Giman bukan anak yang paling top di
sekolah. Bukan anak orang kaya, juga bukan anak yang bertampang paling cakep
atau paling pintar. Dia hanya seorang
anak yang paling cuek plus santai tapi penuh percaya diri, dan tercatat sebagai salah satu pemilik nama
yang tergolong cukup antik.
Dia tidak pemilih dalam
berteman, meski bukan yang terpilih oleh
teman-temannya. Giman sosok yang selalu
tampil apa adanya. Kelebihannya adalah
karena dia memiliki rasa solidaritas yang sangat tinggi kepada siapa saja, tanpa kecuali, anaknya juga easy going.
Seperti hari ini ia tampak
tergesa-gesa mendatangi salah satu teman kelasnya yang bernama Aries.
“Yes!
Yes! Kamu dicari Pak Gunadi. Tugas matematikamu yang lalu belom masuk,” ucapannya sedikit ngos-ngosan kepada Aries
yang lagi asyik membaca komik Donald
bebek.
“Hoi,
Yes!” mulutnya didekatkan tepat
di depan kuping Aries yang masih tidak peduli padanya, sampe-sampe kuping Aries jadi pekak.
“Alah, kamu Man,
Man. Yas-Yes, Yas-Yes.
Iya aku dengar!” Aries lalu
kembali cuek dan melanjutkan bacaannya.
Ia tak peduli dengan peringatan Giman,
karena baru saja lima menit yang lalu,
Nuni juga mengatakan hal yang sama.
Katanya tugas Aries hilang, yang
sebenarnya dia sendiri belum pernah buat,
jadi ia harus membuat ulang.
“Yes,
Yes, waktunya tinggal hari
ini,” tegas Giman lagi penasaran. Aries tetap tenang-tenang saja, karena sebenarnya tadi ia sudah pesan
sekalian kepada Nuni untuk membuatkan tugas itu dan untung saja Nuni tak
keberatan melakukannya. Dia Cuma malas
menjelaskan sama Giman, tapi Giman tetap
ribut.
“Eh,
namaku Aries. A-er-i-e-s, bukan ‘Yes’ . Lagian tugasku sudah kelar, kamu saja yang telat,” jelas Aries lalu kembali asyik dengan
bacaannya sambil sesekali terpingkal-pingkal sendiri.
Giman nyengir dan mesem saja saat
Aries mengejeknya. Mau apa lagi, memang lidah cedal dari sononya. Ia tak pernah bias mengucapkan satu huruf ‘R’
yang baginya cukup mengerikan itu.
Untung saja dia orang yang super cuek.
Sudah biasa…..
“Baca apaan sih?” Giman malah balik bertanya, dahi Aries berkerut.
“Ini?
Kue,semacam…..kue, yang bisa di
taruh di jidat kamu, trus masuk ke otak kamu, lalu nyumpel pikiran kamu,” jelas Ariea yang asal.
“Oo…jadi ini semacam virus ya?” Giman manggut-manggut tanpa dosa.
“Bener! Bener sekali!
Virus itu buat orang bego seperti kamu yang kurang info!”
“Wadow!!” Giman menjerit karena Aries menimpuknya
dengan buku Donal bebek yang baru saja selesai
di bacanya.
“Makanya, baca!baca!
nyari tau sesekali. Masak
seumur uban, kamu
belum juga kenal sama Donal !
Gue heran, keren-keren
begini kok aku bisa juga temenan sama
kamu ya?” ujar Aries sok hebat, Giman sekali lagi nyengir.
“Eh,
tau tidak? Ada lo, pilem yang….mm judulnya aku sudah lupa, tapi kisahnya itu mirip-mirip kamu,” Aries tiba-tiba usil. Mimik wajahnya sok serius.
“Maksud kamu?” Giman jadi penasaran.
“Ceritanya, ada anak idiot tapi sekaligus jenius. Nah,
kayak kamu itu, tapi jeniusnya
kalo kamu sih nggak ikutan. Sudah pernah
liat?” Aries benar-benar tega, tapi Giman menyimak.
“Belom. Memang kenapa?”
“Yah,
itu kan sodara kamu, Man” Giman terpana dan tampak berfikir sejenak.
“Aku kok malah nggak tau ya,
kalo punya sodara ngetop, bintang
pilem lagi,” ujarnya kalem. Giliran Aries yang nyengir. Kadang-kadang ucap balik Giman malah nyodok
juga. Anak sebaik Giman memang tak
pernah mengambil hati semua ejekan,
seburuk apapun itu. Kasihan dikau
Giman…..
Aries dan Giman kalo bertemu memang
saling suka ribut. Perbedaan yang
menonjol dari keduanya yaitu kalau Aries sedikit oke. Beda dengan Giman yang seperti cucian belom
di setrika. Ibarat dua kutub yang
berbedabtapi ketemu di satu titik,
ributnya. Listrik kali ya?
Hari Senin ada berita heboh di
sekolah, ada tambahan murid baru
pindahan dari Surabaya. Anaknya cantik
dan oke banget, wajahnya mirip-mirip
Agnes Monica. Benar-benar jadi Top news di seantero sekolah.
Di bawah pohon, kumpulan anak-anak gaul sekolah tak lain
sedang membahas si warga baru.
“Aku yakin, bisa menarik perhatian dia,” ujar Roy
mantap, si playboy cap sekolahan.
“Kenapa cuma menarik perhatian? Memang kamu nggak berani jadi pacar
dia?” sindir Oni yang bertampang cakep
kalo dilihat dari kilometer sepuluh.
“Tenang, itu kan baru awalnya. Kita lihat saja nanti,” lanjut Roy penuh percaya diri.
“Aku juga bisa” tiba-tiba Axel juga unjuk gigi. Yang lain hanya ketawa-ketiwi, padahal mereka semua memiliki ambisi yang
nggak jauh beda, tentu saja kecuali
Giman, mungkin.
“Kalian ko nggak capek-capeknya
ganggui cewek?” Giman yang dari tadi
cuman diam, tiba-tiba ngasih kritik lombok
bernada wejangan, yang kemudian di
sambut gelak tawa anak-anak.
“Kamu sendiri, berani nggak Man?” goda Roy.
“Kalo aku sih, nggak pengen aja,” lagaknya sok diplomatis.
“Nggak pengen, apa nggak bisa?” sindir Axel.
Semua kembali ngakak sementara ia meringis kgas Giman sambil garuk-garu
kepala.
Seminggu kemudian, ternyata Roy membuktikan ucapannya. Ia berhasil mendekati Fia. Apalagi Fia sangat menyenangkan dan
supel. Ia ramah kepada siapa saja. Tak heran bila kehadirannya, membuat semua makhluk yang bernama cowok
ingin berkenalan dengannya. Tentu saja
cewek-cewek di zona sekolahan cukup blingsatan senewen. Apalagi kalau tau salah satu pengagum Fia
adalah pacar mereka.
“Awas kamu, kalau berani macem-macem!” ancam Frisca pada Axel suatu hari, ketika secara tak sengaja melihat dari
kejauhan menyaksikan Axel menawari Fia boncengan, tapi Fia menolaknya, karena ia sudah di jemput oleh Papanya.
“Aduh, Fris,
kamu terlalu berlebihan. Kalau
aku seperti itu, kan sudah dari
dulu-dulu,” ujarnya membela diri.
Untung saja Frisca mau percaya sehingga ffhh….ia bisa bernafas lega
kembali.
Sementara Roy merasa santai
saja, karena pacarnya di sekolah
lain. Sayang hal itu tak bertahan
lama. Ternyata gosip lebih cepat
menyebar dan tercium oleh Sandra. Bahkan
kemudian Sandra nekat nelpon Fia yang sama sekali tak mengerti masalahnya. Fia hanya tersenyum kecut mendengarkan ucapan
Sandra yang memintanya untuk segera menjauhi Roy. Nada suaranya sangat tak bersahabat di
telepon.
Setelah terjadi beberapa peristiwa
yang tidak mengenakkan, akhirnya Fia
mencoba menghindar dari semuanya, hingga
suasana benar-benar kembali normal. Tak
ada lagi ribut-ribut. Fia pun telah
melupankannya dengan ikhlas, karena ia
bisa memaklumi semuanya.
***
Hari itu di
bawah pohon Akasia, Fia Nampak duduk
dengan Giman. Aries yang melihatnya dari
kejauhan cuma bias tersenyum, tumben
anak itu berani ngobrol dengan Fia,
justru pada saat semua mulai menjaga jarak. Ternyata anak-anak cowok yang lain juga
melihatnya, cuma saja mereka sungkan
untuk mendekat. Akhirnya mereka memilih
tempat kongko yang lainnya.
“Kenapa ya Man, semua cowok itu hampir sama?” keluh Fia pada Giman seolah ia yakin Giman
bisa menjawabnya. Giman Cuma nyengir.
“Kamu ada masalah apa dengan cowok
kamu?” Tanya Giman mencoba berempati. Fia membalasnya dengan sebuah senyuman tipis. Ia menarik nafas sejenak.
“Nggak. Nggak ada.
Cuma kadang aku heran, kenapa
cowok itu suka melakukan sesuatu yang bisa menyakiti perasaan ceweknya,” aAlis Giman terangkat menyimak perkataan Fia
tapi tak berkomentar.
“Kamu tau?” lanjut Fia kemudian, “Beberapa kali aku mendapat teror cewek-cewek
yang merasa terancam hubungannya dengan kehadiranku. Padahal aku sama sekali tak berbuat apa pun
kan?” ujarnya pelan, sementara wajahnya tampak sedih.
“Siapa?” Giman mencoba serius. Fia hanya mengangkat bahunya sambil menoleh
dan sekilas mengamati wajah Giman.
“Kamu sendiri tau, di sini aku baru sebulan kemaren. Aku sebenarnya bahkan belum terlalu
mengenalmu?” ada senyum tipis yang
mengembang di bibirnya yang tipis. Giman
manggut-manggut maklum.
“Tapi, satu hal yang aku tau, kamu orangnya cukup menyenangkan dan lucu,” kali ini gadis itu berbicara lebar. Giman Cuma cengengesan.
“Sebetulnya enggak juga. Cuma semua selalu menganggap ucapanku adalah
hal yang lucu. Tapi it’s oke
ajalah,” jawabnya santai membuat Fia
terkikih. Ia pun tahu kalau kata-kata
Giman memang banyak yang tak sempurna setiap kali bicara, untungnya Giman cukup pintar untuk
mengalihkan mengalihkan kalimat yang menjurus ke arah itu. Ia lebih sering mengatakan “Sebetulnya……” daripada “Sebenarnya…”, atau “Kamu benar….” menjadi
“Kamu tidak salah…” dan masih
banyak yang lainnya. Dia memang memiliki
perbendaharaan kalimat khusus untuk menyelamatkan dirinya dari
kelemahannya. Dipikir-pikir ternyata
Giman cukup cerdas juga.
Sejak saat itu, ia lebih sering terlihat ngobrol berdua
dengan Fia. Apalagi Fia sangat senang
dengan tingkah Giman yang selalu dan super apa adanya. Dia bukan bodoh, Cuma selalu tak mau tau, dan cueknya minta ampun, sehingga selalu ketinggalan informasi, tapi soal setia kawan, dialah orang yang nomor satu .
“Man,
seminggu lagi, aku akan
pindah,” ujar Fia tiba-tiba. Berita itu cukup membuatnya terkejut.
“Kemana Fi?”
“Aku akan ikut Papa dan Mamaku pindah
ke Makassar.”
“Tapi, kamu kam belum lama di sini Fi?” Giman nampak tak rela.
“Iya,
tapi aku tak bisa apa-apa,”
tangannya menarik-narik rumput di ujung sepatunya.
“Kamu pasti akan lupa sama aku ya
Man?” ujar Fia kemudian sambil bercanda.
“Aku?? ops…tidak mungkin. Tak ada dalam kamus Giman melupakan
teman. Biasanya malah sebaliknya.” Fia terbahak mendengar pengakuan Giman. Ia benar-benar lucu.
Fia merasakan tenang bila mengobrol
dengan Giman. Selain Giman selalu
memiliki banyak cerita, dia juga
netral. Apalagi tak punya pacar, sehingga Fia tak merasa kuatir akan menerima
teror. Lagi pula selama ini tak ada yang
merasa akan kehilangan seorang Giman.
Kasiaaann….
“Gimana kalo sekarang aku traktir
kamu, Man?” tawar Fia.
“Aku ? ah nggak usah, nggak usah,”
jawabnya setengah malu-malu.
“Nggak pa-pa deh. Aku seneng kalo kamu mau terima tawaranku.”
“Maksudku, nggak usah ditunda gitu,” balasnya cepat membuat Fia tak dapat menahan
tawanya lagi. Giman memang tak pernah
mau menikmati segalanya sendiri. Karena
idenya, semua teman-teman yang lain juga
mendapat jatah traktiran.
Seminggu kemudian, Fia benar-benar pergi. Dan dibawah pohon akasia, seperti biasa anak-anak cowok kembali
berkumpul.
“Ngomong-ngomong, kamu cerita apa saja sih Man, kalo lagi sama Fia ?” Axel memancing pembicaraan Giman yang hari
ini agak pendiem.
“Ngomong apa? Biasa saja,
kayak kalian,” sahutnya enteng
sambil tidur-tiduran di atas rumput.
“Fia ngasih apa ke kamu sebelum
pergi?” sela Roy menggodanya.
“Nggak ada. Aduh,
aku kok pengen makan bakso ya,”
ia hendak beringsut.
“Eit,
jangan berkelit.” Toni segera
menahan langkahnya yang hendak pergi.
Mereka benar-benar penasaran ingin mengorek berita sekaligus mengerjai
Giman rupanya.
“Nggak ada!” tangannya mencoba menepis tangan Toni. Tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari saku
bajunya tanpa sengaja. Ternyata sebuah
pin bergambar mawar, dan didalamnya
tertulis manis : untukmu. Semua terkesima.
“Gila Man! Kalian pacaran?” Axel nyaris tak percaya Giman memiliki benda
milik Fia. Ia masih ingat, Fia selalu mengenakannya, bahkan ia pernah memintanya, tapi Fia tak mau memberikannya. Alasan Fia,
itu adalah dari seseorang.
Sementara Giman cuma cengengesan membuat yang lain semakin penasaran.
“Enggak. Aku nggak tega, dia begitu hebat kalo buat aku,” ujarnya merendah. Ia merasa kurang enak melihat reaksi
teman-temannya.
“Yakin aja dech, aku masih belum pengen kayak kalian,” Ia mencoba meyakinkan semuanya.
“Jadi, kamu menolak cinta dia?” Roy membelalak tak percaya. Giman membalasnya dengan sebuah senyum yang
tidak jelas.
“Hai guys, tenang…..,
Aku masih Giman yang dulu,
oke?” tangannya terangkat seolah
sedang menenangkan para demonstran.
“Lagian, aku bukan saingan yang pantas buat kalian
kan?” lanjutnya kalem.
“Kamu mau buat sensasi dengan nolak
dia, ya Man?” Aries sedikit protes dengan
‘penghianatan’ Giman.
“Sudahlah. Aku sudah bilang kalo semua masih sama dengan
yang dulu, oke?” Eh,
ngomong-ngomong, sensasi itu apa
sih?” dua detik kemudian hamper semua
jitakan melayang di kepalanya. Giman
lalu berlari sambil meringis sebeluam ia semakin bonyok dokeroyok
teman-temannya. Ucapannya yang terakhir
benar-benar membuat semua tak bisa menahan tawa, tawa yang mengandung kekalahan. Sementara Giman menghilang dengan santainya
menuju kantin.
Giman tak pernah tahu kalau semua
temannya masih menyimpan harapan terhadap Fia,
tapi kemudian patah, apalagi Fia
benar-benar pergi. Dan hanya Giman yang
tahu apa sebenarnya yang terjadi, walau
ia kelihatan tak mau tahu atau…..tak mau memberi tahu?
Yg pasti pin
mawar itu saksi kuncinya...***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar