Kamis, 24 Maret 2016

CINTA YANG DIAM



“Yuli, selamat ya?”  Andi tiba-tiba sudah menghalangi langkahku yang hendak memasuki gerbang sekolah.  Aku heran tapi berdebar.
“Selamat,  untuk apa?”
“Selamat!  Kamu juara satu lomba cerpen di majalah,”  lanjutnya lagi.
“Kamu ternyata hebat ya Yul,  bisa buat cerita yang manis seperti itu,”  ujarnya memuji.  Aku Cuma bisa tersenyum,  entah bahagia atau tidak,  Aku tak tahu.
Aku juara?  Bagaimana dia bisa tahu kalau aku mengikuti lomba cerpen itu?  Bahkan aku sendiri belum tahu,  karena belum sempat membeli majalah yang terbaru.
“Kemarin,  adikku membeli majalah.  Dia lihat ada anak sekolah kita yang juara,  lalu nanya ke aku.  Waktu aku lihat,  ternyata ada nama kamu.  Bener kan,  anak di sekolah kita yang bernama Yuli Ramadhan hanya kamu? 
“Traktir dong,  Yul,”  ia mencoba menggodaku,  aku hanya membalasnya dengan tersenyum tipis, tapi kurasa tawar.
Ah,  semestinya aku bahagia dengan semuanya,  walau tak kusangka sama sekali aku akan menjadi juara.  Tapi aku akan lebih bahagia andai saja Andi tahu kalau cerita nyata,  bukan fiksi.  Tapi itu tak mungkin,  karena dia hanya tahu aku juara, sedangkan isi ceritanya pasti dia tidak akan mengerti.
Memang benar nama yang ada dalam cerita itu hanya rekaanku sendiri,  tapi sebenarnya tidak terlalu jauh dari yang asli.  Tokoh utama cowok adalah Anang,  singkatan dari nama Andi,  yaitu Andi Anggara.  Sedangkan Yura adalah singkata namaku.
Cerita yang kurangkai dari catatan harianku,  tentang perasaanku untuknya,  tapi ia tidak tahu dan mungkin tak akan pernah tahu.  Ah,  aku jadi mengeluh sendiri,  nelangsa.
Keesokan harinya,  di Mading penuh dengan cerita hasil karyaku yang telah dicopy.  Seluruh ruangannya sengaja dipenuhi dengan tulisanku.  Dan ternyata itu semua ide Andi,  dia sengaja melakukannya.
“Aku ingin semua teman-teman tahu, kalau salah satu anak sekolah kita berhasil,  bukan saja dalam membuat cerita,  tapi kamu telah menjadi juara.  Apalagi kamu menggunakan nama sekolah kita!”  ujar Andi bersemangat padaku.  Matanya menatap telak di manik mataku.
Aku tahu maksudnya hanya ingin membuatku merasa bangga denga semua itu.    Sungguh aku tak mampu menatapnya,  apalagi lama.  Dan aku yakin maksud pandangan itu tidak ada,  hanya sebuah ekspresi kegembiraannya selaku ketua OSIS sekaligus ketua Mading.
Tapi ia sama sekali tak tahu,  kalau bagiku semua itu sungguh luar biasa,  karena bisa membuat isi dadaku hampir bertabrakan  satu dengan yang lainnya,  serta berhamburan dan mampu membuat sapu tangan yang kugenggam basah seketika karena keringat.
Andi mungkin hanya tahu atau baru tahu kalau aku orang yang paling pendiam dan pemalu,  ternyata memiliki bakat yang terpendam,  seperti yang kudengar dari pengakuannya.  Aku hanya bisa menggeleng sendiri sambil menarik nafas.  Andi terlalu membesar-besarkan kemenangan itu,  padahal aku tidak pernah mengharapkan seperti itu.
Karena sebenarnya cerita itu aku kirim hanya  untuk membuatku terbebas dari perasaanku.  Rasa sukaku kepadanya yang tak mampu terekspresikan.  Semuanya tumpah dalam tulisan panjang di buku harianku.
Aku bahkan  tidak memiliki tempat untuk bercerita.  Semuanya terbungkam di dalam lembaran-lembaran kertas yang diam.  Dan kulalui hari-hari manisku sendiri dengan perasaan beku,  sambil mencoba menekannya.
Aku bahkan menyadari kalau hal itu telah membuat diriku menjadi tampak bodoh karenanya.  Sesungguhnya aku ingin menumpahkansemua kisah hatiku,  mungkin hatiku akan lebih lapang,  tapi pada siapa? Kadang hati ini jadi malu sendiri, karena merasa tak pantas  memiliki perasaan ini, apalagi mengungkapkannya duluan.
Surat majalah bergambar mengadakan lomba cerpen dan puisi!  Tak ada salahnya aku mencoba mengikutinya,  menjadikannya sebagai tempat curhat,  rasanya dia tepat untuk jadi teman sendiriku.  Mungkin ceritaku terlalu panjang,  sehingga aku berusaha untuk meringkasnya.  Namun yang membingungkanku adalah endingnya,  harus bagaimana?
Biarlah seperti apa adanya,….Yura masih bertahan untuk tetap menanti demi cintanya… Ah…kasian sekali Yura,  tepatnya aku.  Kemenangan itu lalu menyadarkanku,  bahwa aku begitu nelangsa menjaga sebuah gayung yang hanya bisa mengapung.  Bukan tak bersambut,  tapi memang tak mampu menepuk.
Lalu aku mencoba untuk menganggapnya tak pernah ada.  Dan kemenangan itu ternyata kembali mengingatkanku semuanya, setelah sekain lama hampir berhasil melupakannya.
“Hei,  sang juara!  Semestinya kamu cerita dong,  kenapa malah selalu bengong?  Kamu kaget ya jadi orang top sekarang?  Aku cukup terkejut dengan kehadiran Andi yang tiba-tiba,  pada saat aku sedang asyik dengan catatan kecilku.
“Wah,  buat cerita lagi ya?”  Andi melirik buku yang langsung ku tutup.
“Ah,  enggak Cuma melengkapi catatan Biologi,”  kataku bohong dan sedikit targagap.  Andi menanggapinya dengan sebuah senyum,  yang sungguh manis.  Ah….aku kembali merana,  karena menyesali telah mengaggumi apapun yang ada padanya.  Andi yang cakep,  Andi yang pintar,  Andi yang top,  dan Andi yang baik.
Yah,  memang dia terlalu baik dan supel,  sehingga sering tak sadar kalau telah membuat teman-teman cewek menggelepar bahagia bersamanya,  walau tak satupun yang dipilihnya.  Bahkan ia sendiri pernah mengatakan tak akan pernah pacaran sebelum ia menjadi seorang dokter,  seperti cita-citanya.  Ah….Andi.
Aku termasuk yang bodoh atau yang paling bodoh,  karena menyukainya justru pada saat dia menyatakan hal itu dalam satu statementnya di kolom profil Mading pada saat pengangkatannya sebagai ketua OSIS.
Ada apa denganku?  Menyukai dan mencintai orang yang jelas-jelas tak akan pernah mau mencintai siapapun untuk waktu yang tak terhingga.  Aneh! Perasaan yang muncul diam-diam dan sengaja aku diamkan,  tapi semakin tak mau diam.
“Oh  iya.  Kamu dapat kepercayaan dari Pak Pono untuk kasih bimbingan mengarang buat adik-adik kelas,”  ujarnya kemudian yang lebih tepat sebagai surat perintah tak tertulis.  Aku ternganga.
“Aku?”  reflek tanganku menujuk ke dadaku.
“Iya!”
Aku mengeluh,  “Tapi aku tak bisa.  Lagian aku kan sudah bilang sama kamu,  kalo aku tak ingin dimasukkan dalam seksi kreasi di Mading,”  tolakku halus.
“Yuli,  Please?”  Andi mengiba.
“Apa kamu tidak mau berbuat yang terbaik untuk sekolah kita?  Ini untuk kita semua,”  pintanya lagi.
Tapi,  kenapa harus aku?  Kenapa popularitas yang datang tiba-tiba selalu membuatku tersiksa.  Itu berarti aku harus selalu dekat denganmu Andi!  Bukankah itu akan semakin menyiksaku?  Padahal selama ini aku sengaja pasif dari kegiatan-kegiatan sekolah,  agar hatiku bisa merasa tenang untuk belajar,  bisa melupakan angan-anaganku yang konyol.
Mencintaimu telah membuatku lelah,  Andi,  di tambah lagi dengan apa yang kau tawarkan ini.  Ingin sekali kukatakan semua itu,  tapi lagi-lagi hanya tersangkut dalam kerongkonganku.  Seperti kisahku yang hanya kesepian didalam buku catatan harianku.
Sekilas aku menatapnya dari samping.  Ternyata ia sedang menunggu jawaban dariku.   Tatapan itu seolah ingin mengatakan,  ini adalah permintaanku,  dan kau tak akan menolaknya kan?
“Baiklah,”  akhirnya aku mengangguk tanda setuju dan menerimanya pasrah.  Demi kamu Andi,  walau tak kukatakan padanya.  Andi tersenyum puas,  tapi aku sengaja tak mau melihatnya.  Aku takut merana lagi.  Walaupun aku juga tahu,  besok dan besoknya aku akan selalu melihatnya seperti itu.
Sengaja atau tidak,  mau tak mau,  aku telah memutuskan untuk terlibat dengan aktifitas sekolah,  meskipun itu hanya sebatas kegiatan Mading.  Aku hanya mencoba untuk menyampaikan arahan-arahan sederhana yang kuambil sendiri dari teori pribadi.
“Seni adalah hasil cipta dan rasa.  Jadi untuk menulis kita memerlukan kepekaan rasa,  agar apa yang kita sampaikan mampu mewakili rasa sekaligus menyentuh bagi pembacanya.  Karena itu,  orang yang menyukai seni,  biasanya memiliki perasaan yang lebih peka….memilih dengan hati agar orang yang membacanya mengerti..”
Begitulah sepenggal kalimat yang sempat aku berikan kedapa adik-adik kelas sebagai pembuka saat diadakan ekstrakurikuler di sore hari.  Sekilas aku melihat Andi tersenyum di ambang pintu.  Ia nampak puas dan senang melihatku sukses melakukan semua tugasku di hari pertama.
Dia sama sekali tak pernah tahu,  kalau teori rasa itu adalah pengalaman kecil yang aku perolah dari dia.  Dia tah tahu,  dia tak peka,  jadi….Andi tidak berseni?  Tapi kenapa ia suka dengan kegiatan Mading?  Atau….karena terlalu banyak yang peduli padanya,  sehingga tak tahu harus bagaimana.
Aku gugup saat tanganku tak menemukan buku catatan harianku di dalam tas yang selalu kubawa serta.  Semoga tak tertinggal atau tercecer di tempat yang membuat orang lain bisa membacanya.  Aku benar-benar ceroboh!
Aku yakin akhir-akhir ini sedikit lalai karena terlalu sibuk mengurusi Mading.  Mungkin sekarang sudah waktunya untuk mundur,  agar aku bisa kembali tenang dan konsentrasi seperti dulu.  Tapi,  yang terpenting sekarang adalah buku itu…..
“Apakah kamu mencari ini?”  suara Andi yang tiba-tiba muncul dari arah pintu kelas mengejutkanku.  Buku berwarna pink yang membuatku kebingungan saat ini sedang dipegangnya.  Aku panik!
“Aku melihatnya tertinggal di dalam kelas kemarin,”  lanjut Andi tenang.  Aku terdiam,  wajahku memerah.  Pasti dia sudah membacanya.  Mengingat itu,  membuat tulangku lemas dan hampir menangis.
“Jangan kuatir,  aku tak membacanya,”  jelasnya kemudian sambil tersenyum seolah mengerti dengan apa yang sedang aku pikirkan.  Dia lalu mendekat dan mengangsurkan buku itu padaku.  Gerakan refleksku cepat meraihnya.
“Terima kasih,”  kataku setengah gugup.  Aku kuatir kalau dia berubah fikiran dan langsung membuka sekaligus membacanya.  Tapi dia tak melakukannya dan seperti biasa hanya melemparkan senyum.  Aku lega,  untung saja dia tak sempat membaca namanya yang jelas aku tulis,  tidak seperti di dalam cerpen itu.
“Kita pulang bareng yuk?”  ajaknya kemudian.  Aku terhenyak.  Aku tahu ia selalu membawa hanya satu helm saja.  Bagaimana bias dia mengajakku pulang bersama. Aku mendadak sensitif. Aku merasa dia sedang mencoba menginterogasiku kali ini.
“Aku tadi sengaja tak bawa motor.  Kita jalan kaki saja,”  tawanya kemudian,  seolah tahu yang kupukirkan.  Entah kenapa,  dia selalu tahu apa yang ada di kepalaku.  Atau memang aku terlalu mudah untuk di tebak,  termasuk perasaanku?  Semoga tidak!
Rasanya jalan ini terlalu pendek bila sedang berjalan bersisian dengannya.  Untuk beberapa saat aku dan Andi sama-sama terdiam sambil menyusuri trotoar dan sesekali melompat pada patahannya.  Biasanya Andi yang selalu memulai percakapan,  karena ia sudah tahu kalau aku terlalu pemalu untuk berisik bila berhadapan dengan siapapun.  Hal itu membuatku semakin bungkam.  Untuk memulai berbasa-basi aku merasa kesulitan.
Tiba-tiba Andi menatapku sekilas,  hal itu bisa kurasakan tanpa menoleh.  Tapi selanjutnya pendangannya kembali lurus ke depan.
“Yuli….”  Andi tak jadi melanjutkan ucapannya.  Aku hanya mengangkat kedua alisku heran.
“Kenapa?”
“Ah.  Enggak,”   sahutnya cepat,  sedikit gelisah.
“Bagaimana dengan perkembangan adik-adik kelas?”  aku tahu ia mencoba untuk mengalihkan perhatian.
“Bagus.  Mereka…”
“Yuli,  aku….”   Ia langsung memotong ucapanku.  Dan nampaknya ia tak membutuhkan jawabanku tentang hal yang ditanyakan tadi.
“Aku bohong.  Aku sebenarnya sudah membacanya,”  ujarnya hati-hati membuatku ternganga.  Apa??  Jadi….Ah,  aku malu,  sangat maluu!!  Tak tahu bagaimana caranya untuk menenangkan hatiku yang berubah kacau.  Langkahku tiba-tiba berhenti,  begitu pula dengannya,  aku benar-benar panik.  Aku memejamkan mata,  berharap tak melihatnya,  dan ingin ia segera berlalu,  atau aku yang memilih berlalu dari tempat ini.
“Yuli,”  tiba-tiba tangannya telah memegang pergelanganku,  saat aku masih belum berani membuka mata.
“Kenapa kamu membacanya?”  protesku hampir menangis.  Rasanya batas maluku telah terlampaui.  Aku kehilangan muka,  malu…sungguh malu….!!
“Yul,  kamu tidak perlu malu,”  ia mencoba menghiburku.  Tapi itu tidak cukup untuk membantu.  Bahkan aku ingin segera berlari meninggalkannya.  Tapi gerakan tangannya lebih cepat mencekal pergelanganku lebih kuat lagi,  menahan langkahku.
“Kamu harus tau.  Sebenarnya sebelum kamu,  aku telah menyukaimu.  Tapi,  aku tak berani karena kau terlalu dingin dan diam.  Aku takut kalau nantinya aku hanya akan malu,  apalagi kamu kelihatan  acuh padaku.  Jadi,  aku pun memilih diam,”  jelasnya kemudian.  Aku terpana,  benarkah?  Matanya kembali menikam tepat di manik mataku,  memaksaku untuk menyaksikan kesungguhannya.
“Ternyata aku seorang pengecut,”  ujarnya kemudian sambil tersenyum sumbang mengejek dirinya.  Sementara aku masih tetap terpana.
“Tapi,  cerita itu tentang kita kan?  Ah,  eh maksudku….”  Toott!  Tiba-tiba suara klakson mobil bus yang sangat keras mengejutkanku juga Andi yang kini sedang berada di tepi jalan,  membuat kami tersentak kaget.  Gerakannya cepat mencoba melindungiku,  dan saat menyadarinya mukaku bersemu merah,  sementara Andi kembali tersenyum simpatik seperti tak peduli dengan apa yang baru saja terjadi.  Dan aku tak mampu menepis tangannya yang kembali menggenggam jemariku.
“Kita pulang?”  ajaknya kemudian sambil menarikku serta.  Aku lalu tenggelam dalam bahagia dan gemerisik daun kering yang terinjak saat kembali menyusuri trotoar sementara debar di dadaku belum reda.  Cintaku yang diam,  cintanya yang diam ternyata tak lagi mau diam.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar