“Yuli, selamat ya?” Andi tiba-tiba sudah menghalangi langkahku
yang hendak memasuki gerbang sekolah.
Aku heran tapi berdebar.
“Selamat, untuk apa?”
“Selamat! Kamu juara satu lomba cerpen di majalah,” lanjutnya lagi.
“Kamu ternyata hebat ya Yul, bisa buat cerita yang manis seperti
itu,” ujarnya memuji. Aku Cuma bisa tersenyum, entah bahagia atau tidak, Aku tak tahu.
Aku juara? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku mengikuti
lomba cerpen itu? Bahkan aku sendiri
belum tahu, karena belum sempat membeli
majalah yang terbaru.
“Kemarin, adikku membeli majalah. Dia lihat ada anak sekolah kita yang
juara, lalu nanya ke aku. Waktu aku lihat, ternyata ada nama kamu. Bener kan,
anak di sekolah kita yang bernama Yuli Ramadhan hanya kamu?
“Traktir dong, Yul,” ia
mencoba menggodaku, aku hanya membalasnya
dengan tersenyum tipis, tapi kurasa tawar.
Ah,
semestinya aku bahagia dengan semuanya,
walau tak kusangka sama sekali aku akan menjadi juara. Tapi aku akan lebih bahagia andai saja Andi
tahu kalau cerita nyata, bukan
fiksi. Tapi itu tak mungkin, karena dia hanya tahu aku juara, sedangkan
isi ceritanya pasti dia tidak akan mengerti.
Memang benar nama yang ada dalam
cerita itu hanya rekaanku sendiri, tapi
sebenarnya tidak terlalu jauh dari yang asli.
Tokoh utama cowok adalah Anang,
singkatan dari nama Andi, yaitu
Andi Anggara. Sedangkan Yura adalah
singkata namaku.
Cerita yang kurangkai dari catatan
harianku, tentang perasaanku
untuknya, tapi ia tidak tahu dan mungkin
tak akan pernah tahu. Ah, aku jadi mengeluh sendiri, nelangsa.
Keesokan harinya, di Mading penuh dengan cerita hasil karyaku
yang telah dicopy. Seluruh ruangannya
sengaja dipenuhi dengan tulisanku. Dan
ternyata itu semua ide Andi, dia sengaja
melakukannya.
“Aku ingin semua teman-teman tahu,
kalau salah satu anak sekolah kita berhasil,
bukan saja dalam membuat cerita,
tapi kamu telah menjadi juara.
Apalagi kamu menggunakan nama sekolah kita!” ujar Andi bersemangat padaku. Matanya menatap telak di manik mataku.
Aku tahu maksudnya hanya ingin
membuatku merasa bangga denga semua itu.
Sungguh aku tak mampu menatapnya,
apalagi lama. Dan aku yakin
maksud pandangan itu tidak ada, hanya
sebuah ekspresi kegembiraannya selaku ketua OSIS sekaligus ketua Mading.
Tapi ia sama sekali tak tahu, kalau bagiku semua itu sungguh luar
biasa, karena bisa membuat isi dadaku hampir
bertabrakan satu dengan yang
lainnya, serta berhamburan dan mampu
membuat sapu tangan yang kugenggam basah seketika karena keringat.
Andi mungkin hanya tahu atau baru
tahu kalau aku orang yang paling pendiam dan pemalu, ternyata memiliki bakat yang terpendam, seperti yang kudengar dari pengakuannya. Aku hanya bisa menggeleng sendiri sambil
menarik nafas. Andi terlalu
membesar-besarkan kemenangan itu,
padahal aku tidak pernah mengharapkan seperti itu.
Karena sebenarnya cerita itu aku
kirim hanya untuk membuatku terbebas
dari perasaanku. Rasa sukaku kepadanya
yang tak mampu terekspresikan. Semuanya
tumpah dalam tulisan panjang di buku harianku.
Aku bahkan tidak memiliki tempat untuk bercerita. Semuanya terbungkam di dalam
lembaran-lembaran kertas yang diam. Dan
kulalui hari-hari manisku sendiri dengan perasaan beku, sambil mencoba menekannya.
Aku bahkan menyadari kalau hal itu
telah membuat diriku menjadi tampak bodoh karenanya. Sesungguhnya aku ingin menumpahkansemua kisah
hatiku, mungkin hatiku akan lebih
lapang, tapi pada siapa? Kadang hati ini
jadi malu sendiri, karena merasa tak pantas memiliki perasaan ini, apalagi
mengungkapkannya duluan.
Surat majalah bergambar mengadakan
lomba cerpen dan puisi! Tak ada salahnya
aku mencoba mengikutinya, menjadikannya
sebagai tempat curhat, rasanya dia tepat
untuk jadi teman sendiriku. Mungkin
ceritaku terlalu panjang, sehingga aku
berusaha untuk meringkasnya. Namun yang
membingungkanku adalah endingnya, harus
bagaimana?
Biarlah seperti apa adanya,….Yura masih bertahan untuk tetap menanti demi
cintanya… Ah…kasian sekali Yura,
tepatnya aku. Kemenangan itu lalu
menyadarkanku, bahwa aku begitu nelangsa menjaga sebuah gayung yang
hanya bisa mengapung. Bukan tak
bersambut, tapi memang tak mampu
menepuk.
Lalu aku mencoba untuk menganggapnya
tak pernah ada. Dan kemenangan itu
ternyata kembali mengingatkanku semuanya, setelah sekain lama hampir berhasil
melupakannya.
“Hei,
sang juara! Semestinya kamu
cerita dong, kenapa malah selalu
bengong? Kamu kaget ya jadi orang top sekarang? Aku cukup terkejut dengan kehadiran Andi yang
tiba-tiba, pada saat aku sedang asyik
dengan catatan kecilku.
“Wah,
buat cerita lagi ya?” Andi
melirik buku yang langsung ku tutup.
“Ah,
enggak Cuma melengkapi catatan Biologi,”
kataku bohong dan sedikit targagap.
Andi menanggapinya dengan sebuah senyum,
yang sungguh manis. Ah….aku
kembali merana, karena menyesali telah
mengaggumi apapun yang ada padanya. Andi
yang cakep, Andi yang pintar, Andi yang top, dan Andi yang baik.
Yah,
memang dia terlalu baik dan supel,
sehingga sering tak sadar kalau telah membuat teman-teman cewek
menggelepar bahagia bersamanya, walau
tak satupun yang dipilihnya. Bahkan ia
sendiri pernah mengatakan tak akan pernah pacaran sebelum ia menjadi seorang
dokter, seperti cita-citanya. Ah….Andi.
Aku termasuk yang bodoh atau yang
paling bodoh, karena menyukainya justru
pada saat dia menyatakan hal itu dalam satu statementnya di kolom profil Mading
pada saat pengangkatannya sebagai ketua OSIS.
Ada apa denganku? Menyukai dan mencintai orang yang jelas-jelas
tak akan pernah mau mencintai siapapun untuk waktu yang tak terhingga. Aneh! Perasaan yang muncul diam-diam dan
sengaja aku diamkan, tapi semakin tak
mau diam.
“Oh
iya. Kamu dapat kepercayaan dari
Pak Pono untuk kasih bimbingan mengarang buat adik-adik kelas,” ujarnya kemudian yang lebih tepat sebagai
surat perintah tak tertulis. Aku
ternganga.
“Aku?” reflek tanganku menujuk ke dadaku.
“Iya!”
Aku mengeluh, “Tapi aku tak bisa. Lagian aku kan sudah bilang sama kamu, kalo aku tak ingin dimasukkan dalam seksi
kreasi di Mading,” tolakku halus.
“Yuli, Please?”
Andi mengiba.
“Apa kamu tidak mau berbuat yang
terbaik untuk sekolah kita? Ini untuk
kita semua,” pintanya lagi.
Tapi,
kenapa harus aku? Kenapa popularitas
yang datang tiba-tiba selalu membuatku tersiksa. Itu berarti aku harus selalu dekat denganmu
Andi! Bukankah itu akan semakin
menyiksaku? Padahal selama ini aku
sengaja pasif dari kegiatan-kegiatan sekolah,
agar hatiku bisa merasa tenang untuk belajar, bisa melupakan angan-anaganku yang konyol.
Mencintaimu telah membuatku
lelah, Andi, di tambah lagi dengan apa yang kau tawarkan
ini. Ingin sekali kukatakan semua itu, tapi lagi-lagi hanya tersangkut dalam
kerongkonganku. Seperti kisahku yang hanya
kesepian didalam buku catatan harianku.
Sekilas aku menatapnya dari
samping. Ternyata ia sedang menunggu
jawaban dariku. Tatapan itu seolah
ingin mengatakan, ini adalah permintaanku, dan kau tak akan menolaknya kan?
“Baiklah,” akhirnya aku mengangguk tanda setuju dan menerimanya
pasrah. Demi kamu Andi, walau tak kukatakan padanya. Andi tersenyum puas, tapi aku sengaja tak mau melihatnya. Aku takut merana lagi. Walaupun aku juga tahu, besok dan besoknya aku akan selalu melihatnya
seperti itu.
Sengaja atau tidak, mau tak mau,
aku telah memutuskan untuk terlibat dengan aktifitas sekolah, meskipun itu hanya sebatas kegiatan
Mading. Aku hanya mencoba untuk
menyampaikan arahan-arahan sederhana yang kuambil sendiri dari teori pribadi.
“Seni adalah hasil cipta dan rasa. Jadi untuk menulis kita memerlukan kepekaan
rasa, agar apa yang kita sampaikan mampu
mewakili rasa sekaligus menyentuh bagi pembacanya. Karena itu,
orang yang menyukai seni,
biasanya memiliki perasaan yang lebih peka….memilih dengan hati agar
orang yang membacanya mengerti..”
Begitulah sepenggal kalimat yang
sempat aku berikan kedapa adik-adik kelas sebagai pembuka saat diadakan
ekstrakurikuler di sore hari. Sekilas
aku melihat Andi tersenyum di ambang pintu.
Ia nampak puas dan senang melihatku sukses melakukan semua tugasku di
hari pertama.
Dia sama sekali tak pernah tahu, kalau teori rasa itu adalah pengalaman kecil
yang aku perolah dari dia. Dia tah
tahu, dia tak peka, jadi….Andi tidak berseni? Tapi kenapa ia suka dengan kegiatan
Mading? Atau….karena terlalu banyak yang
peduli padanya, sehingga tak tahu harus
bagaimana.
Aku gugup saat tanganku tak menemukan
buku catatan harianku di dalam tas yang selalu kubawa serta. Semoga tak tertinggal atau tercecer di tempat
yang membuat orang lain bisa membacanya.
Aku benar-benar ceroboh!
Aku yakin akhir-akhir ini sedikit
lalai karena terlalu sibuk mengurusi Mading.
Mungkin sekarang sudah waktunya untuk mundur, agar aku bisa kembali tenang dan konsentrasi
seperti dulu. Tapi, yang terpenting sekarang adalah buku itu…..
“Apakah kamu mencari ini?” suara Andi yang tiba-tiba muncul dari arah
pintu kelas mengejutkanku. Buku berwarna
pink yang membuatku kebingungan saat ini sedang dipegangnya. Aku panik!
“Aku melihatnya tertinggal di dalam
kelas kemarin,” lanjut Andi tenang. Aku terdiam,
wajahku memerah. Pasti dia sudah
membacanya. Mengingat itu, membuat tulangku lemas dan hampir menangis.
“Jangan kuatir, aku tak membacanya,” jelasnya kemudian sambil tersenyum seolah
mengerti dengan apa yang sedang aku pikirkan.
Dia lalu mendekat dan mengangsurkan buku itu padaku. Gerakan refleksku cepat meraihnya.
“Terima kasih,” kataku setengah gugup. Aku kuatir kalau dia berubah fikiran dan
langsung membuka sekaligus membacanya.
Tapi dia tak melakukannya dan seperti biasa hanya melemparkan
senyum. Aku lega, untung saja dia tak sempat membaca namanya
yang jelas aku tulis, tidak seperti di
dalam cerpen itu.
“Kita pulang bareng yuk?” ajaknya kemudian. Aku terhenyak. Aku tahu ia selalu membawa hanya satu helm
saja. Bagaimana bias dia mengajakku
pulang bersama. Aku mendadak sensitif. Aku merasa dia sedang mencoba
menginterogasiku kali ini.
“Aku tadi sengaja tak bawa
motor. Kita jalan kaki saja,” tawanya kemudian, seolah tahu yang kupukirkan. Entah kenapa,
dia selalu tahu apa yang ada di kepalaku. Atau memang aku terlalu mudah untuk di
tebak, termasuk perasaanku? Semoga tidak!
Rasanya jalan ini terlalu pendek bila
sedang berjalan bersisian dengannya.
Untuk beberapa saat aku dan Andi sama-sama terdiam sambil menyusuri
trotoar dan sesekali melompat pada patahannya.
Biasanya Andi yang selalu memulai percakapan, karena ia sudah tahu kalau aku terlalu pemalu
untuk berisik bila berhadapan dengan siapapun.
Hal itu membuatku semakin bungkam.
Untuk memulai berbasa-basi aku merasa kesulitan.
Tiba-tiba Andi menatapku
sekilas, hal itu bisa kurasakan tanpa
menoleh. Tapi selanjutnya pendangannya
kembali lurus ke depan.
“Yuli….” Andi tak jadi melanjutkan ucapannya. Aku hanya mengangkat kedua alisku heran.
“Kenapa?”
“Ah.
Enggak,” sahutnya cepat, sedikit gelisah.
“Bagaimana dengan perkembangan
adik-adik kelas?” aku tahu ia mencoba untuk
mengalihkan perhatian.
“Bagus. Mereka…”
“Yuli, aku….”
Ia langsung memotong ucapanku.
Dan nampaknya ia tak membutuhkan jawabanku tentang hal yang ditanyakan
tadi.
“Aku bohong. Aku sebenarnya sudah membacanya,” ujarnya hati-hati membuatku ternganga. Apa??
Jadi….Ah, aku malu, sangat maluu!! Tak tahu bagaimana caranya untuk menenangkan
hatiku yang berubah kacau. Langkahku
tiba-tiba berhenti, begitu pula
dengannya, aku benar-benar panik. Aku memejamkan mata, berharap tak melihatnya, dan ingin ia segera berlalu, atau aku yang memilih berlalu dari tempat
ini.
“Yuli,” tiba-tiba tangannya telah memegang
pergelanganku, saat aku masih belum
berani membuka mata.
“Kenapa kamu membacanya?” protesku hampir menangis. Rasanya batas maluku telah terlampaui. Aku kehilangan muka, malu…sungguh malu….!!
“Yul,
kamu tidak perlu malu,” ia
mencoba menghiburku. Tapi itu tidak
cukup untuk membantu. Bahkan aku ingin
segera berlari meninggalkannya. Tapi
gerakan tangannya lebih cepat mencekal pergelanganku lebih kuat lagi, menahan langkahku.
“Kamu harus tau. Sebenarnya sebelum kamu, aku telah menyukaimu. Tapi,
aku tak berani karena kau terlalu dingin dan diam. Aku takut kalau nantinya aku hanya akan
malu, apalagi kamu kelihatan acuh padaku.
Jadi, aku pun memilih diam,” jelasnya kemudian. Aku terpana,
benarkah? Matanya kembali menikam
tepat di manik mataku, memaksaku untuk
menyaksikan kesungguhannya.
“Ternyata aku seorang pengecut,” ujarnya kemudian sambil tersenyum sumbang
mengejek dirinya. Sementara aku masih
tetap terpana.
“Tapi, cerita itu tentang kita kan? Ah, eh
maksudku….” Toott! Tiba-tiba suara klakson mobil bus yang sangat
keras mengejutkanku juga Andi yang kini sedang berada di tepi jalan, membuat kami tersentak kaget. Gerakannya cepat mencoba melindungiku, dan saat menyadarinya mukaku bersemu
merah, sementara Andi kembali tersenyum
simpatik seperti tak peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Dan aku tak mampu menepis tangannya yang
kembali menggenggam jemariku.
“Kita pulang?” ajaknya kemudian sambil menarikku serta. Aku lalu tenggelam dalam bahagia dan
gemerisik daun kering yang terinjak saat kembali menyusuri trotoar sementara
debar di dadaku belum reda. Cintaku yang
diam, cintanya yang diam ternyata tak
lagi mau diam.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar