aku,  padahal aku ingin menjelaskan semuanya padamu Alan.  Meskipun kita tak harus jalan bersama,  semua tak akan merubah perasaan kita.  Tapi kini kamu malah meninggalkanku….Ia benar merasakan sebuah kehilangan.

***

“Ini yang bernama Lia ?”  dia Cuma tersenyum mengangguk saat pertama kali disambut wanita setengah baya dengan penuh keramahan.  Di wajahnya masih jelas terlihat kesedihan.  Rio sengaja mengajak Lia mengunjungi ibu Alan.
“Sebelumnya,  tante tidak tahu bahwa Alan punya teman bernama Lia,”  gadis itu tersenyum,  ia mengerti maksudnya,  karena selama ini cuma kenal dengan Reza.  Memang begitulah Alan,  ia selalu memperkenalkan siapapun kepada ibunya.
“Nak Lia,  ini mungkin sebaiknya kamu bawa,”  Ibu Alan menyerahkan sebuah buku harian milik anaknya.   Meski ragu akhirnya Lia menerima benda itu.
Selanjutnya dia diperkenankan ke kamar Alan.  Sungguh ini untuk yang pertama kali.  Dia diperbolehkan untuk mengambil apapun mulik Alan bila suka.  Namun baru melihat kamar itu,  Lia sudah tak mampu menahan air matanya.  Sekuat tenaga ia berusaha menahan air mata yang terus saja mengalir.
Tak satupun yang mampu untuk di bawanya,  kecuali buku harian Alan yang diberikan oleh ibunya,  lalu ia segera pamit.  Sebuah pelukan hangat dari ibu Alan mengakhiri pertemuannya dengan orang tuan Alan yang mengharukan.
“Seringlah datang ke sini Nak,”  suara ibu Alan terdengar parau,  sedang Lia hanya bisa mengangguk lemah sebelum pergi.
“Terima kasih Bu.”  Perempuan setengah baya itu pun tersenyum menyaksikan kepergian Lia.
***
“Lia,”
“Reza?”  dia kenal sekali suara dalam telepon itu,  meski lama tak  pernah bertemu.
“Benar.  Ternyata kamu belum lupa aku,”  nada suaranya begitu dingin.
“Bagaimana kabar kamu Rez?  Aku kangen sekali!”  sambutnya bahagia.
“Kamu pengkhianat Lia!”  tawa Lia hilang seketika.  Suara itu kini menghukumnya.
“Tak aku sangka sama sekali,  kamulah yang menginginkan semua ini,”  suaranya datar namun penuh kemarahan.
“Reza,  aku…”
“Aku mengerti,  kau tak pernah bermaksud begitu,  begitu kan yang akan kamu katakan?  Benar, cuma aku tak menyangka….”  Dia cepat memotong ucapan Lia dengan sinis.
“Apa maksudmu Reza?”
“Yah,  kamu,  sahabatku sendiri yang akhirnya merebut milikku.”  Lia hanya menggeleng lemah dan semakin tak bisa bicara atau menjelaskan apapun kepada Reza.  Suara itu bahkan kini penuh nada ejekan.
“Reza,  aku tak bermaksud apa-apa,  sungguh!...tapi kalau menurutmu aku tetap salah,  maafkanlah aku,”  hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.  Posisinya terlalu sulit untuk menjelaskan segalanya kini,  Reza pasti tak akan mau mengerti.
“Tak  ada gunanya lagi!”  Plak!!  Suara telepon dibanting keras dan terdengar sangat jelas di telinganya.  Lia Cuma bisa menarik nafas dalam.  Ada rasa sesal yang menyusup di hatinya,  karena telah mengecewakan perasaan sahabat terbaiknya,  walau hal itu bukan sebuah kesengajaan.  Ia hanya bisa memejamkan mata mengingat semuanya.
Kriiiiing!!!   Tiba-tiba telepon berbunyi,  belum berselang dua menit setelah telepon Reza.
“Lia,  maafkan aku,”  sepatah katapun Lia belum bersuara,  ketika suara Reza telah mendahuluinya.
“Re – za?”  ia hampir tak percaya.
“Lia.  Aku minta maaf atas apa yang baru saja aku ucapkan.  Aku cemburu padamu,  karena dia ternyata memilihmu.  Aku sadar sikapku padanya sangat buruk Lia.  Tapi,  kenapa ia harus secepat itu pergi?  Aku bahkan belum minta maaf padanya…”  tangisnya pecah.  Gadis itu kini nampak benar-benar rapuh.
“Reza,  kamu salah.  Dia masih tetap menyayangimu,”  Lia mencoba mengiburnya.
“Itulah kamu Lia.  Kau selalu menghiburku,  meskipun kau yang sedang berduka.  Sekarang aku mengerti kenapa dia melakukan semua itu,  sebab kau memang pantas menerimanya,”  ujar Reza tulus.
“Sekarang semua telah berlalu,  Reza.  Yang harus kita lakukan adalah mendoakannya.  Semoga dia lebih tenang dan bahagia di sisiNya,”  Ada yang hangat mengalir di pipi Lia.
“Biarkan dia damai Reza.  Kita semua memang sayang padanya,  tapi masih ada yang lebih menyayanginya.”
Mereka sama-sama terdiam,  hanya isak tangis yang terdengar dari keduanya yang tak mampu ditahan lagi.
“Lia,  aku kangen sama kamu.  Apakah aku boleh bertemu denganmu?”  suara itu terdengar parau.
“Aku juga Rez,”  beban berat yang dirasakan Lia akhirnya terlepas dari dadanya setelah mendengar kalimat Reza.
Sebelum Reza datang,  sekali lagi dibukanya catatan Alan untuk yang terakhir.  Cukup banyak yang ditulis Alan mengenai dirinya,  tanpa ia pernah tahu sama sekali.  Dan yang paling tak dapat dilupakan adalah catatan tangannya yang terakhir sebelum ia mengalami peristiwa itu.
Lia….cukup lama aku mengenalnya.  Dan hari ini aku coba untuk mengatakannya.  Dia yang mengerti aku dan masa laluku,  bahkan kuingin dia jadi pilihan terakhir untukku…semoga.
Kembali air mengalir dari sudut matanya.  Selamat jalan Alan,  kami semua menyayangimu.  Biarlah buku ini hanya jadi saksi kita berdua.  Ijinkan aku menguburnya,  dan biarlah semua menjadi rahasia kita berdua.  Lalu ia memejamkan mata dan memanjatkan sebuah doa.***

G I M A N



Giman bukan anak yang paling top di sekolah.  Bukan anak orang kaya,  juga bukan anak yang bertampang paling cakep atau paling pintar.  Dia hanya seorang anak yang paling cuek plus santai tapi penuh percaya diri,  dan tercatat sebagai salah satu pemilik nama yang tergolong cukup antik.
Dia tidak pemilih dalam berteman,  meski bukan yang terpilih oleh teman-temannya.  Giman sosok yang selalu tampil apa adanya.  Kelebihannya adalah karena dia memiliki rasa solidaritas yang sangat tinggi kepada siapa saja,  tanpa kecuali,  anaknya juga easy going.
Seperti hari ini ia tampak tergesa-gesa mendatangi salah satu teman kelasnya yang bernama Aries.
“Yes!  Yes!  Kamu dicari Pak Gunadi.  Tugas matematikamu yang lalu belom masuk,”  ucapannya sedikit ngos-ngosan kepada Aries yang lagi asyik membaca komik  Donald bebek.
“Hoi,  Yes!”  mulutnya didekatkan tepat di depan kuping Aries yang masih tidak peduli padanya,  sampe-sampe kuping Aries jadi pekak.
“Alah,  kamu Man,  Man.  Yas-Yes,  Yas-Yes.  Iya aku dengar!”  Aries lalu kembali cuek dan melanjutkan bacaannya.  Ia tak peduli dengan peringatan Giman,  karena baru saja lima menit yang lalu,  Nuni juga mengatakan hal yang sama.  Katanya tugas Aries hilang,  yang sebenarnya dia sendiri belum pernah buat,  jadi ia harus membuat ulang.
“Yes,  Yes,  waktunya tinggal hari ini,”  tegas Giman lagi penasaran.  Aries tetap tenang-tenang saja,  karena sebenarnya tadi ia sudah pesan sekalian kepada Nuni untuk membuatkan tugas itu dan untung saja Nuni tak keberatan melakukannya.  Dia Cuma malas menjelaskan sama Giman,  tapi Giman tetap ribut.
“Eh,  namaku Aries.  A-er-i-e-s,  bukan ‘Yes’ .    Lagian tugasku sudah kelar,  kamu saja yang telat,”  jelas Aries lalu kembali asyik dengan bacaannya sambil sesekali terpingkal-pingkal sendiri.
Giman nyengir dan mesem saja saat Aries mengejeknya.  Mau apa lagi,  memang lidah cedal dari sononya.  Ia tak pernah bias mengucapkan satu huruf  ‘R’  yang baginya cukup mengerikan itu.  Untung saja dia orang yang super cuek.  Sudah biasa…..
“Baca apaan sih?”  Giman malah balik bertanya,  dahi Aries berkerut.
“Ini?  Kue,semacam…..kue,  yang bisa di taruh di  jidat kamu,  trus masuk ke otak kamu,  lalu nyumpel pikiran kamu,”  jelas Ariea yang asal.
“Oo…jadi ini semacam virus ya?”   Giman manggut-manggut tanpa dosa.
“Bener!  Bener sekali!  Virus itu buat orang bego seperti kamu yang kurang info!”
“Wadow!!”  Giman menjerit karena Aries menimpuknya dengan buku Donal bebek yang baru saja selesai   di bacanya.
“Makanya,  baca!baca!  nyari tau sesekali.  Masak seumur  uban,  kamu  belum  juga kenal  sama Donal !  Gue heran,  keren-keren begini  kok aku bisa juga temenan sama kamu ya?”  ujar Aries sok hebat,  Giman sekali lagi nyengir.
“Eh,  tau tidak?  Ada lo,  pilem yang….mm  judulnya aku sudah lupa,  tapi kisahnya itu mirip-mirip kamu,”  Aries tiba-tiba usil.  Mimik wajahnya sok serius.
“Maksud kamu?”  Giman jadi penasaran.
“Ceritanya,  ada anak idiot tapi sekaligus jenius.  Nah,  kayak kamu itu,  tapi jeniusnya kalo kamu sih nggak ikutan.  Sudah pernah liat?”  Aries benar-benar tega,  tapi Giman menyimak.
“Belom.  Memang kenapa?”
“Yah,  itu kan sodara kamu,  Man”  Giman terpana dan tampak berfikir sejenak.
“Aku kok malah nggak tau  ya,  kalo punya sodara ngetop,  bintang pilem lagi,”  ujarnya kalem.  Giliran Aries yang nyengir.  Kadang-kadang ucap balik Giman malah nyodok juga.  Anak sebaik Giman memang tak pernah mengambil hati semua ejekan,  seburuk apapun itu.  Kasihan dikau Giman…..
Aries dan Giman kalo bertemu memang saling suka ribut.  Perbedaan yang menonjol dari keduanya yaitu kalau Aries sedikit oke.  Beda dengan Giman yang seperti cucian belom di setrika.  Ibarat dua kutub yang berbedabtapi ketemu di satu titik,  ributnya.  Listrik kali ya?
Hari Senin ada berita heboh di sekolah,  ada tambahan murid baru pindahan dari Surabaya.  Anaknya cantik dan oke banget,  wajahnya mirip-mirip Agnes Monica.  Benar-benar jadi Top news di seantero sekolah.
Di bawah pohon,  kumpulan anak-anak gaul sekolah tak lain sedang membahas si warga baru.
“Aku yakin,  bisa menarik perhatian dia,”  ujar Roy  mantap,  si playboy cap sekolahan.
“Kenapa cuma menarik perhatian?  Memang kamu nggak berani jadi pacar dia?”  sindir Oni yang bertampang cakep kalo dilihat dari kilometer sepuluh.
“Tenang,  itu kan baru awalnya.  Kita lihat saja nanti,”  lanjut Roy penuh percaya diri.
“Aku juga bisa”  tiba-tiba Axel juga unjuk gigi.  Yang lain hanya ketawa-ketiwi,  padahal mereka semua memiliki ambisi yang nggak jauh beda,  tentu saja kecuali Giman,  mungkin.
“Kalian ko nggak capek-capeknya ganggui cewek?”  Giman yang dari tadi cuman diam,  tiba-tiba ngasih kritik lombok bernada wejangan,  yang kemudian di sambut gelak tawa anak-anak.
“Kamu sendiri,  berani nggak Man?”  goda Roy.
“Kalo aku sih,  nggak pengen aja,”  lagaknya sok diplomatis.
“Nggak pengen,  apa nggak bisa?”  sindir Axel.  Semua kembali ngakak sementara ia meringis kgas Giman sambil garuk-garu kepala.
Seminggu kemudian,  ternyata Roy membuktikan ucapannya.  Ia berhasil mendekati Fia.  Apalagi Fia sangat menyenangkan dan supel.  Ia ramah kepada siapa saja.  Tak heran bila kehadirannya,  membuat semua makhluk yang bernama cowok ingin berkenalan dengannya.  Tentu saja cewek-cewek di zona sekolahan cukup blingsatan senewen.  Apalagi kalau tau salah satu pengagum Fia adalah pacar mereka.
“Awas kamu,  kalau berani macem-macem!”  ancam Frisca pada Axel suatu hari,  ketika secara tak sengaja melihat dari kejauhan menyaksikan Axel menawari Fia boncengan,  tapi Fia menolaknya,  karena ia sudah di jemput oleh Papanya.
“Aduh,  Fris,  kamu terlalu berlebihan.  Kalau aku seperti itu,  kan sudah dari dulu-dulu,”   ujarnya  membela diri.  Untung saja Frisca mau percaya sehingga ffhh….ia bisa bernafas lega kembali.
Sementara Roy merasa santai saja,  karena pacarnya di sekolah lain.  Sayang hal itu tak bertahan lama.  Ternyata gosip lebih cepat menyebar dan tercium oleh Sandra.  Bahkan kemudian Sandra nekat nelpon Fia yang sama sekali tak mengerti masalahnya.  Fia hanya tersenyum kecut mendengarkan ucapan Sandra yang memintanya untuk segera menjauhi Roy.  Nada suaranya sangat tak bersahabat di telepon.
Setelah terjadi beberapa peristiwa yang tidak mengenakkan,  akhirnya Fia mencoba menghindar dari semuanya,  hingga suasana benar-benar kembali normal.  Tak ada lagi ribut-ribut.  Fia pun telah melupankannya dengan ikhlas,  karena ia bisa memaklumi semuanya.

***
            Hari itu di bawah pohon Akasia,  Fia Nampak duduk dengan Giman.  Aries yang melihatnya dari kejauhan cuma bias tersenyum,  tumben anak itu berani ngobrol dengan Fia,  justru pada saat semua mulai menjaga jarak.  Ternyata anak-anak cowok yang lain juga melihatnya,   cuma saja mereka sungkan untuk mendekat.  Akhirnya mereka memilih tempat kongko yang lainnya.
“Kenapa ya Man,  semua cowok itu hampir sama?”  keluh Fia pada Giman seolah ia yakin Giman bisa menjawabnya.  Giman Cuma nyengir.
“Kamu ada masalah apa dengan cowok kamu?”  Tanya Giman mencoba berempati.  Fia membalasnya dengan sebuah senyuman tipis.   Ia menarik nafas sejenak.
“Nggak.  Nggak ada.  Cuma kadang aku heran,  kenapa cowok itu suka melakukan sesuatu yang bisa menyakiti perasaan ceweknya,”  aAlis Giman terangkat menyimak perkataan Fia tapi tak berkomentar.
“Kamu tau?”  lanjut Fia kemudian,  “Beberapa kali aku mendapat teror cewek-cewek yang merasa terancam hubungannya dengan kehadiranku.  Padahal aku sama sekali tak berbuat apa pun kan?”  ujarnya pelan,  sementara wajahnya tampak sedih.
“Siapa?”  Giman mencoba serius.  Fia hanya mengangkat bahunya sambil menoleh dan sekilas mengamati wajah Giman.
“Kamu sendiri tau,  di sini aku baru sebulan kemaren.  Aku sebenarnya bahkan belum terlalu mengenalmu?”  ada senyum tipis yang mengembang di bibirnya yang tipis.  Giman manggut-manggut maklum.
“Tapi,  satu hal yang aku tau,  kamu orangnya cukup menyenangkan dan lucu,”  kali ini gadis itu berbicara lebar.  Giman Cuma cengengesan.
“Sebetulnya enggak juga.  Cuma semua selalu menganggap ucapanku adalah hal yang lucu.  Tapi it’s oke ajalah,”  jawabnya santai membuat Fia terkikih.  Ia pun tahu kalau kata-kata Giman memang banyak yang tak sempurna setiap kali bicara,  untungnya Giman cukup pintar untuk mengalihkan mengalihkan kalimat yang menjurus ke arah itu.  Ia lebih sering mengatakan  “Sebetulnya……”  daripada “Sebenarnya…”,  atau “Kamu benar….”  menjadi  “Kamu tidak salah…”  dan masih banyak yang lainnya.  Dia memang memiliki perbendaharaan kalimat khusus untuk menyelamatkan dirinya dari kelemahannya.  Dipikir-pikir ternyata Giman cukup cerdas juga.
Sejak saat itu,  ia lebih sering terlihat ngobrol berdua dengan Fia.  Apalagi Fia sangat senang dengan tingkah Giman yang selalu dan super apa adanya.  Dia bukan bodoh,  Cuma selalu tak mau tau,  dan cueknya minta ampun,  sehingga selalu ketinggalan informasi,  tapi soal setia kawan,  dialah orang yang nomor satu .
“Man,  seminggu lagi,  aku akan pindah,”  ujar Fia tiba-tiba.  Berita itu cukup membuatnya terkejut.
“Kemana Fi?”
“Aku akan ikut Papa dan Mamaku pindah ke Makassar.”
“Tapi,  kamu kam belum lama di sini Fi?”  Giman nampak tak rela.
“Iya,  tapi aku tak bisa apa-apa,”  tangannya menarik-narik rumput di ujung sepatunya.
“Kamu pasti akan lupa sama aku ya Man?”  ujar Fia kemudian sambil bercanda.
“Aku??  ops…tidak mungkin.  Tak ada dalam kamus Giman melupakan teman.  Biasanya malah sebaliknya.”  Fia terbahak mendengar pengakuan Giman.  Ia benar-benar lucu.
Fia merasakan tenang bila mengobrol dengan Giman.  Selain Giman selalu memiliki banyak cerita,  dia juga netral.  Apalagi tak punya pacar,  sehingga Fia tak merasa kuatir akan menerima teror.  Lagi pula selama ini tak ada yang merasa akan kehilangan seorang Giman.  Kasiaaann….
“Gimana kalo sekarang aku traktir kamu, Man?”  tawar Fia.
“Aku ?  ah nggak usah,  nggak usah,”  jawabnya setengah malu-malu.
“Nggak pa-pa deh.  Aku seneng kalo kamu mau terima tawaranku.”
“Maksudku,  nggak usah ditunda gitu,”  balasnya cepat membuat Fia tak dapat menahan tawanya lagi.  Giman memang tak pernah mau menikmati segalanya sendiri.  Karena idenya,  semua teman-teman yang lain juga mendapat jatah traktiran.
Seminggu kemudian,  Fia benar-benar pergi.  Dan dibawah pohon akasia,  seperti biasa anak-anak cowok kembali berkumpul.
“Ngomong-ngomong,  kamu cerita apa saja sih Man,  kalo lagi sama Fia ?”  Axel memancing pembicaraan Giman yang hari ini agak pendiem.
“Ngomong apa?  Biasa saja,  kayak kalian,”  sahutnya enteng sambil tidur-tiduran di atas rumput.
“Fia ngasih apa ke kamu sebelum pergi?”  sela Roy menggodanya.
“Nggak ada.  Aduh,  aku kok pengen makan bakso ya,”  ia hendak beringsut.
“Eit,  jangan berkelit.”  Toni segera menahan langkahnya yang hendak pergi.  Mereka benar-benar penasaran ingin mengorek berita sekaligus mengerjai Giman rupanya.
“Nggak ada!”  tangannya mencoba menepis tangan Toni.  Tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari saku bajunya tanpa sengaja.  Ternyata sebuah pin bergambar mawar,  dan didalamnya tertulis manis : untukmu.  Semua terkesima.
“Gila Man!  Kalian pacaran?”  Axel nyaris tak percaya Giman memiliki benda milik Fia.  Ia masih ingat,  Fia selalu mengenakannya,  bahkan ia pernah memintanya,  tapi Fia tak mau memberikannya.  Alasan Fia,  itu adalah dari seseorang.  Sementara Giman cuma cengengesan membuat yang lain semakin penasaran.
“Enggak.  Aku nggak tega,  dia begitu hebat kalo buat aku,”  ujarnya merendah.  Ia merasa kurang enak melihat reaksi teman-temannya.
“Yakin aja dech,  aku masih belum pengen kayak kalian,”  Ia mencoba meyakinkan semuanya.
“Jadi,  kamu menolak cinta dia?”  Roy membelalak tak percaya.  Giman membalasnya dengan sebuah senyum yang tidak jelas.
“Hai guys,  tenang…..,  Aku masih Giman yang dulu,  oke?”  tangannya terangkat seolah sedang menenangkan para demonstran.
“Lagian,  aku bukan saingan yang pantas buat kalian kan?”  lanjutnya kalem.
“Kamu mau buat sensasi dengan nolak dia,  ya Man?”  Aries sedikit protes dengan ‘penghianatan’  Giman.
“Sudahlah.  Aku sudah bilang kalo semua masih sama dengan yang dulu,  oke?”  Eh,  ngomong-ngomong,  sensasi itu apa sih?”  dua detik kemudian hamper semua jitakan melayang di kepalanya.  Giman lalu berlari sambil meringis sebeluam ia semakin bonyok dokeroyok teman-temannya.  Ucapannya yang terakhir benar-benar membuat semua tak bisa menahan tawa,  tawa yang mengandung kekalahan.  Sementara Giman menghilang dengan santainya menuju kantin.
Giman tak pernah tahu kalau semua temannya masih menyimpan harapan terhadap Fia,  tapi kemudian patah,  apalagi Fia benar-benar pergi.  Dan hanya Giman yang tahu apa sebenarnya yang terjadi,  walau ia kelihatan tak mau tahu atau…..tak mau memberi tahu?
Yg pasti pin mawar itu saksi kuncinya...***