Kamis, 24 Maret 2016

G I M A N



Giman bukan anak yang paling top di sekolah.  Bukan anak orang kaya,  juga bukan anak yang bertampang paling cakep atau paling pintar.  Dia hanya seorang anak yang paling cuek plus santai tapi penuh percaya diri,  dan tercatat sebagai salah satu pemilik nama yang tergolong cukup antik.
Dia tidak pemilih dalam berteman,  meski bukan yang terpilih oleh teman-temannya.  Giman sosok yang selalu tampil apa adanya.  Kelebihannya adalah karena dia memiliki rasa solidaritas yang sangat tinggi kepada siapa saja,  tanpa kecuali,  anaknya juga easy going.
Seperti hari ini ia tampak tergesa-gesa mendatangi salah satu teman kelasnya yang bernama Aries.
“Yes!  Yes!  Kamu dicari Pak Gunadi.  Tugas matematikamu yang lalu belom masuk,”  ucapannya sedikit ngos-ngosan kepada Aries yang lagi asyik membaca komik  Donald bebek.
“Hoi,  Yes!”  mulutnya didekatkan tepat di depan kuping Aries yang masih tidak peduli padanya,  sampe-sampe kuping Aries jadi pekak.
“Alah,  kamu Man,  Man.  Yas-Yes,  Yas-Yes.  Iya aku dengar!”  Aries lalu kembali cuek dan melanjutkan bacaannya.  Ia tak peduli dengan peringatan Giman,  karena baru saja lima menit yang lalu,  Nuni juga mengatakan hal yang sama.  Katanya tugas Aries hilang,  yang sebenarnya dia sendiri belum pernah buat,  jadi ia harus membuat ulang.
“Yes,  Yes,  waktunya tinggal hari ini,”  tegas Giman lagi penasaran.  Aries tetap tenang-tenang saja,  karena sebenarnya tadi ia sudah pesan sekalian kepada Nuni untuk membuatkan tugas itu dan untung saja Nuni tak keberatan melakukannya.  Dia Cuma malas menjelaskan sama Giman,  tapi Giman tetap ribut.
“Eh,  namaku Aries.  A-er-i-e-s,  bukan ‘Yes’ .    Lagian tugasku sudah kelar,  kamu saja yang telat,”  jelas Aries lalu kembali asyik dengan bacaannya sambil sesekali terpingkal-pingkal sendiri.
Giman nyengir dan mesem saja saat Aries mengejeknya.  Mau apa lagi,  memang lidah cedal dari sononya.  Ia tak pernah bias mengucapkan satu huruf  ‘R’  yang baginya cukup mengerikan itu.  Untung saja dia orang yang super cuek.  Sudah biasa…..
“Baca apaan sih?”  Giman malah balik bertanya,  dahi Aries berkerut.
“Ini?  Kue,semacam…..kue,  yang bisa di taruh di  jidat kamu,  trus masuk ke otak kamu,  lalu nyumpel pikiran kamu,”  jelas Ariea yang asal.
“Oo…jadi ini semacam virus ya?”   Giman manggut-manggut tanpa dosa.
“Bener!  Bener sekali!  Virus itu buat orang bego seperti kamu yang kurang info!”
“Wadow!!”  Giman menjerit karena Aries menimpuknya dengan buku Donal bebek yang baru saja selesai   di bacanya.
“Makanya,  baca!baca!  nyari tau sesekali.  Masak seumur  uban,  kamu  belum  juga kenal  sama Donal !  Gue heran,  keren-keren begini  kok aku bisa juga temenan sama kamu ya?”  ujar Aries sok hebat,  Giman sekali lagi nyengir.
“Eh,  tau tidak?  Ada lo,  pilem yang….mm  judulnya aku sudah lupa,  tapi kisahnya itu mirip-mirip kamu,”  Aries tiba-tiba usil.  Mimik wajahnya sok serius.
“Maksud kamu?”  Giman jadi penasaran.
“Ceritanya,  ada anak idiot tapi sekaligus jenius.  Nah,  kayak kamu itu,  tapi jeniusnya kalo kamu sih nggak ikutan.  Sudah pernah liat?”  Aries benar-benar tega,  tapi Giman menyimak.
“Belom.  Memang kenapa?”
“Yah,  itu kan sodara kamu,  Man”  Giman terpana dan tampak berfikir sejenak.
“Aku kok malah nggak tau  ya,  kalo punya sodara ngetop,  bintang pilem lagi,”  ujarnya kalem.  Giliran Aries yang nyengir.  Kadang-kadang ucap balik Giman malah nyodok juga.  Anak sebaik Giman memang tak pernah mengambil hati semua ejekan,  seburuk apapun itu.  Kasihan dikau Giman…..
Aries dan Giman kalo bertemu memang saling suka ribut.  Perbedaan yang menonjol dari keduanya yaitu kalau Aries sedikit oke.  Beda dengan Giman yang seperti cucian belom di setrika.  Ibarat dua kutub yang berbedabtapi ketemu di satu titik,  ributnya.  Listrik kali ya?
Hari Senin ada berita heboh di sekolah,  ada tambahan murid baru pindahan dari Surabaya.  Anaknya cantik dan oke banget,  wajahnya mirip-mirip Agnes Monica.  Benar-benar jadi Top news di seantero sekolah.
Di bawah pohon,  kumpulan anak-anak gaul sekolah tak lain sedang membahas si warga baru.
“Aku yakin,  bisa menarik perhatian dia,”  ujar Roy  mantap,  si playboy cap sekolahan.
“Kenapa cuma menarik perhatian?  Memang kamu nggak berani jadi pacar dia?”  sindir Oni yang bertampang cakep kalo dilihat dari kilometer sepuluh.
“Tenang,  itu kan baru awalnya.  Kita lihat saja nanti,”  lanjut Roy penuh percaya diri.
“Aku juga bisa”  tiba-tiba Axel juga unjuk gigi.  Yang lain hanya ketawa-ketiwi,  padahal mereka semua memiliki ambisi yang nggak jauh beda,  tentu saja kecuali Giman,  mungkin.
“Kalian ko nggak capek-capeknya ganggui cewek?”  Giman yang dari tadi cuman diam,  tiba-tiba ngasih kritik lombok bernada wejangan,  yang kemudian di sambut gelak tawa anak-anak.
“Kamu sendiri,  berani nggak Man?”  goda Roy.
“Kalo aku sih,  nggak pengen aja,”  lagaknya sok diplomatis.
“Nggak pengen,  apa nggak bisa?”  sindir Axel.  Semua kembali ngakak sementara ia meringis kgas Giman sambil garuk-garu kepala.
Seminggu kemudian,  ternyata Roy membuktikan ucapannya.  Ia berhasil mendekati Fia.  Apalagi Fia sangat menyenangkan dan supel.  Ia ramah kepada siapa saja.  Tak heran bila kehadirannya,  membuat semua makhluk yang bernama cowok ingin berkenalan dengannya.  Tentu saja cewek-cewek di zona sekolahan cukup blingsatan senewen.  Apalagi kalau tau salah satu pengagum Fia adalah pacar mereka.
“Awas kamu,  kalau berani macem-macem!”  ancam Frisca pada Axel suatu hari,  ketika secara tak sengaja melihat dari kejauhan menyaksikan Axel menawari Fia boncengan,  tapi Fia menolaknya,  karena ia sudah di jemput oleh Papanya.
“Aduh,  Fris,  kamu terlalu berlebihan.  Kalau aku seperti itu,  kan sudah dari dulu-dulu,”   ujarnya  membela diri.  Untung saja Frisca mau percaya sehingga ffhh….ia bisa bernafas lega kembali.
Sementara Roy merasa santai saja,  karena pacarnya di sekolah lain.  Sayang hal itu tak bertahan lama.  Ternyata gosip lebih cepat menyebar dan tercium oleh Sandra.  Bahkan kemudian Sandra nekat nelpon Fia yang sama sekali tak mengerti masalahnya.  Fia hanya tersenyum kecut mendengarkan ucapan Sandra yang memintanya untuk segera menjauhi Roy.  Nada suaranya sangat tak bersahabat di telepon.
Setelah terjadi beberapa peristiwa yang tidak mengenakkan,  akhirnya Fia mencoba menghindar dari semuanya,  hingga suasana benar-benar kembali normal.  Tak ada lagi ribut-ribut.  Fia pun telah melupankannya dengan ikhlas,  karena ia bisa memaklumi semuanya.

***
            Hari itu di bawah pohon Akasia,  Fia Nampak duduk dengan Giman.  Aries yang melihatnya dari kejauhan cuma bias tersenyum,  tumben anak itu berani ngobrol dengan Fia,  justru pada saat semua mulai menjaga jarak.  Ternyata anak-anak cowok yang lain juga melihatnya,   cuma saja mereka sungkan untuk mendekat.  Akhirnya mereka memilih tempat kongko yang lainnya.
“Kenapa ya Man,  semua cowok itu hampir sama?”  keluh Fia pada Giman seolah ia yakin Giman bisa menjawabnya.  Giman Cuma nyengir.
“Kamu ada masalah apa dengan cowok kamu?”  Tanya Giman mencoba berempati.  Fia membalasnya dengan sebuah senyuman tipis.   Ia menarik nafas sejenak.
“Nggak.  Nggak ada.  Cuma kadang aku heran,  kenapa cowok itu suka melakukan sesuatu yang bisa menyakiti perasaan ceweknya,”  aAlis Giman terangkat menyimak perkataan Fia tapi tak berkomentar.
“Kamu tau?”  lanjut Fia kemudian,  “Beberapa kali aku mendapat teror cewek-cewek yang merasa terancam hubungannya dengan kehadiranku.  Padahal aku sama sekali tak berbuat apa pun kan?”  ujarnya pelan,  sementara wajahnya tampak sedih.
“Siapa?”  Giman mencoba serius.  Fia hanya mengangkat bahunya sambil menoleh dan sekilas mengamati wajah Giman.
“Kamu sendiri tau,  di sini aku baru sebulan kemaren.  Aku sebenarnya bahkan belum terlalu mengenalmu?”  ada senyum tipis yang mengembang di bibirnya yang tipis.  Giman manggut-manggut maklum.
“Tapi,  satu hal yang aku tau,  kamu orangnya cukup menyenangkan dan lucu,”  kali ini gadis itu berbicara lebar.  Giman Cuma cengengesan.
“Sebetulnya enggak juga.  Cuma semua selalu menganggap ucapanku adalah hal yang lucu.  Tapi it’s oke ajalah,”  jawabnya santai membuat Fia terkikih.  Ia pun tahu kalau kata-kata Giman memang banyak yang tak sempurna setiap kali bicara,  untungnya Giman cukup pintar untuk mengalihkan mengalihkan kalimat yang menjurus ke arah itu.  Ia lebih sering mengatakan  “Sebetulnya……”  daripada “Sebenarnya…”,  atau “Kamu benar….”  menjadi  “Kamu tidak salah…”  dan masih banyak yang lainnya.  Dia memang memiliki perbendaharaan kalimat khusus untuk menyelamatkan dirinya dari kelemahannya.  Dipikir-pikir ternyata Giman cukup cerdas juga.
Sejak saat itu,  ia lebih sering terlihat ngobrol berdua dengan Fia.  Apalagi Fia sangat senang dengan tingkah Giman yang selalu dan super apa adanya.  Dia bukan bodoh,  Cuma selalu tak mau tau,  dan cueknya minta ampun,  sehingga selalu ketinggalan informasi,  tapi soal setia kawan,  dialah orang yang nomor satu .
“Man,  seminggu lagi,  aku akan pindah,”  ujar Fia tiba-tiba.  Berita itu cukup membuatnya terkejut.
“Kemana Fi?”
“Aku akan ikut Papa dan Mamaku pindah ke Makassar.”
“Tapi,  kamu kam belum lama di sini Fi?”  Giman nampak tak rela.
“Iya,  tapi aku tak bisa apa-apa,”  tangannya menarik-narik rumput di ujung sepatunya.
“Kamu pasti akan lupa sama aku ya Man?”  ujar Fia kemudian sambil bercanda.
“Aku??  ops…tidak mungkin.  Tak ada dalam kamus Giman melupakan teman.  Biasanya malah sebaliknya.”  Fia terbahak mendengar pengakuan Giman.  Ia benar-benar lucu.
Fia merasakan tenang bila mengobrol dengan Giman.  Selain Giman selalu memiliki banyak cerita,  dia juga netral.  Apalagi tak punya pacar,  sehingga Fia tak merasa kuatir akan menerima teror.  Lagi pula selama ini tak ada yang merasa akan kehilangan seorang Giman.  Kasiaaann….
“Gimana kalo sekarang aku traktir kamu, Man?”  tawar Fia.
“Aku ?  ah nggak usah,  nggak usah,”  jawabnya setengah malu-malu.
“Nggak pa-pa deh.  Aku seneng kalo kamu mau terima tawaranku.”
“Maksudku,  nggak usah ditunda gitu,”  balasnya cepat membuat Fia tak dapat menahan tawanya lagi.  Giman memang tak pernah mau menikmati segalanya sendiri.  Karena idenya,  semua teman-teman yang lain juga mendapat jatah traktiran.
Seminggu kemudian,  Fia benar-benar pergi.  Dan dibawah pohon akasia,  seperti biasa anak-anak cowok kembali berkumpul.
“Ngomong-ngomong,  kamu cerita apa saja sih Man,  kalo lagi sama Fia ?”  Axel memancing pembicaraan Giman yang hari ini agak pendiem.
“Ngomong apa?  Biasa saja,  kayak kalian,”  sahutnya enteng sambil tidur-tiduran di atas rumput.
“Fia ngasih apa ke kamu sebelum pergi?”  sela Roy menggodanya.
“Nggak ada.  Aduh,  aku kok pengen makan bakso ya,”  ia hendak beringsut.
“Eit,  jangan berkelit.”  Toni segera menahan langkahnya yang hendak pergi.  Mereka benar-benar penasaran ingin mengorek berita sekaligus mengerjai Giman rupanya.
“Nggak ada!”  tangannya mencoba menepis tangan Toni.  Tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari saku bajunya tanpa sengaja.  Ternyata sebuah pin bergambar mawar,  dan didalamnya tertulis manis : untukmu.  Semua terkesima.
“Gila Man!  Kalian pacaran?”  Axel nyaris tak percaya Giman memiliki benda milik Fia.  Ia masih ingat,  Fia selalu mengenakannya,  bahkan ia pernah memintanya,  tapi Fia tak mau memberikannya.  Alasan Fia,  itu adalah dari seseorang.  Sementara Giman cuma cengengesan membuat yang lain semakin penasaran.
“Enggak.  Aku nggak tega,  dia begitu hebat kalo buat aku,”  ujarnya merendah.  Ia merasa kurang enak melihat reaksi teman-temannya.
“Yakin aja dech,  aku masih belum pengen kayak kalian,”  Ia mencoba meyakinkan semuanya.
“Jadi,  kamu menolak cinta dia?”  Roy membelalak tak percaya.  Giman membalasnya dengan sebuah senyum yang tidak jelas.
“Hai guys,  tenang…..,  Aku masih Giman yang dulu,  oke?”  tangannya terangkat seolah sedang menenangkan para demonstran.
“Lagian,  aku bukan saingan yang pantas buat kalian kan?”  lanjutnya kalem.
“Kamu mau buat sensasi dengan nolak dia,  ya Man?”  Aries sedikit protes dengan ‘penghianatan’  Giman.
“Sudahlah.  Aku sudah bilang kalo semua masih sama dengan yang dulu,  oke?”  Eh,  ngomong-ngomong,  sensasi itu apa sih?”  dua detik kemudian hamper semua jitakan melayang di kepalanya.  Giman lalu berlari sambil meringis sebeluam ia semakin bonyok dokeroyok teman-temannya.  Ucapannya yang terakhir benar-benar membuat semua tak bisa menahan tawa,  tawa yang mengandung kekalahan.  Sementara Giman menghilang dengan santainya menuju kantin.
Giman tak pernah tahu kalau semua temannya masih menyimpan harapan terhadap Fia,  tapi kemudian patah,  apalagi Fia benar-benar pergi.  Dan hanya Giman yang tahu apa sebenarnya yang terjadi,  walau ia kelihatan tak mau tahu atau…..tak mau memberi tahu?
Yg pasti pin mawar itu saksi kuncinya...***  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar